“Mengapa Bapak tidak mau bertemu dengan Habibie?”. Tanya Retnowati Abdulgani Knapp, penulis buku : Soeharto – The Life And Legacy Of Indonesia’s Second President. Pak Harto tersenyum kecil sambil jari telunjuknya menunjuk keatas. Maksudnya nanti di akhirat saja. “Kalau salah satu sudah tidak ada apa akan pakai internet,?” jeletuk Retnowati. Kembali Pak Harto tersenyum tanpa kata memandang Retnowati.
Terbukti, hingga Pak Harto wafat, 27 Januari 2008, tidak pernah ada pertemuan diantara keduanya sejak dari Pak Harto menyatakan berhenti sebagai presiden pada Kamis Legi 21 Mei 1998, pukul 09.10.
Pak Harto adalah seorang yang teguh dalam pendirian. Tak mudah mengangguk, tak mudah menggeleng. Senyumnya yang selalu berirama sama, tenang dan penuh arti, simbol bahwa beliau adalah seorang pemikir yang handal.
“Walau selalu tersenyum, wibawa yang sulit diungkap dengan kata-kata terpancar dari pribadi Pak Harto,” ujar pengusaha Peter Gontha. Lebih jauh mengenai karakter Pak Harto ditulis oleh Pak Probo dibuku - Saya dan Mas Harto: “Hanya sedikit saja di antara mereka, atau bahkan tidak ada sama sekali, yang mendapatkan bahan paling valid yang diperlukan untuk menuliskan hal yang benar mengenai Mas Harto, yakni getar perasaan Mas Harto. Ya, getar perasaannya yang paling murni. Sesuatu yang memang dia kubur untuk dirinya sendiri.”
Ketidakmauan Pak Harto bertemu dengan Habibie – bekas pembantunya yang paling dipercaya, menjadi menteri selama 20 tahun hingga dipercaya menjadi wakil presiden, jawabannya adalah seperti yang diungkap oleh Pak Probo – “getar perasaannya yang paling murni – sesuatu yang memang dia kubur untuk dirinya sendiri”.
Pada tahun 1950, Letnan Kolonel Soeharto sebagai Komandan Brigade Mataram/Divisi III Jawa Tengah mendapat tugas menumpas pemberontakan Andi Azis di Sulawesi Selatan. Markas Brigade Mataram di Makassar berseberangan dengan rumah Aluwi Abdul Jalil Habibie. Istrinya, Tuti Marini Puspowardoyo berasal dari Yogyakarta, hingga obrolan dalam bahasa Jawa merupakan hiburan tersendiri bagi pasukan Brigade Mataram pada saat bertandang ke rumah keluarga Habibie.
Hubungan anggota Brigade Mataram bertambah erat lagi dengan keluarga Habibie disebabkan seorang perwira brigade Mataram yang menjalin cinta dengan seorang putri Habibie. Kapten Subono kawin dengan kakak Burhanuddin Jusuf (BJ) Habibie. Pak Harto sebagai Komandan Brigade “besanan” dengan keluarga Habibie.
Hingga satu malam, setelah Isya, dua anak Habibie datang ke Markas Brigade dengan tangis mengharukan. Mereka memberi tahu ayahnya sakit keras. Bergegas Pak Harto bersama dokter Irsan (dokter Brigade) datang ke rumah Habibie memberi bantuan. Bapak Aluwi Abdul Jalil Habibie terkena serangan jantung pada saat sembahyang Isya dan tidak tertolong lagi. Almarhum menghembuskan nafas terakhir di hadapan Pak Harto dan keluarga Habibie. Pak Harto berkesempatan menutup kelopak mata almarhum sambil berdoa memohonkan ampun pada Tuhan Yang Maha Esa.
BJ Habibie yang baru berusia 13 tahun menangis disamping jenazah ayahnya. Pak Harto mengusap kepala BJ Habibie sambil berkata, “Bapakmu orang baik - ihklaskan kepergiannya.” Inilah pertemuan pertama antara Pak Harto dengan BJ Habibie.
Sepeninggal ayahnya, BJ Habibie melanjutkan sekolah ke Bandung, kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) selama 6 bulan, kemudian melanjutkan studinya ke Technische Hochschule, Aachen, Jerman Barat, dan berhasil memperoleh gelar “Diplom Ingenieur”, pada usia 22 tahun, dengan penilaian cum laude, angka rata-rata 9,5 untuk jurusan Konstruksi Pesawat Terbang, pada tahun 1960. Lima tahun kemudian BJ Habibie mendapat gelar “Doktor Ingenieur” dengan penilaian summa cum laude – dengan angka rata-rata 10 dari Technische Hochschule - Die Fakultaet fuer Maschinenwesen, Aachen, Jerman Barat. Empat puluh karya ilmiah dibuat oleh BJ Habibie hingga ia menyandang gelar Profesor.
Ia juga menelorkan Fungsi Habibie - menjadi bukti reputasi akademi yang luar biasa. Hingga ia mendapat julukan Mr. Crack karena menemukan rumus untuk menghitung kelelahan logam (crack propagation on random) sampai ke atom-atomnya.
BJ Habibie membuat disertasi yang fenomenal tentang pesawat terbang berkecepatan 7 kali kecepatan suara - Hypersonic Genatic Heatic Thermolasticity in Hypersonic Speed Mach 7. BJ
Habibie satu-satunya orang diluar warga Jerman yang mendapat kepercayaan mengetahui rahasia teknologi Jerman dan memperoleh kedudukan yang tinggi di negara itu sebagai Wakil Presiden merangkap Direktur Teknologi pabrik pesawat terbang, Messerschmitt Boerkow Blohm (MBB), Hamburg, Jerman Barat. Seabrek prestasi itu membuat BJ Habibie diangkat sebagai warga kehormatan Jerman Barat (kini Jerman)
Pada tahun 1961, Pak Harto bersama KSAD waktu itu, Jenderal Nasution, mengunjungi beberapa negara Eropa termasuk Jerman Barat. Di Jerman Barat Pak Harto bertemu dengan BJ Habibie yang sedang menyelesaikan program doktor.
Pertemuan kedua ini tentu sangat berkesan bagi BJ Habibie karena komandan resimen yang di kenalnya di Makassar inilah yang menutup kelopak mata ayahnya saat menghembuskan nafas terakhir. Letnan Kolonel Soeharto yang dikenalnya pada tahun 1950, sudah menyandang pangkat Brigadir Jenderal, sebagai Deputi I KSAD.
Dengan seabreg prestasi akademi dan karir pekerjaan yang cemerlang di Jerman Barat, menjadi alasan logis bagi Habibie untuk ikut membantu program pembangunan di bidang teknologi di Indonesia,dalam koridor Trilogi Pembangunan (Stabilitas – Pertumbuhan Pemerataan), untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur, sesuai dengan amanat pendiri bangsa.
Konsep pembangunan Pak Harto adalah menjadikan Indonesia negara Industri dengan didukung oleh pertanian yang tangguh. Pembangunan industri harus ditopang oleh teknologi – karenanya - menjadi patut, BJ Habibie – yang memiliki seabreg prestasi itu - dipilih oleh Pak Harto untuk mengembangkan bidang teknologi di Indonesia, menjelang milenium ke tiga.
Pak Harto mempercayakan kepada BJ .Sebagian besar kekuasaan BJ Habibie berasal dari hubungannya yang sangat dekat dan khusus dengan Pak Harto dibandingkan dengan pembantu-pembantu lainnya. Ia satu-satunya pejabat yang berani memanggil Presiden yang selalu tersenyum itu dengan panggilan oom, suatu panggilan hormat tapi tidak formal yang berarti ‘paman’ dalam bahasa Belanda.
Hubungan tersebut menyebabkan ia mendapatkan sejumlah kebebasan dibandingkan dengan ahli-ahli ekonomi di Kabinet dan Bapenas. Kebanyakan dari mereka lulusan Amerika (terstikma dengan julukan Mafia Berkeley), yang mengatur perekonomian Negara, dan umumnya mereka was-was akan proyek-proyek yang diajukan BJ Habibie, termasuk membuat pabrik pesawatterbang karena membutuhkan anggaran yang sangat besar.
Seorang teknokrat dari kelompok Mafia Berkeley yang duduk di kabinet - ketikA ditanya mengenai pabrik pesawat terbang yang dibuat BJ Habibie, menjawab ketus,“Apa yang istimewa tentang BJ Habibie? Kami memberikan dia uang untuk membuat pesawat-pesawat, kemudian kami pula yang membeli darinya.” Tentu belum pupus dari ingatan kita tentang pesawat terbang produk IPTN yang ditukar beras ketaoleh pemerintah Thailand. Sedang Lew Kuan Yew menjuluki Habibie sebagai, “hight technology and hight cost.”
Karir BJ Habibie di Indonesia bermula dari kunjungan Direktur Pertamina Dr. Ibnu Sutowo, pada akhir Desember 1973, ke Jerman Barat. Ibnu Sutowo mendatangi BJHabibie dan memintanya kembali ke Indonesia.Setelah di tanah air, sambil tetap memegang jabatannya di MBB, BJ Habibie menjadi Penasehat Direktur Utama Pertamina, kemudian memegang dua jabatan lagi, yaitu Kepala Divisi Advanced Technology Pertamina dan Teknologi Penerbangan.
Dua tahun kemudian dia menjadi Presiden Direktur Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN), yang kemudian berubah menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara, disebabkan keluarga Nurtanio mengklaim atau berkeratan nama Nurtanio dijadikan nama pabrik pesawat yang dibikin BJ Habibie.
Pada tanggal 4 Februari 1974, BJ Habibie diterima Pak Harto di kediaman jalan Cendana no 8. Hubungan keduanya bertambah akrab dengan pertemuan-pertemuan berikutnya. Dalam pertemuan-pertemuan itu, Pak Harto memberi petunjuk mengenai visi dan misi pembangunan Indonesia menuju tahap pembangunan tinggal landas atau pembangunan jangka panjang tahap II dimana pada era tersebut dibutuhkan keahlian teknologi tinggi.
Begitu banyak Pak Harto memberikan petenjuk dan masukan kepada BJ Habibie, hingga pada satu kesempatan ia mengungkapkan bahwa Pak Harto adalah guru politiknya. “Sudah puluhan tahun beliau mengajari saya, jika saja di lembaga pendidikan, Pak Harto sudah tiga kali menggondol gelar professor,” puji BJ Habibie.
Dalam pertemuan itu, BJ Habibie mempresentasikan betapa urgensi Indonesia memiliki industri pesawat terbang. Apa yang dikehendaki kemudian terwujud,Industri Pesawat Terbang Nurtanio, yang diharapkan dapat memberikan konstribusi dalam dunia terpenting dapat menyerap teknologi tinggi seperti yang dijanjikan oleh BJ Habibie,dan ini sesuai dengan program pembangunan Pak Harto menuju tahap tinggal landas,setelah melalui tahapan pembangunan jangka panjang tahap satu dua puluh lima tahun.
Divisikan oleh BJ Habibie satu hari kelak IPTN akan menjadi “Everret dari Timur. Everret adalah lokasi pabrik pesawat terbang Amerika, Boieng Co. Ia pun melobi pabrik pesawat terbang di dunia yang mau diajak bekerja sama. Ternyata yang berminat untuk pada tahun 1976, Pak Harto meresmikan industri pesawat terbang PT transportasi udara di Indonesia sebagai negara kepulauan dan yang hanya Construcciones Aeronauticas SA - CASA, Spanyol. Melalu program lisensi, dirakitlah pesawat Aviocar CASA-212 hingga tipe CN 235 dirakit di pabrik IPTN di Bandung.
Alih-alih melangkah ke industri lebih modern, CN 235 makin menua dari segi desain, sementara CASA sudah membuat versi modern pesawat ini, yakni C-295. Selanjutnya IPTN merekayasa dengan teknologi baru mewujudkan pesawat tipe N-250, uji terbang pesawat ini dilakukan pada 15 Agustus 1995. Pesawat ini menghabiskan biaya riset dan rekayasa jutaan dolar, termasuk memakai dana reboisasi hutan, tapi kini teronggok menjadi besi tua.
Begitu khusus perhatian Pak Harto kepada BJ Habibie hingga hari uji terbang pesawat N-250 15 Agustus ditetapkan sebagai “Hari Teknologi Nasional.”
Dalam percakapan penulis dengan seorang pegawai Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), yang memperoleh bea siswa belajar ke Jerman Barat dalam program pendidikan BPPT,kini hengkang dari BPPT-piawai dalam meyakinkan orang lain tentang gagasannya, akan tetapi tidak memiliki kemampuan managemen untuk melaksanakan gagasan tersebut.
Habibie adalah sales man yang prima”, jelas mantan penerima bea siswa BPPT itu. Puluhan tahun silam, pada saat penulis kuliah di FEUI, tahun 1973, dosen Pengantar Ekonomi Makro,DR. Sri Edi Swasono, yang juga petinggi di Bapenas mengatakan: “Ada seorang Insinyur dari Jerman yang berkehendak membuat pabrik kapal terbang.
Negara kita bikin rantai sepeda saja belum bisa, kok mau buat pabrik pesawat terbang!” Kemudian, jauh hari kedepan, baru penulis ketahui yang dimaksud Sri Edi adalah BJ Habibie. Dibandingkan dengan Jepang yang telah berjaya membuat pesawat terbang sebelum perang dunia kedua yang berarti sudah sangat mumpuni dalam teknologi pesawat terbang, akan tetapi setelah kalah dalam perang dunia kedua, tidak lagi
membangun industri pesawat terbang di negaranya, karena industri ini sudah menjadi oligopoli antara Amerika dengan pabrik Boeing Co. dan Eropa.
Sebagai contoh kuatnya oligopoli tersebut adalah, pabrik pesawat terbang di Belanda, Fokker, gulung tikar. Begitu pula nasib IPTN yang sudah berubah nama menjadi PT Dirgantara Indonesia, sekarang mengalami krisis keuangan yang sangat serius sehingga merumahkan ribuan pegawainya. Demonstrasi ribuan pegawai PT Dirgantara Indonesia menuntut pesangon karena dirumahkan, menjadi pemandangan berkali-kali di Jakarta, menegaskan bahwa gagasan BJ Habibie membuat industri pesawat terbang di Indonesia hanya berbuah kebrangkutan alias pepesan kosong.hingga mencapai gelar Doktor Ingenieur. – tapi dan bekerja di Jerman.
Sepuluh tahun kemudian setelah Pak Harto menerima Habibie di kediaman, pada 4 Februari 1984, pukul 20.00, Pak Harto menerima BJ Habibie di jalan Cendana no 8, di ruang tamu dan jam yang sama. Pada kesempatan itu Pak Harto memberikan kepada BJ Habibie potret diri Pak Harto memakai Blangkon Bertuliskan: Tansah – Percoyo.
Mituhu marang Kang Murbo Ing Dumadi iku dadi oboring hurip kang becik (Selalu ingat – Percaya, patuh/taat kepada yang mencipta semua yang ada itu jadi obornya hidup yang baik/baik menuju kesempurnaan).
Kesempatan yang diberikan oleh Pak Harto kepada BJ Habibie dalam memperingati 10 tahun pertemuan mereka di tempat, jam, tanggal dan bulan yang sama, sebagi bukti atensi Pak Harto kepada BJ Habibie.
Ia juga memiliki previlige untuk bertemu Pak Harto, ajudan presiden sudah mengetahui bahwa pertemuan itu sering melebihi waktu yang ditentukan, karenanya, pertemuan diatur dengan cara BJ Habibie menjadi tamu yang terakhir presiden karena pembicaraan mereka memakan waktu ber jam-jam, malah sering BJ Habibie menemani Pak Harto makan malam.
Pada bulan Maret 1978, BJ Habibie ditunjuk sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi, menggantikan begawan ekonomi Prof. DR. Sumitro Joyohadikusumo. Jabatan ini disandangnya selama 20 tahun, sampai tahun 1998.
Ia adalah menteri yang paling lama memangku jabatannya, disusul Harmoko yang menjadi menteri penerangan selama 14 tahun dilanjutkan sebagai menteri urusan khusus selama 1 tahun. Pada tahun 1991, atas restu Pak Harto, BJ Habibie mendirikan Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), organisasi sekterian yang kemudian malah menjadi duri bagi Pak Harto.
Selain itu, BJ Habibie ditunjuk sebagai Ketua Harian Dewan Pembina Golkar, sedang Pak Harto sebagai Ketua Dewan Pembina. Jabatan yang sangat strategis dalam bidang politik karena BJ Habibie sebagai langsung jalannya roda organisasi Golkar yang terdiri dari jalur ABG (ABRI, Birokrasi dan Golkar yang terdiri dari KINO-KINO).
Dapat dilihat disini betapa Pak Harto sudah mempersiapkan tokoh sipil untuk pimpinan nasional, sekaligus menepis konsep militerisasi seperti yang didengung-dengungkan oleh lawan politiknya pada waktu itu.
Sipilisasi dilakukan juga dengan menunjuk Harmoko menjadi Ketua Golkar. Jabatan yang sebelumnya selalu dipegang kebetulan kedua orang sipil yang di orbitkan oleh Pak Harto ini, kemudian menikamnya.
Menjelang Sidang Umum MPR tahun 1993, Pak Harto membentuk tim 11 untuk mengverifikasi siapa yang layak menduduki jabatan wakil presiden. BJ Habibie dipilih oleh 6 orang, selanjutnya Try Sutrisno, Susilo Sudarman. Baru saja sidang umum MPR dimulai, Ketua Fraksi ABRI Letnan Jenderal Harsudiono Hartas, mencetuskan dalam forum sidang MPR bahwa fraksi ABRI mencalonkan Try Sutrisno sebagai wakil presiden.
Cetusan Harsudiono Hartas membuyarkan hasil verifikasi tim 11 dan membuat fraksi-fraksi di MPR menjadi gamang. Untuk menjaga kekompakan apa yang dulu disebut Tri Fraksi (Fraksi Golkar, ABRI dan Utusan Daerah) - dua fraksi yakni fraksi Golkar dan fraksi Utusan Daerah membuat pernyataan bahwa kedua fraksi itu tidak memiliki calon tapi mendukung calon yang dicetuskan oleh fraksi ABRI.
Apa yang dikenal sebagai tri fraksi pecah. BJ Habibie yang sudah di gadhang-gadhang oleh tim 11gagal menjadi wakil presiden, dan Try Sutrisno, sesuai dengan usulan Hartas, terpilih menjadi wakil presiden periode 1993 – 1998.
Menjelang SU MPR 1998, ketua Golkar Harmoko – yang menyebut dirinya hari-hari omong sembako, bukan omong kosong - dengan lantang mengatakan, “saya sudah berkeliling Indonesia dan menyerap aspirasi rakyat bahwa kepemimpinan Pak Harto sebagai presiden masih dikehendaki oleh rakyat Indonesia.”
Pada 18 Mei 1998, 2 bulan 7 hari setelah Pak Harto dilantik sebagai presiden periode 1998 – 2003, 11 Maret 1998, dengan mimik muka tak berdosa Harmoko, sebagai Ketua DPR/MPR membuat pernyataan di gedung Nusantara 1, “agar Presiden Soeharto secara arif dan bijaksana sebaiknya mengundurkan diri.”
Berbeda dengan sebelumnya, untuk wakil presiden 1998-2003, tidak dibentuk tim verifikasi, akan tetapi Pak Harto memberikan kriteria. Kriteria ini menjurus kepada sosok BJ Habibie dan ia terpilih menjadi wakil presiden periode 1998-2003.
Sebelumnya, pada Juli 1997, terjadi krisis nilai tukar mata uang terhadap dolar Amerika di Thailand lalu merambat ke Korea Selatan, Malaysia, Philipina dan Indonesia. Korea Selatan dan Philipina meminta bantuan IMF dan dapat keluar dari krisis, Malaysia memberlakukan kurs tetap Ringgit Malaysia terhadap dolar Amerika dan Ringgit tidak diperdagangkan di luar Malaysia, sehingga tidak ada ruang bagi spekulan menggoyang Ringgit Malaysia.
Indonesia pada 31 Oktober 1997 meminta juga bantuan IMF, akan tetapi berbeda dengan Philipina dan Korea Selatan yang dapat mengatasi krisis mata uang negaranya atas bantuan IMF, sedang Indonesia malah tambah terpuruk akibat resep salah dari IMF yakni penutupan 16 bank pada 1 November 1997, yang mengakibatkan kepercayaan rakyat terhadap bank sirna dan terjadi rush - pengambilan uang dari bank secara masif. Berawal dari krisis moneter hingga berlanjut menjadi krisis multidimensi pada waktu BJ Habibie dilantik menjadi wakil presiden 10 Maret 1998.
Menjadi wakil presiden di periode itu merupakan bencana bagi BJ Habibie karena desakan mahasiswa dan beberapa tokoh yang menyebut dirinya reformis, menghendaki perubahan pemerintahan. Tapi juga merupakan keuntungan karena jika tuntutan mundur ditujukan pada Pak Harto, maka sesuai pasal 8 UUD 45, ia akan melanjutkan jabatan presiden hingga masa jabatan presiden terpilih selesai (2003).
Pada tanggal 9 Mei 1998, Pak Harto berangkat ke Cairo untuk menghadiri konferensi G 15. Sebelumnya, ditengah kesulitan hidup yang dihadapi rakyat akibat krisis multidimensi, IMF memaksa pemerintah melepas subsidi dengan menaikan harga BBM dan menaikan tarif dasar listrik secara gradual pada 4 Mei 1998.
Akibatnya, demonstrasi para mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat tambah bergemuruh.
Tanggal 12 Mei 1998, di depan kampus Trisakti terjadi demonstrasi mahasiswa yang berniat menuju gedung DPR/MPR. TNI dan Polri berhasil mencegah, akan tetapi empat mahasiswa Trisakti tertembak dan meninggal dunia. Peristiwa ini menjadi pemicu dan puncak kepanikan di masyarakat. Masyarakat mendadak seperti gelap mata.
Mereka tidak bisa lagi membedakan baik dan buruk, halal dan haram. Tiba-tiba rakyat menjadi orang yang sedang murka. Semua hasil pembangunan berpuluh tahun dirusak. Barang-barang yang ada di toko dan gudang dijarah. Jakarta dibuat membara. Di mana-mana terlihat api menyala disertai asap hitam yang membumbung tinggi keudara.
Pak Harto yang seharusnya dijaduwalkan kembali ke Indonesia tanggal 16 Mei, mempercepat kembali ke tanah air pada 15 Mei. Sementara BJ Habibie sebagai wakil presiden, sejak terjadinya kerusuhan di tanah air sampai Pak Harto kembali, tidak sekalipun melakukan rapat kabinet untuk mengatasi atau membicarakan kerusuhan yang terjadi.
Tidak ada usaha BJ Habibie bersama Menko Polkam dan Panglima ABRI untuk meredam kerusuhan sementara Pak Harto sedang berada di luar negri.
Seperti telah disebutkan diatas, pada 18 Mei 1998, ketua DPR/MPR Harmoko meminta Pak Harto secara arif dan bijaksana mengundurkan diri sebagai presiden. Keesokan harinya, tanpa ditemani wakil presiden, Pak Harto bertemu dengan 9 tokoh masyarakat dan dihasilkan kesepakatan untuk membentuk komite reformasi dan kabinet reformasi. Pada 20 Mei 1998, pukul 19.30,
Pak Harto menerima mantan Wapres Sudarmono di kediaman. Sudarmono yang empati pada keadaan saat itu, diajak Pak Harto membahas susunan Komite Reformasi dan Kabinet Reformasi karena semua itu akan di umumkan besok pagi. Pukul 20.00, BJ Habibie datang menemui Pak Harto. Mereka membicarakan situasi kritis termasuk mengenai 14 menteri yang akan mundur dari kabinet.
Pak Harto sudah mengetahui surat pengunduran diri 14 menteri itu akan tetapi belum membacanya. Sebelum pertemuan itu, Habibie menyatakan tidak sanggup menjadi pengganti Pak Harto jika beliau mundur, dan Pak
Harto mengeluarkan Keppres no. 16 yang memberikan kewenangan penuh kepada Pangab untuk melakukan tindakan apapun demi pengamanan pembangunan. Akan tetapi Pangab Jenderal Wiranto melipat dan mengkantongi Keppres itu dari pada melaksanakannya.
Setelah ada kabar tentang mundurnya 14 menteri, tiba-tiba BJ Habibie menyatakan dirinya siap dan sanggup menggantikan Pak Harto sebagai presiden.
Tidak sampai 24 jam, BJ Habibie yang sebelumnya mengatakan tidak sanggup, kemudian tiba-tiba dia menyatakan sanggup setelah 14 menteri akan meninggalkan Pak Harto.
Ternyata beberapa menteri yang mundur berasal dari ICMI, Persatuan Insinyur Indonesia (PII), lembaga yang dipimpin oleh BJ Habibie. Ditinggalkan para menterinya adalah pukulan hebat bagi presiden manapun. Mencermati tingkah polah orang-orang yang dibesarkannya, pukul 22.00, Pak Harto meminta Saadilah Mursyid membuat surat pernyataan berhenti sebagai presiden.
Sebelumnya, pada pertemuan dengan Nurcholis Majid di Cendana, 18 Mei 1998, Pak Harto menanyakan pada Nurcholis; “Apakah jika saya mundur presiden berikutnya dapat mengatasi persoalan bangsa ini?”
Terbukti, sudah 4 presiden menggantikan Pak Harto, keadaan bangsa ini malah tambah amburadul alias karut marut tak berujung.
Setelah menjadi presiden, beberapa kali BJ Habibie berusaha menghubungi Pak Harto, tetapi gayung tak bersambut.
Sejak BJ Habibie menjadi presiden sampai Pak Harto wafat pada 27 Januari 1998, BJ Habibie tidak pernah lagi bertemu dengan Pak Harto. Mengapa Pak Harto bersikap seperti itu? Apakah beliau merasa dikhianati oleh orang-orang yang dibesarkannya? Apakah karena Pangab tidak mau melaksanakan Kepres no. 16?
Apakah beliau merasa ditikam oleh orang-orang dekatnya? Sulit mencari jawaban yang tepat kecuali apa yang ditulis oleh Pak Probo: “getar perasaannya yang paling murni – sesuatu yang memang dia kubur untuk dirinya sendiri.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar