Dapatkan motivasi, artikel motivasi, kata bijak, inspirasi, semangat kerja, semangat belajar, dan tips sukses OR
Tampilkan postingan dengan label KELUARGA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KELUARGA. Tampilkan semua postingan

JANGAN MENANGIS SETELAH MEMBACA STATUS INI

Seorang pemuda duduk di hadapan laptopnya. Login facebook. Pertama kali yang dicek adalah inbox.
Hari ini dia melihat sesuatu yang tidak pernah dia pedulikan selama ini. Ada 2 dua pesan yang selama ini ia abaikan. Pesan pertama, spam. Pesan kedua…..dia membukanya.
Ternyata ada sebuah pesan beberapa bulan yang lalu.

Diapun mulai membaca isinya:

“Assalamu’alaikum. Ini kali pertama Bapak mencoba menggunakan facebook. Bapak mencoba menambah kamu sebagai teman sekalipun Bapak tidak terlalu paham dengan itu. Lalu bapak mencoba mengirim pesan ini kepadamu. Maaf, Bapak tidak pandai mengetik. Ini pun kawan Bapak yang mengajarkan.

Bapak hanya sekedar ingin mengenang. Bacalah !

Saat kamu kecil dulu, Bapak masih ingat pertama kali kamu bisa ngomong. Kamu asyik memanggil : Bapak, Bapak, Bapak. Bapak Bahagia sekali rasanya anak lelaki Bapak sudah bisa me-manggil2 Bapak, sudah bisa me-manggil2 Ibunya”.

Bapak sangat senang bisa berbicara dengan kamu walaupun kamu mungkin tidak ingat dan tidak paham apa yang Bapak ucapkan ketika umurmu 4 atau 5 tahun. Tapi, percayalah. Bapak dan Ibumu bicara dengan kamu sangat banyak sekali. Kamulah penghibur kami setiap saat.walaupun hanya dengan mendengar gelak tawamu.

Saat kamu masuk SD, bapak masih ingat kamu selalu bercerita dengan Bapak ketika membonceng motor tentang apapun yang kamu lihat di kiri kananmu dalam perjalanan.

Ayah mana yang tidak gembira melihat anaknya telah mengetahui banyak hal di luar rumahnya.

Bapak jadi makin bersemangat bekerja keras mencari uang untuk biaya kamu ke sekolah. Sebab kamu lucu sekali. Menyenangkan. Bapak sangat mengiginkan kamu menjadi anak yang pandai dan taat beribadah.

Masih ingat jugakah kamu, saat pertama kali kamu punya HP? Diam2 waktu itu Bapak menabung karena kasihan melihatmu belum punya HP sementara kawan2mu sudah memiliki.

Ketika kamu masuk SMP kamu sudah mulai punya banyak kawan-kawan baru. Ketika pulang dari sekolah kamu langsung masuk kamar. Mungkin kamu lelah setelah mengayuh sepeda, begitu pikir Bapak. Kamu keluar kamar hanya pada waktu makan saja setelah itu masuk lagi, dan keluarnya lagi ketika akan pergi bersama kawan-kawanmu.

Kamu sudah mulai jarang bercerita dengan Bapak. Tahu2 kamu sudah mulai melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi lagi. Kamu mencari kami saat perlu2 saja serta membiarkan kami saat kamu tidak perlu.

Ketika mulai kuliah di luar kotapun sikap kamu sama saja dengan sebelumnya. Jarang menghubungi kami kecuali disaat mendapatkan kesulitan. Sewaktu pulang liburanpun kamu sibuk dengan HP kamu, dengan laptop kamu, dengan internet kamu, dengan dunia kamu.

Bapak bertanya-tanya sendiri dalam hati. Adakah kawan2mu itu lebih penting dari Bapak dan Ibumu? Adakah Bapak dan Ibumu ini cuma diperlukan saat nanti kamu mau nikah saja sebagai pemberi restu? Adakah kami ibarat tabungan kamu saja?

Kamu semakin jarang berbicara dengan Bapak lagi. Kalau pun bicara, dengan jari-jemari saja lewat sms. Berjumpa tapi tak berkata-kata. Berbicara tapi seperti tak bersuara. Bertegur cuma waktu hari raya. Tanya sepatah kata, dijawab sepatah kata. Ditegur, kamu buang muka. Dimarahi, malah menjadi-jadi.

Malam ini, Bapak sebenarnya rindu sekali pada kamu.

Bukan mau marah atau mengungkit-ungkit masa lalu. Cuma Bapak sudah merasa terlalu tua. Usia Bapak sudah diatas 60 an. Kekuatan Bapak tidak sekuat dulu lagi.

Bapak tidak minta banyak…

Kadang-kadang, Bapak cuma mau kamu berada di sisi bapak. Berbicara tentang hidup kamu. Meluapkan apa saja yang terpendam dalam hati kamu. Menangis pada Bapak. Mengadu pada Bapak.Bercerita pada Bapak seperti saat kamu kecil dulu.

Andaipun kamu sudah tidak punya waktu samasekali berbicara dengan Bapak, jangan sampai kamu tidak punya waktu berbicara dengan Alloh.
Jangan letakkan cintamu pada seseorang didalam hati melebihi cintamu kepada Alloh.
Mungkin kamu mengabaikan Bapak, namun jangan kamu sekali2 mengabaikan Allah.

Maafkan Bapak atas segalanya. Maafkan Bapak atas curhat Bapak ini. Jagalah solat. Jagalah hati. Jagalah iman. ”

Pemuda itu meneteskan air mata, terisak. Dalam hati terasa perih tidak terkira...................
Bagaimana tidak ?
Sebab tulisan ayahandanya itu dibaca setelah 3 bulan beliau pergi untuk selama-lamanya...

DON’T GIVE UP



Pernah ngeliat ketika seorang bayi lagi belajar berjalan? ketika dia jatuh, apa yang dia lakukan? menangis, setelahnya? coba lagi. Jatuh lagi, nangis lagi. Jatuh lagi. Nagis lagi.. tetapi yang saya heran kenapa dia tidak menyerah? coba kita bayangkan saat menjadi bayi dulu, apa yang membuat kita tidak menyerah saat kita belajar berjalan?

Ini bayangan saya jika saya seorang bayi, sebelum saya belajar jalan saya sudah melihat banyak orang yang bisa berjalan, dan saya mulai sedikit mencoba, ini pengalaman pertama saya, saya coba berdiri “ehh, bisa!!” mulailah saya melangkahkan kaki saya dan jatuh. karena saya sudah melihat banyak orang berjalan saya mulai bangkit lagi, dan kembali melangkahkan kaki saya dengan lebih hati-hati, satu langkah oke langkah kedua  jatuh lagi, dan jatuh kali ini lebih sakit dan saya menangis. Tapi apa kata sang mama? coba lagi . .oke lah mama saya coba lagi.. sampai berkali-kali saya jatuh, tetapi saya tetap penasaran kenapa orang lain bisa berjalan? dan saya terus dan terus mencoba sampai pada akhirnya saya bisa berjalan dan bisa berlari, Ohh saya sayangat bahagia mama!!

Seringkali kita lupa bahwa banyak orang yang telah mengalami hal yang sama bahkan lebih parah dari yang kita alami. Kadang rasa penasaran itu muncul, dan kita bertanya-tanya apa yang membuat orang sanggup bertahan dalam masalah? kenapa mereka tidak menyerah saja? jawabanya mereka tau bahwa menyerah bukanlah pilihan terbaik. Tetapi mereka memilih untuk tetap bertahan dan menyelesaikan masalah. Mereka tidak lagi berfokus pada masalah yang mereka hadapi, karena untuk berfokus pada masalah, kita akan lupa bagaimana cara untuk menyelesaikan masalah. Mereka mulai mengalihakan fokus pada 1 hal yaitu penyelesaian masalah.

Coba anda banyangkan seorang Nick Vujicic yang tidak memiliki tangan dan kaki sejak kecil, selalu di ejek teman-temannya, dan banyak orang berfikir tidak ada masa depan bagi dia!! Saat usia 8 tahun dia mulai berniat untuk bunuh diri, dan pada umur 10 tahun dia benar-benar mencoba untuk membunuh dirinya, karena dia memutuskan untuk menyerah pada keadaan. Keadaan yang serba terbatas, keadaan yang begitu buruk, masa depan yang kelam membuatnya putus asa. Tetapi di tengah keputus asaan itu ibunya berkata “engkau akan menjadi inspirasi banyak orang satu saat nanti”, dan benar saja saat dia dewasa dia menjadi inspirasi puluhanribu orang di dunia.

Coba anda bayangkan jika dia menyerah saat umur 10 tahun dan dia berhasil bunuh diri. Apa dia tetap menjadi inspirasi banyak orang? saya rasa tidak. Saat ini renungkanlah kembali saat anda berfikir untuk menyerah pada apapun, karena dengan menyerah kita tidak akan mendapatkan apapun, kita tidak akan belajar sesuatu, dan kita tidak maju kemanapun.

Cobalah untuk tetap bertahan, fokuskanlah pikiran anda pada penyelesaian masalah, bukan pada masalahnya. ketika anda berusaha mencari. anda akan mendapatkan jalan keluarnya. Tetapi ketika anda terus mengeluh, masalah anda tidak akan selesai, semamik anda mengeluh semakin masalah yang kita hadapi terasa berat.. soo Don’t give up kawan..

jadilah orang-orang yang tidak mudah menyerah pada keadaan, karena anda diciptakan untuk mengontrol keadaan bukan keadaan yang mengontrol jalan hidup anda..

If I never try, I’ll never achieve anything.
If I fall down, what do I do?
I am gonna try again and again,
Because the moment I give up is the moment that I’ll fail.
- Nick Vujicic-


Cinta sejati kadang tak terpisahkan oleh kematian. Meski raga tak lagi bersama

Ditinggalkan orang yang dicintai adalah salah satu pukulan terberat dalam hidup. ada kalanya seseorang yang harus mengakhiri kisah cintanya, tak akan pernah berpaling lagi pada cinta yang lain.

Sama seperti judul yang Anda baca, kami akan menceritakan sebuah kisah nyata yang ada pada sebuah makam di salah satu bagian muka bumi ini. Sebuah makam cinta.

Kisah mereka nampak seperti kisah film Titanic. Di mana ketika yang satu pergi meninggalkannya, yang lain tak pernah berhenti mencintainya hingga akhir hayat menjemput.

Sally Champion, seorang wanita yang pernah jatuh cinta pada pria bernama Michael John Murricane. Keduanya merajut asmara hingga telah merencanakan pernikahan. Tahun 1977. Michael melamar Sally dan sudah yakin akan menikah sesegera mungkin.

Namun pagi itu, ketika Michael dan Sally akan menikah, Michael mengalami kecelakaan mobil. Ia tak pernah bangun lagi dan meninggal dunia, meninggalkan mempelai wanitanya untuk selama-lamanya. Bagi Sally, hal tersebut tak akan pernah ia lupakan.

Sally menua dan tak pernah jatuh cinta pada pria lainnya. Ia ingin bisa bertemu dengan tunangannya, Michael, bila ajal menjemput. 34 tahun setelah kejadian ia ditinggal oleh Michael, Sally akhirnya menyusul Michael dan menghembuskan nafas terakhir.

Sally dimakamkan di sisi makam Michael. Mungkin selama di dunia, cinta mereka tak pernah bisa dipersatukan. Namun pada akhirnya, keduanya berbaring dalam peristirahatan terakhir secara berdampingan.

Courtesy viralnova.com

Kisah : Kudonorkan Ginjal Untuknya, Ia Membalasku Dengan Cinta

Selalu ada berkah dalam sebuah kejadian. mungkin itu yang dialami oleh Kyle Froelich. Sejak usia 19 tahun, ginjalnya tak lagi berfungsi dan hari itu seolah langit akan runtuh dan nyawanya bisa hilang sewaktu-waktu. Mencari donor organ tak pernah menjadi hal yang mudah.

Banyak yang ingin mendonor, namun jarang ada yang cocok. Ada yang cocok, namun belum tentu mau mendonorkan organ mereka. Tapi sebuah titik cerah muncul saat Kyle bertemu dengan Chelsea Clair. Gadis yang sama-sama berambut pirang ini seolah memberinya harapan baru.

Keduanya bertemu karena sama-sama dikenalkan oleh seorang teman. Di hari yang sama, mendengar cerita Kyle, Chelsea dengan tidak banyak berpikir, mengajukan diri menjadi donor. Hal ini tentu menambah semangat bagi Kyle.

Serangkaian tespun dilakukan, dan ternyata memang benar, Kyle dan dan Chelsea mengalami kecocokan sebagai donor dan penerima ginjal. Chelsea sudah bertekad akan mendonorkan organnya sejak ia kehilangan sang ayah yang meninggal karena tak bisa mendapatkan donor sumsum tulang.

Namun, kecocokan ini hampir tak mendapatkan restu sang ibu. Mendengar keinginan putrinya, sang ibu tak ingin anaknya melakukan hal itu setelah ia melihat sendiri bagaimana operasi ginjal terjadi. Kejadian ini membuat keduanya berselisih paham dan Chelsea merasa tak punya siapapun untuk mendukungnya mendonorkan ginjal pada Kyle.

6 bulan berlalu sejak Kyle bertemu dengan Chelsea, tibalah hari di mana gadis itu akan mendonorkan ginjalnya. Namun hal tersebut membuatnya merasa cukup canggung dan cemas. Tak mendapat restu dari sang ibu membuatnya merasa hanya Kyle yang ia miliki sekarang. Sebelum masuk ke ruangan operasi, Chelsea menarik dan menggenggam lengan Kyle, "Tolong jangan pergi."

Keduanya pun menjalani operasi hari itu. Syukurlah operasi berjalan sukses. Ketika keduanya terbangun, kalimat pertama yang ditanyakan adalah tentang mereka masing-masing. "Apakah Kyle baik-baik saja?" tanya Chelsea. "Bagaimana keadaan Chelse?" tanya Kyle.

Selama masa penyembuhan itu, bibit cinta akibat rasa saling memiliki dan membutuhkan di antara Kyle dan Chelsea makin mengembang. Keduanya harus dipisahkan selama recovery karena Kyle tidak boleh mengalami infeksi. Lucunya, selama itu Kyle selalu minta suster mengantarkannya melewati ruangan Chelsea agar ia bisa melambaikan tangan pada gadis itu.

Pasangan ini bahkan memberi nama ginjal yang ada dalam tubuh Kyle dengan sebutan Sparky. Kadang-kadang Chelsea menggodanya dengan meminta kembali ginjal itu. "Dia membawa ginjalku, aku harus memastikan dia menjaganya dengan baik," kata Chelsea.

Tak terasa, setelah tiga tahun sejak operasi itu berlangsung, Chelsea dan Kyle mengikatkan cinta mereka dalam sebuah pernikahan. Memberikan sesuatu tak selalu berarti kehilangan. Pemberian Anda mungkin bermakna besar bagi orang tersebut dan balasan yang baik pasti akan datang untuk Anda.

sumber : vemale.com

Kisah Cinta Sampai Mati : " Tolong Selamatkan Istriku Lebih Dulu "

Pasangan sejati itu, hingga maut menjemput masih bisa menunjukkan kekuatan cinta mereka. Inilah kejadian yang terekam dalam menit-menit penyelamatan pasangan pengantin baru dalam sebuah kecelakaan maut beberapa waktu lalu.
Jamie Soukup Reid dan suaminya Will

Jamie Soukup Reid dan suaminya Will, saat itu sedang naik kendaraan menuju bandara. Pasangan ini sedang berbahagia karena Jamie tengah mengandung seorang bayi.

Namun kendaraan tersebut mendadak tak bisa dikendalikan. Sang sopir, Rodney Koon, tidak bisa menguasai kendaraan yang disetirnya. Akibatnya, mobil itu menabrak pohon dengan kuat dan menimbulkan benturan yang sangat hebat. Membuat mobil ringsek dan pasangan Reid ini mengalami keadaan kritis.

Dalam kondisi yang sangat darurat dan luka parah, saat bantuan paramedis datang, Will masih sempat meminta orang-orang menyelamatkan istrinya terlebih dulu. Sayangnya, Jamie dinyatakan meninggal saat itu juga saat kejadian.

Sementara itu, Will segera dilarikan ke rumah sakit karena luka yang sangat parah. Hingga akhirnya Will menghembuskan nafas terakhirnya, menyusul istri dan calon bayinya yang telah mendahuluinya.

Dalam menit-menit terakhir kehidupannya, Will masih sempat meminta orang-orang mendahulukan istri dan calon anaknya. Dilansir dari Dailymail, keluarga Jamie memang mengakui bahwa Will adalah sosok pria yang sangat baik. Begitu baiknya sampai ia sudah dianggap sebagai anak sendiri sebelum menikah dengan Jamie.

Jamie dan Will adalah guru muda yang menikah 3 bulan yang lalu. Keduanya tengah menanti anak pertama mereka, namun sayang hal itu belum sempat terjadi. Ayah Jamie mengaku bahwa ia sangat kehilangan ketiganya, "Kami kehilangan dua anak dan satu cucu," ujarnya.

Sepertinya Jamie dan Will memang ditakdirkan untuk sehidup semati. Hingga akhir hayat pun mereka masih bersama. Meski meninggal dengan tragis, semoga ketiganya meninggal dengan tenang.

Cinta Sejati : Menempuh Ribuan Kilometer Untuk Menikah Dengan Kekasihnya Yang Lumpuh

Sook Yin dan Li
"Cinta tidak memandang fisik, karena cinta sejati berasal dari hati."
Quotes ini terdengar begitu manis dan membuat setiap orang merindukan cinta yang tulus dan apa adanya. Cinta yang sederhana, tanpa embel-embel syarat dan ribuan alasan. Ternyata cinta sejati dan tidak mengenal keterbatasan, masih ada dan hidup hingga hari ini ladies. Wanita cantik ini rela terbang ribuan kilometer jauhnya untuk menemui kekasihnya dan menikahinya. Sang kekasih menderita lumpuh sejak masih anak-anak, tapi cintanya tidak luntur dan semakin kuat kepadanya.

Gan Sook Yin, perempuan berusia 35 tahun ini mulanya 'bertemu' dengan Li Kang Yu di internet. Mulanya mereka mengobrol melalui chatting dan berlanjut dengan menceritakan kisah hidup masing-masing. Li bercerita tentang kondisi tubuhnya yang menderita lumpuh total sejak anak-anak dan pria berusia 38 tahun ini hanya bisa terbaring di ranjang, karena lumpuh membuat tubuhnya tidak bisa duduk atau berdiri seperti laki-laki normal lainnya.

Sook Yin merasa iba, dan berempati. Dirinya seolah bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi seseorang yang tidak bisa berbuat apapun karena cacat yang diderita. Perempuan berkulit putih ini kagum dengan Li yang optimis melanjutkan hidup. Kekaguman itu perlahan berubah menjadi suka, dan benih-benih cinta bersemi di antara mereka berdua.

24 Juli kemarin, Sook Yin dan Li mendaftarkan pernikahan mereka dan pada 8 Agustus pasangan yang tengah berbahagia ini melangsungkan resepsi pernikahannya. Lihatlah begitu cantik Sook Yin dengan gaun putih, tersenyum bahagia ketika memegang tangan mempelai pria. Sook Yin duduk di samping Li yang terbaring di sisinya, mereka berdua membuka mata kita bahwa cinta pada hakikatnya adalah sederhana. Sudahkah Anda menemukan cinta sejati dan manis seperti Sook Yin dan Li, ladies?

Kisah cinta yang tulus dan sejati : Suami Berjalan Kaki Demi Temukan Ginjal Untuk Istrinya

Bagaimana bila orang yang Anda cintai divonis sakit keras dan umurnya tak akan lama lagi? Pasti Anda akan melakukan apapun agar ia bisa sembuh kembali dan bersama Anda lebih lama.

Sama halnya seperti seorang kakek berusia 78 tahun dari Carolina Selatan yang bernama Larry Swilling ini. Ia memiliki seorang istri berusia 47 tahun bernama Jimmie Sue yang divonis terkena gagal ginjal tahun lalu. Maka di suatu hari di serambi mereka, Larry menggenggam tangan istrinya dan berkata, "Aku akan mendapatkan ginjal untukmu."

Larry tidak hanya menggantungkan nasib istrinya pada pertolongan medis. Pria ini bahkan berjalan menyusuri jalanan sambil mengalungkan papan bertuliskan, 'Dibutuhkan Ginjal'. Tekadnya begitu kuat untuk bisa menyelamatkan sang istri dari penyakit mematikan itu. Apalagi, Sue hanya memiliki satu ginjal di dalam tubuhnya.

Larry tahu bahwa mendapatkan ginjal yang cocok untuk istrinya tidaklah mudah. Sekalipun ada, belum tentu orang tersebut mau memberinya ginjal yang sangat berharga untuk nyawa istrinya itu. Sudah lebih dari setengah tahun Larry mencari ginjal yang tepat untuk istri yang dipanggilnya, 'my heart' itu.

Pria ini memang sangat mencintai istrinya. Ia bahkan berurai air mata saat menjelaskan bahwa bagaimanapun ia akan mengusahakan ginjal untuk istrinya agar bisa sembuh. "Aku memohon-mohon demi sebuah ginjal. Aku akan melakukan apapun, tapi aku membutuhkan ginjal" isaknya. Ia sering mendapatkan telepon dari penjuru dunia seperti Mesir, Swedia dan negara lainnya. Namun sayang, belum ada yang cocok untuk Sue.

Oleh karena itu pria ini memutuskan untuk berjalan kaki di sepanjang kota ia tinggal sambil mengalungkan papan tersebut di dada dan punggungnya. Ia tidak mau melewatkan setiap meter dan setiap orang yang ia temui karena ia tahu dengan tekad yang kuat, harapan kesembuhan untuk sang istri pasti ada.

Dapatkah Anda membayangkan seorang pria yang sudah tua berjalan terengah-engah di bawah terik matahari sambil berpenampilan demikian karena sebegitu cinta dan inginnya dia mendapatkan ginjal bagi istrinya? Sebuah hal yang sulit dilakukan, namun ia tetap melakukannya.

Larry tak peduli orang berkata apa, hanya demi bisa selalu bisa bersama dengan istrinya, "Aku memang lelah, namun aku akan terus melakukan ini." Tak ada yang sia-sia dari apa yang dilakukannya, semua karena didasari oleh cinta yang tulus dan sejati.

Kisah : Demi Cinta, Suami Rela Gemuk Agar Seperti Istrinya

"Seberapa besar cintamu padaku?" Mungkin pertanyaan ini seringkali hinggap di hati wanita pada pasangannya. Banyak orang yang merasa bahwa pertanyaan ini bisa mengukur seberapa besar cinta seseorang pada kita.
Seberapa besar cintamu padaku

Namun bila Anda bertanya berapa besar cinta Liu Ru pada istrinya yang bertubuh gemuk, mungkin jawabannya adalah sebesar tubuh istrinya. Liu Ru memiliki seorang istri yang membuatnya cinta mati dan dinikahinya semenjak 28 Juni 2013 lalu. Dan diam-diam, ia berencana memiliki tubuh sebesar istrinya, yaitu dengan bobot 140 kg.

Selama ini banyak wanita yang berpikir bahwa mereka harus diet demi bisa dicintai oleh suaminya. Namun pada kenyataannya, pria selalu punya cara yang unik dan tak pernah bisa kita duga untuk menunjukkan cintanya

Sejak menikah, berat badan Liu Ru yang tadinya 63 kg, melonjak hingga 81 kg. Liu mengatakan pada Chang, "Wanitaku, ambisiku adalah menambah berat badan sehingga aku dan dirimu terlihat serasi satu sama lain."

Liu jatuh cinta pada istrinya sejak pandangan pertama. Ia bahkan melamar Chang hanya setelah 4 kali pacaran. Awalnya pasangan ini sempat dikritik oleh keluarga kedua belah pihak. Ayah Liu mengkritik tubuh calon menantunya yang 2 kali lebih besar dari putranya. Sementara ibu Chang merasa Liu terlalu pendek dan langsing.

Namun kalau cinta sudah bicara, restu akhirnya datang juga. Keduanya menikah dan merasakan happy ending. Sebagai seorang istri, Chang pernah mencoba untuk menyamai suaminya. Ia melakukan diet ketat namun dengan hasil yang menyedihkan. Chang kehilangan 5 kg berat badannya, namun kesehatannya menurun.

Oleh karena itu, Liu menjalankan perannya. Ia menambah berat badan bukan hanya sekedar karena cinta, namun karena ingin menjadi pasangan yang serasi dan sempurna bagi Chang. Well, semoga meski ada resiko 'obesitas', keduanya tetap dikaruniai kesehatan dan kebahagiaan. Lagi-lagi, love is not about size. Do you believe it?

sumber : vemale.com

Titik Balik: Silakan Menikah dengan Suamiku

Silakan Menikah dengan Suamiku

“Mbak, namaku Anti, ada yang ingin aku bicarakan denganmu, boleh aku datang berkunjung menemuimu?”

Itu suara seorang gadis di ujung telepon, kira-kira 16 tahun yang lalu. Namanya sengaja disamarkan. Ini ditulis dalam rangka mengikuti “festifal” menulis TITIK BALIK. Semata ingin berpartisipasi menginspirasi dunia wanita, agar tidak pernah khawatir bila dihadapkan pada soal-soal yang tidak membahagiakan dalam kehidupan.

Aku lanjutkan kisahku. Kurang lebih, 16 tahun lalu, gadis itu kemudian datang berkunjung ke tempat kost ku. Ia datang dari daerah lain, tempat suamiku bekerja. Dari cerita Anti, aku tahu bahwa ia dan suamiku saling mencintai. Anti bertanya padaku, “apakah aku boleh menikah dengannya?”

Aku diam, hanya menarik nafas panjang. Berupaya mengendalikan perasaanku yang sedang tidak mengerti apa yang sedang menimpaku.

Anti melanjutkan, “Ia bercerita, bahwa dengan mbak, mempunyai seorang anak laki-laki..”

“Ia” yang dimaksudkan Anti adalah suamiku. Aku mengangguk dan berusaha tersenyum, meskipun aku tidak tahu apakah saat itu senyumku memang terlihat seperti senyuman. Aku tidak berkata-kata. Tanganku tergerak untuk mengggapai lemari kecil tempatku menyimpan pakaian. Aku mengeluarkan celana panjang anakku. Aku menunduk supaya berhasil menahan jatuhnya air mataku. Tapi segera kusadar, bahwa tidak baik bicara tanpa menatap wajah orang yang diajak/mengajak bicara.

Aku menarik nafas panjang, menata nafas dan berupaya tenang. Lalu berkata, “Iya..kami punya seorang anak laki-laki. Jika celananya seukuran ini, maka Anti pasti tahu seberapa besar anak kami. Apakah kalian saling mencintai?”

Ia mengangguk dan menegaskan dengan kata-kata bahwa mereka sudah cukup lama menjalin hubungan, saling mencintai dan ingin segera menikah bila aku mengijinkan.

“Begini Anti…, jika kalian memang saling mencintai dan ingin menikah, maka menikahlah. Aku tidak ada masalah. Bagiku, ada ataupun tidak ada dia, sudah tidak ada masalah. Kau lihat kan keadaanku hari ini? Dan ketika saat ini kamu tahu bagaimana ia memperlakukan aku dan anakku, kau pasti bisa menilai dia. Jangan berkata apa-apa. Dengarkan saja hati nuranimu, karena hati nurani bisa menilai, apakah lelaki sepertinya itu baik untukmu. Menikah dengannya jangan karena terpaksa. Kalaupun hari ini kamu sudah tidak perawan gara-gara dia, pikirkan masak-masak tentang rencanamu. Aku tidak sedang berkata sebagai istrinya, namun aku berkata ini karena kamu adalah seorang gadis belia yang masih panjang kehidupannya. Dan kamu harus kuberitahu satu hal. Aku sendiri pun baru diberitahu setelah kami menikah, bahwa dia ternyata adalah seorang duda beranak dua, yang tidak menafkahi dua anaknya yang lain, selain menafkahi dengan doa-doa…”.

Sejak kepulangan Anti dari tempat kost-ku, aku tidak tahu perkembangan hubungan mereka, hingga akhirnya aku tahu bahwa mereka sudah tidak lagi berhubungan. Mantan suamiku sudah hidup bahagia dengan keluarga barunya. Ia menikah dengan kekasih yang lain lagi, bukan Anti.

Aku lupa sejak kapan belajar membiasakan diri dengan kesakitan-kesakitan. Sebab sebelum Anti datang, aku pun sudah diberi pelajaran lain yang mirip-mirip dengan keberadaan Anti. Satu hal yang kujaga adalah bahwa dalam keadaan apapun, imanku tidak boleh hilang. Aku terus menerus berusaha terhubung dengan Tuhan dalam setiap keadaan. Ya! dalam setiap keadaan. Aku sangat percaya bahwa Tuhan sangat baik kepadaku, apapun keadaanku. Aku tidak perlu bercerita kesana kemari tentang kedukaanku dan tentang betapa malang nasib yang kuterima. Aku hanya memilih Tuhan sebagai teman yang paling setia mendengar dan memberi jalan-jalan baru.

Bila aku bersedih, merasa gagal, kecewa dan menderita aku hanya perlu mengambil air wudhu dan berbincang denganNya. Disitulah DIA mengajariku istighfar, sebab aku lupa bersyukur.

Anugerah kebahagiaan yang diberikan Tuhanku, jauh lebih besar jumlahnya dibanding anugerah berupa kesakitan dan kepedihan. Aku mulai belajar menghitung-hitung anugerahNya.

Dalam tiap doa usai shalatku, pikiranku memperhatikan diriku yang cantik dan tetap cantik, aku sehat, aku cukup cerdas kata orang, aku punya pekerjaan dan selalu dicukupkan, aku diberi kesempatan menyelesaikan kuliah dan bahkan kuliah lagi pada jenjang yang lebih tinggi, aku punya anak lelaki yang mengerti , patuh dan menyayangi aku, aku punya keluarga yang sangat menyayangi aku, aku punya beberapa teman dekat yang menyayangi aku, aku punya begitu banyak teman, aku dipercaya Allah bekerja pada sebuah kampus yang sangat aku cintai, orang menyebutku sebagai dosen, aku dipercaya oleh Allah untuk membantu mendidik dan men-sarjanakan ratusan mahasiswa, betapa ini tugas yang sangat mulia, aku dicintai begitu banyak mahasiswa, aku dirindukan kehadiranku setiap hari oleh mereka, aku tempat bersandar bagi anak-anakku yang bermasalah dan membutuhkan pertolongan, aku dirindukan kehadiranku oleh anakku, oleh ibuku, oleh ayahku, kakak-kakakku dan adikku, juga semua kerabatku, aku disayangi oleh para lansia dan anak-anak di kampungku dan dirindukan kehadiranku, aku…aku..masih banyak lagi anugerah yang tidak mampu kuhitung dengan jumlah jari-jariku. Saat aku tak mampu menghitung keberkahan, di situ aku menangis dan istighfar. Aku menangis, istighfar dan sejak itu mulai belajar hidup penuh kesyukuran.

Hingga pada suatu saat, aku kirim pesan kepada mantan suamiku yang sudah mempunyai keluarga baru. Aku menemukannya di FB. Aku merasa perlu mencarinya sebab anakku sudah dewasa dan mempunyai kepentingan untuk mengabarkan sesuatu yang penting kepada ayahnya.

Kutulis kalimat pada chat-ku:

“Salam. Semoga keadaan mas baik dan sehat. Sengaja kukirim ini untuk meminta maaf. Aku minta maaf atas kesalahan yang mungkin kulakukan tapi tidak sempat aku merasa berbuat salah. Aku pasti berkontribusi atas kejadian yang tidak membahagiakan waktu itu. Aku minta maaf… Aku juga ingin mengucapkan terima kasih atas ‘pelajaran-pelajaran indah’ yang telah mas ajarkan padaku. Terima kasih banyak ya…! Pelajaran-pelajaran itu mendewasakanku. Jika ‘pelajaran-pelajaran’ itu tidak mas ajarkan, mungkin aku tidak akan sampai di sini, seperti keadaanku yang sekarang. Salam.”

Ia ternyata membalas pesanku.

“Salam Arie, aku yang seharusnya meminta maaf pada kalian. Kamu perempuan hebat . Hatimu sangat mulia. Aku yakin kamu tangguh dan sanggup menjalani hidupmu dengan baik. Jaga dirimu baik-baik. Aku selalu mendoakanmu. Salam.”

Membaca pesannya, aku meneteskan air mata bahagia. Bukan karena ia memujiku secara berlebihan. Tetapi lebih karena, aku akhirnya sanggup melunasi “hutangku”, membersihkan hati dari segala yang kotor dan menyakiti. Aku, seperti tidak percaya mampu berdamai dengan diri. Juga berdamai dengan sosok yang kunilai sebagai menyakiti, padahal sejatinya ia terikirim untuk mengajarkan pelajaran-pelajaran penting bagi kehidupanku selanjutnya. Aku yankin, dimanapun ia berada, ia pasti mendoakan segala kebaikan untuk aku dan anakku.

Disakiti memang sakit. Tapi kesakitan-kesakitan itu bermakna. Sebab kesakitan-kesakitan itu sesungguhnya membantu kita untuk belajar lebih banyak lagi tentang hal-hal yang tidak biasa. Inilah salah satu faktor mengapa aku sangat tertarik memelajari hal-hal relevan dengan ketidakbahagiaan. Menjadi pemerhati masalah ketidakbahagiaan.

Akhirnya aku mengerti bahwa, pelajaran-pelajaran sepanjang hidup, tidak mungkin diberikan Tuhan melalui para guru kehidupan, jika memang tidak ada relevansinya dengan kehidupan kita selanjutnya. Kesakitan, kepedihan, kedukaan dan penderitaan bukanlah momok yang harus ditakuti, namun anugerah yang harus dipeluk dan dilenturi.

Terima kasih sudah membaca. Terima kasih Allah Yang Maha Kuasa. Terima kasih kepada semua yang menginspirasi. Salam bahagia dan terus berkarya!

PENTING:

Jika boleh memohon, jangan memberi komentar/pertanyaan. Please, khusus untuk tulisan saya yang satu ini saja, ya! Sebab kami semua sudah menjalani hidup baru dan bahagia dengan keadaan masing-masing. Ini dibuat hanya untuk menginspirasi mereka yang mungkin pernah/sedang mengalami keadaan sejenis dengan apa yang saya alami. Untuk menginspirasi yang sedang dicoba/diujii, agar jangan menghitung-hitung kesakitan dan kepedihan, tapi cobalah menghitung anugerah kebahagiaan yang jumlahnya pasti jauh lebih besar (dan bahkan tak mungkin terhitung). Tapinya lagi, untuk VOTE, tetap diterima dengan bahagia.

oleh : Aridha Prassetya
source : kompasiana