Pemimpin memiliki beragam cara untuk menyikapi bencana. Ada yang meratapi. Sebagian lagi menjadikan bencana sebagai kesempatan untuk menonjolkan diri. Tidak sedikit pula yang memilih bekerja keras memberikan solusi.
SEPANJANG Januari 2014, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, telah terjadi 203 kejadian bencana dengan korban jiwa mencapai 138 orang. Bencana mulai banjir, tanah longsor, gempa, hingga letusan gunung berapi juga membuat 1,2 juta jiwa mengungsi.
Daratan Karo di Sumatera Utara, Manado di Sulawesi Utara, dan DKI Jakarta tercatat sebagai daerah penyumbang jumlah korban dan pengungsi terbesar. Angka-angka itu diperkirakan terus bertambah seiring dengan cuaca yang masih tidak bersahabat.
Bupati Bojonegoro Suyoto mengakui daerahnya tidak pernah absen dari daftar daerah rawan bencana seperti tiga daerah tersebut. Namun, upaya keras rakyat bersama pemerintah kabupaten untuk mengurangi dampak bencana membuat tingkat kerusakan dan jumlah korban semakin berkurang.
Bahkan, karena persiapan yang matang, mulai tahun ini warga Bojonegoro percaya diri memasang spanduk bertulisan Selamat Datang Banjir di bendungan gerak Kalitidu dan Trucuk. "Itu simbol kami sudah bersahabat dengan banjir," ujarnya saat ditemui pekan lalu.
Menurut Kang Yoto, panggilan akrab Suyoto, Bojonegoro harus menerima takdir geografis di sekitar daerah aliran Sungai Bengawan Solo. "Jika musim hujan dan air Bengawan Solo meluap, lebih dari separo wilayah Bojonegoro berubah menjadi seperti danau," ungkapnya.
Ketika musim kemarau datang, bencana banjir berganti menjadi kekeringan. Sawah berubah menjadi lahan pecah-pecah. "Itu (kondisi) masa lalu yang harus menjadi pelajaran," tegasnya.
Sejak menjabat bupati pada 2008, Kang Yoto menggencarkan berbagai program untuk mengatasi dampak bencana tahunan sekaligus mendongkrak daya saing. "Kami tidak boleh pasrah. Kami harus selalu berusaha mencari cara agar bencana boleh tetap datang, tapi Bojonegoro terus maju," katanya.
Dalam pembenahan infrastruktur, pemkab mengganti permukaan jalan yang awalnya aspal menjadi balok paving. "Aspal itu musuhnya air. Jadi, nggak cocok di Bojonegoro," terang mantan rektor Universitas Muhammadiyah Gresik tersebut.
Selain itu, jalan paving hanya butuh biaya seperlima jalan aspal. Meskipun banyak ditentang, termasuk oleh DPRD, program tersebut sukses mengurangi kerusakan jalan desa di Bojonegoro. Bahkan, daerah itu mendapat penghargaan internasional, yakni Sustainable Development Initiative Award 2013.
Sementara itu, untuk mengatasi kekeringan, diluncurkan program seribu embung atau waduk mini guna menyimpan air tanah. Program tersebut sukses memunculkan komoditas agro di luar padi dan tembakau sebagai andalan Bojonegoro. Misalnya, belimbing, jambu, pisang, salak, dan produk hortikultura lainnya.
Bersamaan dengan pembangunan bendungan, serangkaian upaya pembangunan infrastruktur jalan dan pengairan itu membuat produksi beras Bojonegoro semakin melimpah. Hingga akhir tahun lalu, surplus beras mencapai 500 ribu ton. "Kami kini siap mewujudkan daerah lumbung pangan selain lumbung energi dari eksplorasi minyak bumi di Bojonegoro Barat," tegas Kang Yoto.
Jaga Pompa
Kala banjir menggenangi sejumlah daerah seperti Jakarta dan beberapa kota di Jawa Tengah, Surabaya justru aman. Puncak hujan pada akhir Desember hingga Januari tidak membuat warga Surabaya kelimpungan oleh banjir. Hal itu tidak terlepas dari berbagai terobosan Pemerintah Kota Surabaya.
Apa jurus pemkot? Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengungkapkan, pemkot mendorong pembuatan sungai-sungai baru. Untuk setiap pembangunan seluas seribu meter persegi, harus ada sungai atau saluran baru di sekitarnya.
"Menyeimbangkan dampak pembangunan itu sangat penting. Selain itu, harus disiplin," tegas Risma, panggilan akrab Tri Rismaharini, saat ditemui dalam acara pengarahan camat dan lurah pekan lalu.
Selain sungai, Risma memberikan perhatian terhadap fungsi rumah pompa. "Jumlah rumah pompa harus terus ditambah," paparnya. Rumah pompa yang lama juga perlu diperbarui sehingga kecepatan mengalirkan airnya meningkat.
Cara lain yang juga penting adalah mengintegrasikan saluran air perkotaan. Jadi, jangan ada saluran yang tidak tersambung antara saluran air primer, sekunder, dan tersier.
Dia mengklaim cara tersebut cukup sukses. Semakin banyak kawasan di Surabaya yang bebas banjir. Misalnya, Jalan Mayjen Sungkono dan Jalan Majapahit. Sebelumnya, Jalan Mayjen Sungkono menjadi langganan banjir setiap tahun. Tidak tanggung-tanggung, ketinggian banjir di tempat tersebut mencapai pinggang orang dewasa.
Risma menceritakan, pihaknya mempelajari, ternyata Jalan Mayjen Sungkono merupakan area terendah. "Akhirnya, semua aliran air turun ke jalan itu," paparnya.
Daerah lain yang sudah tidak banjir adalah Jalan Majapahit. Sejak zaman kemerdekaan, jalan itu banjir. Tapi, air bisa dialirkan dengan membuat sudetan baru menuju ke saluran di Dinoyo dan masuk ke Kalimas. "Salurannya juga dikeruk semua biar kapasitasnya tidak berkurang," papar Risma.
Pasukan Ungu Putih
Banjir juga menjadi masalah yang harus dipecahkan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil saat pertama menjabat. Seperti Bojonegoro, Bandung memiliki letak geografis yang "disukai" air, yakni menggantung seperti mangkuk raksasa.
Wali kota yang juga arsitek itu pun memeras otak. Akhirnya, dia membagi programnya menjadi dua. Yakni, solusi jangka panjang dan solusi jangka pendek. Untuk solusi jangka pendek, Pemkot Bandung mengerahkan relawan gorong-gorong alias pasukan ungu putih.
Tim tersebut berfokus membuat dan membersihkan gorong-gorong serta membuat biopori permukiman dan sumur resapan. "Cara ini memang tidak menghilangkan banjir, tapi minimal mengurangi," kata Ridwan ketika ditemui di Balai Kota Bandung pekan lalu (23/1). Gerakan Sejuta Biopori mampu menghasilkan 300 ribu lubang biopori dalam lima hari.
Untuk rencana jangka panjang, Pemkot Bandung berencana membuat danau di kawasan Gede Bage, daerah terendah di dataran Bandung yang kerap dilanda banjir.
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharani
Bencana : Banjir tahunan di Jalan Mayjen Sungkono dan Jalan Majapahit, kawasan terendah, kebakaran pemukiman, pabrik, dan padang ilalang.
Jurus : Menambah saluran dan sungai baru, memperbaiki dan menambah rumah pompa, mengintegrasikan saluran air perkotaan
Bupati Bojonegoro Suyoto
Bencana : Banjir melanda setiap puncak musim hukan dan Sungai Bengawan Solo meluap, kekeringan di daerah pertanian setiap musim kemarau
Jurus: Mengubah jalan aspal menjadi jalan paving, mencanangkan gerakan 1.000 embung, menuntaskan proyek bendungan gerak di Kalitidu dan Trucuk
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil
Bencana : Banjir rutin di kawasan terendah Gede Bage, banjir dengan kedalaman 10 hingga 60 cm di kawasan segi tiga emas kosambi
Jurus : Program jangka pendek: penggalian gorong-gorong, membuat biopori pemukiman, dan membuat sumur resapan.
Program jangka panjang : membuat danai dan pengadaan ekskavator amfibi.
Tampilkan postingan dengan label TELADAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TELADAN. Tampilkan semua postingan
TELADAN : Kol (Purn) AE. Kawilarang
Kejujuran yang sekarang menjadi barang langka, tenyata banyak dimiliki para tentara pada era perang kemerdekaan. Memiliki banyak kesempatan, tetapi integritas tetap dikedepankan.
![]() |
| Alex Kawilarang |
Jika berada di tengah hutan dan menemukan harta karun, apa yang Anda lakukan? Mengambilnya karena tak seorang pun mengetahui, melaporkan kepada pihak berwenang, atau membiarkan begitu saja? Bertanya tentang "uji" kejujuran seperti itu, bisa jadi memang seperti membicarakan sesuatu yang hampir punah. Kadang berada di awang-awang dan hanya bisa membayangkan, terkadang cuma dapat mereka-reka. Apa mungkin di era sekarang masih ada kejujuran? Seperti apa wujudnya? Dan banyak lagi pertanyaan lain.
Seperti itu pula yang dihadapi para tentara kita pada saat perang kemerdekaan. Di tengah peperangan yang nyaris tak ada aturan yang berlaku, ternyata para tentara masih menyimpan nilai-nilai kejujuran yang sangat tinggi. Alhasil, hukum yang seakan berlaku pada situasi perang, yakni yang kuat berkuasa, yang memegang senjata bisa menindas dan merampok rakyat, menjadi tidak berarti.
Akhirnya fakta juga yang berbicara. Dalam perang kemerdekaan, banyak kisah teladan para prajurit TNI. Kejujuran yang mereka perlihatkan, sungguh membuat kita semua angkat topi. Bayangkan, di tengah terbukanya kesempatan, jika saja mereka mau, tidak sulit rasanya membawa lari uang negara dan memperkaya diri sendiri. Tapi hal itu tak dilakukan. Tidak berhenti sampai di sana.
Keteladanan juga berlanjut, ketika terdapat tentara yang tak mau menyantap makanan hasil rampasan, hanya karena menganggapnya tidak halal. Luar biasa, memang. Karena di tengah perang dan kelaparan, iman ternyata masih bisa dipegang. Hal itu tentu bertolak belakang dari kondisi kekinian negeri ini, bahkan setelah 68 tahun Indonesia merdeka. Di tengah suasana ekonomi yang jauh lebih baik ketimbang perang kemederkaan, ternyata pejabat masih juga melakukan korupsi dan makan uang haram. Tak ada lagi rasa malu, ketika mereka merampok uang rakyat demi memperkaya diri sendiri.
Lalu, bagaimana cerita tentang keteladanan para tentara saat perang kemerdekaan itu sendiri? Berikut beberapa kisahnya, sebagaimana seperti dituturkan Kolonel (Purn) Alex Evert Kawilarang dalam biografi Untuk Sang Merah Putih.
Mulai Makanan Hingga Permata
Merampas makanan saat perang, sering kali dimaklumi. Jangankan makanan, harta pun kerap pula menjadi sasaran perampasan. Sapi milik penduduk, kambing, atau bahkan sayur dan buah-buahan yang ditanam, sering diambil paksa oleh tentara. Namun, tidak demikian dengan anak buah Kawilarang, Letnan Gojali. Integritasnya yang tinggi seakan mematahkan semua "permakluman" tersebut.
Peristiwa itu sendiri terjadi pada 1946. Tepatnya, ketika Kepala Staf Resimen Divisi II TNI Mayor Alex Evert Kawilarang menumpas gerombolan perampok di Cibarusah Bogor. Setelah baku tembak, mereka pun mengalahkan para perampok yang meresahkan warga. Di sanalah keteladanan Gojali terlihat. Setelah berjaga semalaman, Kawilarang mencari sarapan. Dia melihat ada anak buahnya yang makan pisang di markas itu, Kawilarang lalu ikut makan. Tetapi yang membuatnya heran, Gojali justru tidak ikut bergabung untuk makan. Kawilarang pun bertanya, "Mengapa memisahkan diri. Apakah tidak lapar?"
Dan, jawaban Gojali sungguh di luar dugaan. "Neen Mayoor, die pisang is gekocht met gerampokt geld. Ik eet dat niet (Tidak mayor, pisang itu dibeli dari uang hasil rampokan, saya tidak mau makan)," begitu jawabnya. Mendengar pengakuan Gojali, Kawilarang terkagum-kagum mendengar jawaban Gojali.
Kepercayaan pada anak buahnya itu makin besar Tidak hanya makanan. Emas permata pun, ternyata tidak membuat tentara silau. Ketika itu, anak buah Kawilarang melakukan penggalian di bekas markas Jepang di sekitar Cigombong. Mereka mencari senjata Jepang yang biasanya disembunyikan dengan cara dikubur dalam tanah. Tapi bukannya senjata, para prajurit TNI itu malah menemukan sebuah guci besar. Lebih mengejutkan, isi guci itu ternyata penuh emas dan permata yang berkilauan.
Walau harta itu bisa membuat kaya tujuh turunan, para tentara jujur itu tak mau mengambilnya. Mereka lalu lapor dan menyerahkan harta itu pada Kawilarang, sang komandan. Kawilarang juga begitu. Dia tak mau menguasai emas permata peninggalan Jepang tersebut. Untuk itu, kemudian dia berniat menyerahkan harta temuan pasukannya pada pemerintah Indonesia yang saat itu masih morat-marit. Di sanalah kemudian Kawilarang memanggil Gojali yang jujur. Kawilarang mengutus Gojali menyerahkan harta karun itu ke Kementerian Dalam Negeri di Purwokerto.
Gojali pun melaksanakan tugas dengan baik. Dia menyerahkan harta karun pada Sumarman, yang kala itu menjabat Sekretaris Mendagri. Berapa nilai harta karun tersebut, sebuah majalah pernah mencoba menghitung berdasar bukti-bukti otentik yang ditemukan. Isinya tak kurang dari tujuh kilogram emas dan empat kilogram permata. Nilainya kala itu saja diperkirakan Rp6 miliar. Bandingkan besarnya jumlah itu dengan gaji seorang tentara yang kala itu berkisar Rp50.
Uang Gaji tak Dibawa Lari
Pada 23 Januari 1950, tentara Divisi Siliwangi di Bandung tengah berbahagia. Untuk kali pertama, mereka akan menerima gaji. Setelah Indonesia merdeka, memang TNI belum sempat menerima gaji rutin. Mereka selalu direpotkan oleh Agresi Militer Belanda I dan II. Tak ada yang berpikir gaji, semuanya mementingkan mempertahankan Indonesia dan berjuang demi bangsa.
Maka hari itu semua perwira keuangan Divisi Siliwangi berkumpul di kamar divisi keuangan. Tiba-tiba terdengar tembakan di luar markas. Tentara Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) pimpinan Kapten Westerling menyerang Bandung. Dengan keji pemberontak ini menembaki semua anggota TNI yang ditemui. Situasi lebih buruk karena menjelang penyerahan kekuasaan dari Belanda, TNI dilarang membawa senjata jika berada di kota. Pasukan APRA bergerak melewati Braga, hampir menuju markas Divisi. Maka Kepala Keuangan Siliwangi bertindak cepat. Dia membagikan uang pada stafnya, yang memasukkan uang ke dalam kantong dan segera melompat menyelamatkan diri. Mereka diperintahkan kembali ke markas esok hari setelah situasi aman dengan membawa uang itu.
"Keesokan harinya semua kembali ke staf dengan membawa uang untuk pasukan-pasukan dan dinas-dinas untuk melaksanakan secara resmi timbang terima uang itu. Ternyata tidak kurang satu sen pun.
Begitulah tanggung jawab anggota TNI," kata Kolonel AE Kawilarang yang pernah menjadi Panglima Teritorium III Siliwangi. Bayangkan berapa besar uang itu. Ketika itu paling tidak Divisi Siliwangi mempunyai 8.000 prajurit. Tapi tak seorang pun punya niat membawa kabur uang tersebut.
"Waktu itu jangan coba anggota keuangan kembali ke pasukannya tanpa uang dengan alasan yang bukan-bukan. Pasti hukum rimba berlaku. Dan tidak ada sogok menyogok waktu itu," kata Kolonel Kawilarang.
Biografi singkat :
Alex Evert Kawilarang adalah salah seorang perwira militer yang termasuk Angkatan '45 dan mantan anggota KNIL.
Lahir: 23 Februari 1920, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia
Meninggal: 6 Juni 2000, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia
Pasangan: Petronella Isabella van Emden (m. ?–1958)
Anak: Alexander Edwin Kawilarang, Pearl Hazel Kawilarang, Aisabella Nelly Kawilarang
Orang tua: Nelly Betsy Mogot, A.H.H. Kawilarang
Sumber : Wikipedia, KpK.go.id, berbagai sumber.
Cerita : "Koin Penyok"
Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.
Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.
Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya
terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.
“Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.
“Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itu pun mengikuti anjuran si Teller, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si Kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.
Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata
pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu.
Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.
Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.
Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?”
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.
Sahabat, Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan? pahamilah makna "Innalillahi, wainna ilaihi roji'un.." : Sesungguhnya kita ini milik Allah, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kita kembali...
Ya, semuanya hanya titipan... dan saya yakin, keluhan-keluhan dan ratapan-ratapan yang berlebihan kita, tidak akan mengembalikan milik kita yang telah hilang...., jadi bersedihlah secukupnya, dan ikhlaskan... Hak-Nya untuk menarik kembali, sesuatu yang telah Ia titipkan kepada kita...
Trimakasih, Salam Motivaziuno....
![]() |
| Koin Penyok |
Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.
Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya
terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.
“Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.
“Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itu pun mengikuti anjuran si Teller, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si Kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.
Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata
pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu.
Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.
Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.
Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?”
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.
(adaptasi dari The Healing Stories karya GW Burns.)
~~~**~~~
Sahabat, Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan? pahamilah makna "Innalillahi, wainna ilaihi roji'un.." : Sesungguhnya kita ini milik Allah, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kita kembali...
Ya, semuanya hanya titipan... dan saya yakin, keluhan-keluhan dan ratapan-ratapan yang berlebihan kita, tidak akan mengembalikan milik kita yang telah hilang...., jadi bersedihlah secukupnya, dan ikhlaskan... Hak-Nya untuk menarik kembali, sesuatu yang telah Ia titipkan kepada kita...
Trimakasih, Salam Motivaziuno....
Jual slondok buat sekolah, Desi selalu Berprestasi
Buat biaya sekolah
Meski harus jualan slondok (makanan seperti kerupuk khas Yogyakarta) dan bekerja sepulang sekolah, Desi Priharyana tidak pernah merasa mengeluh dan menjadikan rasa letih untuk alasan datang terlambat sekolah. Dari kesaksian Dasiman, Satpam di SMKN 2 Yogyakarta, Desi sama sekali tidak pernah terlambat datang ke sekolah.
Padahal jika dibanding dengan temannya yang berangkat sekolah dengan sepeda motor, seharusnya Desi lebih lambat karena harus mengayuh sepeda dan menempuh perjalanan sejauh 12 kilometer. Namun pada faktanya, jutru banyak teman Desi yang menggunakan motor terlambat datang ke sekolah.
"Setiap 07.45 kita sudah tutup gerbang, dan Desi tidak pernah terlambat, malah temannya yang pake motor banyak yang telat," kata Dasiman.
Selain disiplin waktu yang baik dari Desi, Desi juga dikenal siswa yang cukup rajin dikelas. Bukti kerajinannya itu terlihat dari peringkat Desi di kelas yang masuk sepuluh besar.
"Belajar biasa saja, sekarang rangking 7 di kelas," aku Desi.
Sementara itu, Rosmy salah satu guru yang mengajar Desi merasa selama pelajaran Desi jarang mengalami kesulitan. Meski tidak menjadi idola dalam pelajaran di sekolah, Rosmy mengaku bangga punya murid yang memiliki mental kuat seperti Desi.
Menurut Rosmy, dengan segala keterbatasan yang dimiliki Desi, Rosmy merasa salut melihat Desi bisa tetap mengikuti pelajaran dengan baik.
"Dengan keadaan seperti ini, Desi sudah hebat, beban yang ditanggungnya tidak sekedar belajar, tapi dia bisa tetap fokus," kata Rosmy bangga.
Diluar akademik, Rosmy mengaku salut dengan Desi yang berani berjuang dan memiliki karakter yang kuat dalam setiap tindak-tanduknya.
"Guru-guru selalu memberikan support, dan yang terpenting slondoknya enak," candanya.
Kisah cinta dan cita-cita Desi
Desi ingin menjadi seorang pengusaha yang sukses dibidang kuliner. Dia berniat untuk mengembangkan usahanya berjualan Slondok sehingga dia bisa mendapatkan keuntungan besar. Namun hal tersebut baru akan dilakukannya setelah dia menyelesaikan sekolahnya.
"Kalau sekarang waktunya belum ada, nanti kalau sudah lulus pengen saya kembangkan usaha ini," ujar Desi.
Meski demikian, Desi juga berharap, setelah lulus sekolah dia bisa melanjutkan ke perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Dia mengatakan, jika ada kesempatan untuk melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi dia akan memilih UGM atau UNY sebagai tempatnya belajar.
"Kalau ada kesempatan pengen kuliah di UGM atau di UNY di fakultas Teknik, kalau nggak ya masih bisa buka usaha. Doakan bisa dapat beasiswa di sekolah, biar bisa nabung buat kuliah," harap Desi.
Laiknya anak muda yang sedang bergairah dalam urusan cinta, Desi pun tak mau kalah ketinggalan. Biarpun tidak sekeren anak-anak muda yang menggunakan sepeda motor dan dandanan modis, Desi tetap bisa memikat kekasih hatinya.
Dengan malu-malu Desi bercerita tentang kisah cintanya yang tergolong unik. Kala itu desi tengah mendekati seorang gadis yang merupakan atlet atletik. Saat Desi mengutarakan perasaannya dan meminta sang pujaan hati untuk menjadi pacaranya, Desi diberikan syarat.
"Dulu punya pacar, atlet atletik. Sebelum jadian dikasih syarat. Karena dia atlet dikasih syarat harus bisa kalahin dia lari, kalau bisa kalahin mau jadi pacar," kenang Desi.
Tanpa pikir panjang, Desi pun langsung menyanggupi syarat tersebut. Desi pun meminta waktu dua minggu untuk berlatih lari. Setelah dua minggu dilalui, dengan menggunakan sepedanya, Desi melaju dengan semangat dari Toino tempatnya tinggal menuju Kalasan yang jaraknya sekitar 20 kilo meter.
Sampai disana tanpa basa-basi Desi pun langsung mengajak adu lari. Beruntung, Desi memenangkan perlombaan itu sekaligus memenangkan hati pujaannya.
"Untungnya menang, jadi punya pacar," ungkapnya.
Meski demikian, Desi tidak mau disibukkan hanya untuk urusan pacaran. Desi beranggapan masa mudanya jauh lebih berarti jika digunakan untuk berkarya.
"Pacaran ya positif, tapi ada juga hal lain yang baik untuk menunjang masa depan," jelasnya.
sumber : merdeka.com
![]() |
| Jual slondok buat sekolah |
Meski harus jualan slondok (makanan seperti kerupuk khas Yogyakarta) dan bekerja sepulang sekolah, Desi Priharyana tidak pernah merasa mengeluh dan menjadikan rasa letih untuk alasan datang terlambat sekolah. Dari kesaksian Dasiman, Satpam di SMKN 2 Yogyakarta, Desi sama sekali tidak pernah terlambat datang ke sekolah.
Padahal jika dibanding dengan temannya yang berangkat sekolah dengan sepeda motor, seharusnya Desi lebih lambat karena harus mengayuh sepeda dan menempuh perjalanan sejauh 12 kilometer. Namun pada faktanya, jutru banyak teman Desi yang menggunakan motor terlambat datang ke sekolah.
"Setiap 07.45 kita sudah tutup gerbang, dan Desi tidak pernah terlambat, malah temannya yang pake motor banyak yang telat," kata Dasiman.
Selain disiplin waktu yang baik dari Desi, Desi juga dikenal siswa yang cukup rajin dikelas. Bukti kerajinannya itu terlihat dari peringkat Desi di kelas yang masuk sepuluh besar.
"Belajar biasa saja, sekarang rangking 7 di kelas," aku Desi.
Sementara itu, Rosmy salah satu guru yang mengajar Desi merasa selama pelajaran Desi jarang mengalami kesulitan. Meski tidak menjadi idola dalam pelajaran di sekolah, Rosmy mengaku bangga punya murid yang memiliki mental kuat seperti Desi.
Menurut Rosmy, dengan segala keterbatasan yang dimiliki Desi, Rosmy merasa salut melihat Desi bisa tetap mengikuti pelajaran dengan baik.
"Dengan keadaan seperti ini, Desi sudah hebat, beban yang ditanggungnya tidak sekedar belajar, tapi dia bisa tetap fokus," kata Rosmy bangga.
Diluar akademik, Rosmy mengaku salut dengan Desi yang berani berjuang dan memiliki karakter yang kuat dalam setiap tindak-tanduknya.
"Guru-guru selalu memberikan support, dan yang terpenting slondoknya enak," candanya.
Kisah cinta dan cita-cita Desi
![]() |
| Kisah cinta dan cita-cita Desi |
Desi ingin menjadi seorang pengusaha yang sukses dibidang kuliner. Dia berniat untuk mengembangkan usahanya berjualan Slondok sehingga dia bisa mendapatkan keuntungan besar. Namun hal tersebut baru akan dilakukannya setelah dia menyelesaikan sekolahnya.
"Kalau sekarang waktunya belum ada, nanti kalau sudah lulus pengen saya kembangkan usaha ini," ujar Desi.
Meski demikian, Desi juga berharap, setelah lulus sekolah dia bisa melanjutkan ke perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Dia mengatakan, jika ada kesempatan untuk melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi dia akan memilih UGM atau UNY sebagai tempatnya belajar.
"Kalau ada kesempatan pengen kuliah di UGM atau di UNY di fakultas Teknik, kalau nggak ya masih bisa buka usaha. Doakan bisa dapat beasiswa di sekolah, biar bisa nabung buat kuliah," harap Desi.
Laiknya anak muda yang sedang bergairah dalam urusan cinta, Desi pun tak mau kalah ketinggalan. Biarpun tidak sekeren anak-anak muda yang menggunakan sepeda motor dan dandanan modis, Desi tetap bisa memikat kekasih hatinya.
Dengan malu-malu Desi bercerita tentang kisah cintanya yang tergolong unik. Kala itu desi tengah mendekati seorang gadis yang merupakan atlet atletik. Saat Desi mengutarakan perasaannya dan meminta sang pujaan hati untuk menjadi pacaranya, Desi diberikan syarat.
"Dulu punya pacar, atlet atletik. Sebelum jadian dikasih syarat. Karena dia atlet dikasih syarat harus bisa kalahin dia lari, kalau bisa kalahin mau jadi pacar," kenang Desi.
Tanpa pikir panjang, Desi pun langsung menyanggupi syarat tersebut. Desi pun meminta waktu dua minggu untuk berlatih lari. Setelah dua minggu dilalui, dengan menggunakan sepedanya, Desi melaju dengan semangat dari Toino tempatnya tinggal menuju Kalasan yang jaraknya sekitar 20 kilo meter.
Sampai disana tanpa basa-basi Desi pun langsung mengajak adu lari. Beruntung, Desi memenangkan perlombaan itu sekaligus memenangkan hati pujaannya.
"Untungnya menang, jadi punya pacar," ungkapnya.
Meski demikian, Desi tidak mau disibukkan hanya untuk urusan pacaran. Desi beranggapan masa mudanya jauh lebih berarti jika digunakan untuk berkarya.
"Pacaran ya positif, tapi ada juga hal lain yang baik untuk menunjang masa depan," jelasnya.
sumber : merdeka.com
DON’T GIVE UP
Pernah ngeliat ketika seorang bayi lagi belajar berjalan? ketika dia jatuh, apa yang dia lakukan? menangis, setelahnya? coba lagi. Jatuh lagi, nangis lagi. Jatuh lagi. Nagis lagi.. tetapi yang saya heran kenapa dia tidak menyerah? coba kita bayangkan saat menjadi bayi dulu, apa yang membuat kita tidak menyerah saat kita belajar berjalan?
Ini bayangan saya jika saya seorang bayi, sebelum saya belajar jalan saya sudah melihat banyak orang yang bisa berjalan, dan saya mulai sedikit mencoba, ini pengalaman pertama saya, saya coba berdiri “ehh, bisa!!” mulailah saya melangkahkan kaki saya dan jatuh. karena saya sudah melihat banyak orang berjalan saya mulai bangkit lagi, dan kembali melangkahkan kaki saya dengan lebih hati-hati, satu langkah oke langkah kedua jatuh lagi, dan jatuh kali ini lebih sakit dan saya menangis. Tapi apa kata sang mama? coba lagi . .oke lah mama saya coba lagi.. sampai berkali-kali saya jatuh, tetapi saya tetap penasaran kenapa orang lain bisa berjalan? dan saya terus dan terus mencoba sampai pada akhirnya saya bisa berjalan dan bisa berlari, Ohh saya sayangat bahagia mama!!
Seringkali kita lupa bahwa banyak orang yang telah mengalami hal yang sama bahkan lebih parah dari yang kita alami. Kadang rasa penasaran itu muncul, dan kita bertanya-tanya apa yang membuat orang sanggup bertahan dalam masalah? kenapa mereka tidak menyerah saja? jawabanya mereka tau bahwa menyerah bukanlah pilihan terbaik. Tetapi mereka memilih untuk tetap bertahan dan menyelesaikan masalah. Mereka tidak lagi berfokus pada masalah yang mereka hadapi, karena untuk berfokus pada masalah, kita akan lupa bagaimana cara untuk menyelesaikan masalah. Mereka mulai mengalihakan fokus pada 1 hal yaitu penyelesaian masalah.
Coba anda banyangkan seorang Nick Vujicic yang tidak memiliki tangan dan kaki sejak kecil, selalu di ejek teman-temannya, dan banyak orang berfikir tidak ada masa depan bagi dia!! Saat usia 8 tahun dia mulai berniat untuk bunuh diri, dan pada umur 10 tahun dia benar-benar mencoba untuk membunuh dirinya, karena dia memutuskan untuk menyerah pada keadaan. Keadaan yang serba terbatas, keadaan yang begitu buruk, masa depan yang kelam membuatnya putus asa. Tetapi di tengah keputus asaan itu ibunya berkata “engkau akan menjadi inspirasi banyak orang satu saat nanti”, dan benar saja saat dia dewasa dia menjadi inspirasi puluhanribu orang di dunia.
Coba anda bayangkan jika dia menyerah saat umur 10 tahun dan dia berhasil bunuh diri. Apa dia tetap menjadi inspirasi banyak orang? saya rasa tidak. Saat ini renungkanlah kembali saat anda berfikir untuk menyerah pada apapun, karena dengan menyerah kita tidak akan mendapatkan apapun, kita tidak akan belajar sesuatu, dan kita tidak maju kemanapun.
Cobalah untuk tetap bertahan, fokuskanlah pikiran anda pada penyelesaian masalah, bukan pada masalahnya. ketika anda berusaha mencari. anda akan mendapatkan jalan keluarnya. Tetapi ketika anda terus mengeluh, masalah anda tidak akan selesai, semamik anda mengeluh semakin masalah yang kita hadapi terasa berat.. soo Don’t give up kawan..
jadilah orang-orang yang tidak mudah menyerah pada keadaan, karena anda diciptakan untuk mengontrol keadaan bukan keadaan yang mengontrol jalan hidup anda..
If I never try, I’ll never achieve anything.
If I fall down, what do I do?
I am gonna try again and again,
Because the moment I give up is the moment that I’ll fail.
- Nick Vujicic-
Kisah : Demi Cinta, Suami Rela Gemuk Agar Seperti Istrinya
"Seberapa besar cintamu padaku?" Mungkin pertanyaan ini seringkali hinggap di hati wanita pada pasangannya. Banyak orang yang merasa bahwa pertanyaan ini bisa mengukur seberapa besar cinta seseorang pada kita.
![]() |
| Seberapa besar cintamu padaku |
Namun bila Anda bertanya berapa besar cinta Liu Ru pada istrinya yang bertubuh gemuk, mungkin jawabannya adalah sebesar tubuh istrinya. Liu Ru memiliki seorang istri yang membuatnya cinta mati dan dinikahinya semenjak 28 Juni 2013 lalu. Dan diam-diam, ia berencana memiliki tubuh sebesar istrinya, yaitu dengan bobot 140 kg.
Selama ini banyak wanita yang berpikir bahwa mereka harus diet demi bisa dicintai oleh suaminya. Namun pada kenyataannya, pria selalu punya cara yang unik dan tak pernah bisa kita duga untuk menunjukkan cintanya
Sejak menikah, berat badan Liu Ru yang tadinya 63 kg, melonjak hingga 81 kg. Liu mengatakan pada Chang, "Wanitaku, ambisiku adalah menambah berat badan sehingga aku dan dirimu terlihat serasi satu sama lain."
Liu jatuh cinta pada istrinya sejak pandangan pertama. Ia bahkan melamar Chang hanya setelah 4 kali pacaran. Awalnya pasangan ini sempat dikritik oleh keluarga kedua belah pihak. Ayah Liu mengkritik tubuh calon menantunya yang 2 kali lebih besar dari putranya. Sementara ibu Chang merasa Liu terlalu pendek dan langsing.
Namun kalau cinta sudah bicara, restu akhirnya datang juga. Keduanya menikah dan merasakan happy ending. Sebagai seorang istri, Chang pernah mencoba untuk menyamai suaminya. Ia melakukan diet ketat namun dengan hasil yang menyedihkan. Chang kehilangan 5 kg berat badannya, namun kesehatannya menurun.
Oleh karena itu, Liu menjalankan perannya. Ia menambah berat badan bukan hanya sekedar karena cinta, namun karena ingin menjadi pasangan yang serasi dan sempurna bagi Chang. Well, semoga meski ada resiko 'obesitas', keduanya tetap dikaruniai kesehatan dan kebahagiaan. Lagi-lagi, love is not about size. Do you believe it?
sumber : vemale.com
TELADAN : Ir. Tri Rismaharini, M.T. ( Inilah Aksi Nekat Bu Risma demi Warga Surabaya )
Sebelum terpilih menjadi wali kota, Risma pernah menjabat Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) dan Kepala Badan Perencanaan Kota Surabaya hingga tahun 2010. Di masa kepemimpinannya di DKP, bahkan hingga kini menjadi Walikota Surabaya, Kota Surabaya menjadi lebih asri dibandingkan sebelumnya, lebih hijau dan lebih segar. Sederet taman kota yang dibangun di era Tri Risma adalah pemugaran taman Bungkul di Jalan Raya Darmo dengan konsep all-in-one entertainment park, taman di Bundaran Dolog, taman Undaan, serta taman di Bawean, dan di beberapa tempat lainnya yang dulunya mati sekarang tiap malam dipenuhi dengan warga Surabaya. Selain itu Risma juga berjasa membangun pedestrian bagi pejalan kaki dengan konsep modern di sepanjang jalan Basuki Rahmat yang kemudian dilanjutkan hingga jalan Tunjungan, Blauran, dan Panglima Sudirman. Di bawah kepemimpinannya pula, Kota Surabaya meraih tiga kali piala adipura yaitu tahun 2011, 2012, dan 2013 kategori kota metropolitan. Selain itu, kepemimpinan Tri Risma juga membawa Surabaya menjadi kota yang terbaik partisipasinya se-Asia Pasifik pada tahun 2012 versi Citynet atas keberhasilan pemerintah kota dan partisipasi rakyat dalam mengelola lingkungan. Pada Oktober 2013, Kota Surabaya dibawah kepemimpinannya memperoleh penghargaan tingkat Asia-Pasifik yaitu Future Government Awards 2013 di 2 bidang sekaligus yaitu data center dan inklusi digital menyisihkan 800 kota di seluruh Asia-Pasifik
Inilah Aksi Nekat Bu Risma demi Warga Surabaya
Biografi Singkat :
Ir. Tri Rismaharini, M.T.
Wali Kota Surabaya ke-23
Lahir 20 Oktober 1961
Kediri, Jawa Timur, Indonesia
Kebangsaan Indonesia
Partai politik PDI Perjuangan
Suami/istri Djoko Saptoadji
Almamater ITS
Profesi Birokrat di Pemkot Surabaya
Agama Islam
Referensi :
sosok.kompasiana.com
id.wikipedia.org :
![]() |
| Taman Bungkul, Terindah dan terbaik se-Asia oleh PBB. Sumber: Wonderful Indonesia |
Inilah Aksi Nekat Bu Risma demi Warga Surabaya
- Baru beberapa hari lalu, Surabaya perbatasan Gresik terkena banjir. Surabaya memang terkenal sebagai daerah banjir, walaupun dibawah bu Risma jumlah titik rawan banjir jauh berkurang, tetapi tetap ada daerah yang memang banjir mulu, yaitu daerah perbatasan Surabaya-Gresik atau daerah Surabaya Pakal. Mengatasi banjir disini, bu Risma gerak cepat, ikut bersama-sama warga mengatasi banjir, bahkan ikut bantuin angkat pohon tumbang!
![]() |
| Bu Risma ikut bantuin angkat pohon tumbang |
- Sekarang Surabaya begitu asri dengan taman-taman. Dan taman-taman ini sangat hidup bahkan hingga malam hari, warga pada ‘liburan’ kesini. Karena konsepnya lengkap, baik untuk lingkungan, sosial, budaya warga. Aksi nekat lainnya adalah ketika bu Risma hendak mengambil alih SPBU yang dibangun di jalur hijau untuk dijadikan taman. Pemilik SPBU ngotot tidak mau. Walaupun berkali-kali negosiasi tetap tidak berhasil. Akhirnya tengah malam bu Risma datang ke SPBU, jalanan di tengahnya dilubangin, terus ditanamin pohon. Langsung pemilik SPBU nya nyerah.
- Ikut razia ABG di diskotik dan menyemprot mucikasi pedagang ABG. Ini dilakuan bu Risma ketika seorang perempuan yang telah memperdagangkan 11 ABG ditangkap polisi. Mereka dimarah-marahin oleh bu Risma, sang ABG disuruh minta maaf kepada ibunda yang telah melahirkannya
- Ketika awal menjadi walikota, bu Risma mendatangi kantor Wakil Presiden untuk membicarakan pembangunan pelabuhan Surabaya yang sudah berpuluh-puluh tahun tertunda. Dan bu Risma tidak mau meninggalkan kantor tersebut (walau sudah dipersilahkan pergi) hingga saat itu juga ada kesepakatan pembangunan. Seminggu kemudian groundbreaking dilaksanakan, dan sekarang pelabuhan Surabaya menjadi pelabuhan sangat sibuk dan peningkatan kapasitanya mencapai 200%.
- Bu Risma juga menjalin sister city agreement dengan Antwerp Belgia, salah satu pelabuhan terpenting Eropa, sehingga kargo-kargo tidak perlu singgah di Singapura, tetapi langsung ke Surabaya. Sangat efisien mengurang fee perdagangan antar negara.
- Di bawah bu Risma, Surabaya menikmati pertumbuhan ekonomi mencapai 7,5%!
- Ketika memulai sistem e-budgeting dan e-procurement, bu Risma sempat mendapat ancaman pembunuhan, karena terlalu banyak orang yang kepentingannya terusik. Tetapi bu Risma jalan terus. Surabaya merupakan wilayah di Indonesia yang pertama kali menerapkan sistem ini, dan sangat efisien dalam transparansi anggaran, pertanggung jawaban dan penggunaannya.
- Aksi nekat yang menunjukkan betapa bu Risma itu memang berupaya untuk dekat dengan rakyatnya adalah selalu blusukan ke warga di gang-gang. Berbeda dengan bu Atut yang suka plesiran belanja di luar negri, bu Risma malah suka blusukan ke gang-gang sempit di daerahnya. Menyapa anak-anak main bola, menindak ABG yang terjun ke prostitusi dan pagi-pagi subuh suka ngider ngutipin sampah di Surabaya.
- Mengendalikan demo buruh, bonek sepakbola. Jangan kira disini bu Risma tidak turun tangan. Untuk mengatasi demo buruh setiap bulan Mei, bu Risma mengadakan di stadion atau dikumpulkan disuatu tempat. Disini bebas berorasi, dengar dangdutan, dan bahkan ada doorprize nya segala, hehee. Memang ada juga buruh militan yang menganggap ini ’sogokan’ tetapi banyak juga yang berpikir lebih baik seperti ini, yang penting suara buruh didengar. Sedangkan bonek sepakbola yang mengamuk dan bikin kerusuhan, ini juga disemprot oleh bu Risma langsung kepada bonek tersebut. Supaya jangan ada korban dan lebih tertib jika nonton bola.
- Aksi nekat mengatur PSK Dolly. Sebenarnya Gubernur sudah memerintahkan agar langsung menutup, tetapi Bu Risma ingin bertahap. Jadi harus ada alternatif dulu agar kawasan ini lebih siap secara ekonomi. Jadi dibikinin sentra kerajinan atau sentra makanan. Tetapi aksi ini belum tuntas tentu, karena perlawanan warga dan PSK Dolly dikawasan ini juga bukan main-main.
- Aksi nekat tetap mengajukan kebijakan yang dianggap baik walaupun ditentang pusat dan DPRD Surabaya, seperti membatalkan tol dalam kota dan menata serta menaikkan pajak billboard reklame. Untuk kasus ini malah bu Risma sampe dilengserkan oleh DPRD, tetapi bu Risma tidak takut, cuek. Keputusan ini dianulir oleh Kementrian Dalam Negri.
Biografi Singkat :
Ir. Tri Rismaharini, M.T.
Wali Kota Surabaya ke-23
![]() |
| Ir. Tri Rismaharini, M.T. |
Kediri, Jawa Timur, Indonesia
Kebangsaan Indonesia
Partai politik PDI Perjuangan
Suami/istri Djoko Saptoadji
Almamater ITS
Profesi Birokrat di Pemkot Surabaya
Agama Islam
Referensi :
sosok.kompasiana.com
id.wikipedia.org :
- ^ kota-surabaya.html Selamat Kepada Ir. Tri Rismaharini Sebagai Walikota Surabaya
- ^ Tri Risma Harini, On Air Demi Warga
- ^ Forum RT-RW Dukung Tri Rismaharini
- ^ DPRD Surabaya Didesak Berhentikan Tri Rismaharini
- ^ a b c kota-surabaya-diberhentikan-dprd/ Konyol, Hanya Karena Iklan Walikota Surabaya Diberhentikan DPRD
- ^ Wakil Walikota Surabaya Bantah Terlibat dalam Aksi Pemberhentian Walikota
TELADAN : Muhammad Natsir
Muhammad Natsir pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan, anggota parlemen, dan puncaknya pernah menjabat sebagai Perdana Menteri ke-5 RI periode 1950-1951. Ia tidak hanya seorang pejabat negara dan politisi, tapi juga seorang ulama. Pendiri sekaligus pemimpin Partai Masyumi. Di kancah internasional, ia pernah menjabat sebagai Presiden Liga Muslim se-Dunia (World Muslim Congress) dan Ketua Dewan Masjid se-Dunia.
Pria kelahiran Sumatera Barat, 17 Juli 1908 ini tetaplah sosok yang sederhana, jujur, dan rendah hati. Ketegasannya sebagai negarawan sekaligus ulama, menjadikannya sebagai sosok yang disegani sekaligus ditakuti musuh-musuh politiknya. Tak jarang, ia keluar masuk penjara karena bersuara lantang membela kebenaran.
Tentang kesederhanaan Natsir, banyak sudah yang mengisahkan. Seorang putri Natsir, Sitti Muchliesah, memiliki kenangan teramat dalam mengenai sosok sang ayah. Suatu ketika, dari balik lemari yang menjadi sekat ruang tamu, Lies, begitu Muchliesah dipanggil, bersama empat adik dan sepupunya, mencuri dengar pembicaraan Natsir dengan seorang tamu dari Medan. Mereka mendengar sang ayah hendak dikasih sumbangan mobil.
Lies pun menyangka mobil itu, Chevrolet Impala, yang sudah terparkir di depan rumahnya di Jalan Jawa 28 (kini Jalan HOS Cokroaminoto), Jakarta Pusat, itu akan menjadi milik keluarganya. Sedan besar buatan Amerika itu memang tergolong ”wah” pada 1956. Saat itu Natsir, yang menjabat sebagai anggota parlemen dan memimpin Fraksi Masyumi, hanya punya mobil pribadi bermerek DeSoto yang sudah kusam.
“Pandai-pandailah mensyukuri nikmat yang ada,” Begitu pesannya kepada putrinya. Bukan semata-mata karena penolakan Impala, namun juga untuk berbagai sisi kehidupan yang lain. Ketika sang ayah menjadi Menteri Penerangan, 1946, misalnya, Lies mengenang bahwa keluarga mereka kerap menumpang di rumah orang. Pernah mereka tinggal seadanya di rumah milik sahabat sang ayah, Prawoto Mangkusasmito, di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Pernah pula, ketika pusat pemerintahan pindah ke Yogyakarta, keluarga Natsir menumpang di paviliun milik Haji Agus Salim di Jalan Gereja Theresia, sekarang Jalan H Agus Salim.
Periode menumpang di rumah orang, baru berakhir ketika mereka menempati rumah di Jalan Jawa, pada 1946. Rumah tanpa perabotan ini dibeli pemerintah dari seorang saudagar Arab dan kemudian diserahkan untuk Menteri Penerangan. ”Kami mengisi rumah itu dengan perabot bekas,” kenang Lies. Tidak hanya keluarga yang mengenang kesederhanaan Natsir. George McTurnan Kahin, sosiolog asal Amerika, juga sangat terkesan dengan pribadi Natsir. Dalam bukunya, Natsir : 70 Tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan - Kahin bercerita tentang pertemuan pertama yang mengejutkan.
Natsir, waktu itu Menteri Penerangan, berbicara apa adanya tentang negeri ini kepada Kahin. Tapi, ternyata bukan itu yang membuat Kahin terpukau kepada Natsir. ”Ia memakai kemeja bertambal, sesuatu yang belum pernah saya lihat di antara para pegawai pemerintah mana pun,” kata Kahin, yang juga merupakan guru besar Universitas Cornell, USA. Apa yang dikatakan Kahin, bisa jadi sesuai dengan pengalaman Yusril Ihza Mahendra pada masa yang berbeda. Yusril, yang pernah menjadi anggota staf Natsir, menuturkan atasannya itu acap ke kantor mengenakan kemeja itu-itu saja. “Kalau tidak baju putih yang di bagian kantongnya ada noda bekas tinta, kemeja lain adalah batik berwarna biru,” kata Yusril.
Perdana Menteri Yang Terus Sederhana
Ya, begitulah kesederhanaan seorang Natsir. Bahkan, di puncak karier politiknya sebagai Perdana Menteri, 1950, sekalipun. Saat itu, keluarga Natsir menempati rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur (sekarang Tugu Proklamasi), Jakarta Pusat. Natsir menempati rumah Soekarno, karena tidak diperkenankan menghuni rumah di Jalan Jawa. Alasannya, rumah tersebut sempit dan kusam, sehingga dianggap tidak layak buat pemimpin pemerintah. Pada masa itulah kehidupan keluarga Natsir dibatasi protokoler dan dipenuhi berbagai fasilitas.
Namun, semua fasilitas tidak membuat keluarga Natsir manja dan lupa diri. Misalnya saja, Lies yang saat itu duduk di kelas II SMP tetap naik sepeda ke sekolah. Begitu juga dengan adik-adiknya, yang diantar-jemput dengan mobil DeSoto yang dibeli dari uang sendiri. Sedangkan sang ibu, masih kerap berbelanja ke pasar dan memasak sendiri. “Keluarga kami sama sekali tidak pernah memanfaatkan fasilitas pemerintah, misalnya perjalanan dinas,” kata Lies.
Kisah tentang kejujuran Natsir terus bergulir. Tatkala Natsir mundur dari jabatannya sebagai Perdana Menteri di tahun 1951, sekretarisnya, Maria Ulfa, menyodorkan catatan sisa dana taktis yang saldonya lumayan banyak. Maria mengatakan, dana itu menjadi hak Perdana Menteri. Tapi Natsir menggeleng. Dana itu akhirnya dilimpahkan ke koperasi karyawan tanpa sepeser pun mampir ke kantongnya. Tidak hanya menolak sisa dana taktis. Di ujung jabatannya tersebut, Natsir juga meninggalkan mobil dinasnya di Istana Presiden. Lalu, ia pulang berboncengan sepeda dengan mantan sopirnya.
Biografi Singkat :
Mohammad Natsir adalah seorang ulama, politisi, dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan pendiri sekaligus pemimpin partai politik Masyumi, dan tokoh Islam terkemuka Indonesia.
Lahir: 17 Juli 1908, Kota Solok, Indonesia
Meninggal: 6 Januari 1993, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia
Partai: Majelis Syuro Muslimin Indonesia
TELADAN : Prof Nelson Tansu, PhD - Pakar Teknologi Nano dari Indonesia
Berita dari Medan itu membuat Nelson Tansu lemas. Di Universitas Lehigh, Pennsylvania, Amerika Serikat, tempatnya bekerja sehari-hari, Agustus 2 tahun lalu ia meradang. Kabar itu demikian membuatnya shocked: mama tercintanya, Auw Lie Min, dan papa tersayangnya, Iskandar Tansu, direktur percetakan PT Mutiara Inti Sari, tewas. Mereka dibunuh oleh perampok di area perkebunan karet PTPN II Tanjung Morawa.
![]() |
| Prof Nelson Tansu, PhD ( tengah ) |
Peristiwa itu sempat membuatnya "tak percaya" terhadap Indonesia. Pria kelahiran 20 Oktober 1977 ini adalah seorang jenius. Ia adalah pakar teknologi nano. Fokusnya adalah bidang eksperimen mengenai semikonduktor berstruktur nano.
Teknologi nano adalah kunci bagi perkembangan sains dan rekayasa masa depan. Inovasi-inovasi teknologi Amerika, yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari seluruh orang di dunia, bertopang pada anak anak muda brilian semacam Nelson. Nelson, misalnya, mampu memberdayakan sinar laser dengan listrik superhemat. Sementara sinar laser biasanya perlu listrik 100 watt, di tangannya cuma perlu 1,5 watt.
Penemuan-penemuannya bisa membuat lebih murah banyak hal. Tak mengherankan bila pada Mei lalu, di usia yang belum 32 tahun, Nelson diangkat sebagai profesor di Universitas Lehigh. Itu setelah ia memecahkan rekor menjadi asisten profesor termuda sepanjang sejarah pantai timur di Amerika. Ia menjadi asisten profesor pada usia 25 tahun, sementara sebelumnya, Linus Pauling, penerima Nobel Kimia pada 1954, menjadi asisten profesor pada usia 26 tahun. Mudah bagi anak muda semacam Nelson ini bila ingin menjadi warga negara Amerika.
Amerika pasti menyambutnya dengan tangan terbuka. "Apakah tragedi orang tuanya membikin Nelson benci terhadap Indonesia dan membuatnya ingin beralih kewarganegaraan?" "Tidak. Hati Saya tetap melekat dengan Indonesia," katanya kepada Tempo. Nelson bercerita, sampai kini ia getol merekrut mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan riset S-2 dan S-3 di Lehigh. Ia masih memiliki ambisi untuk balik ke Indonesia dan menjadikan universitas di Indonesia sebagai universitas papan atas di Asia.
Jawaban Nelson mengharukan. Nelson adalah aset kita. Ia tumbuh cemerlang tanpa perhatian negara sama sekali. Bila Koran Tempo kali ini menurunkan liputan khusus mengenai orang-orang seperti Nelson, itu karena koran ini melihat sesungguhnya kita cukup memiliki ilmuwan dan pekerja profesional yang berprestasi di luar negeri. Diaspora kita bukan hanya tenaga kerja Indonesia. Kita memiliki sejumlah Nelson lain—di Amerika, Eropa, dan Jepang. Orang orang yang sebetulnya, bila diperhatikan pemerintah, akan bisa memberikan sumbangan berarti bagi kemajuan Indonesia.
DROP OUT ( DO ) , Apa Tujuan Mereka?
Mungkin dari Anda sudah banyak mendengar kata pengusaha. Namun tahukah Anda bahwa seorang pengusaha harus mempunyai sikap untuk terus belajar, Sampai kapanpun tak pernah berhenti belajar dari kehidupan untuk membangun bisnis Usahanya.
![]() |
| Bill Gates and Mark Zuckerberg |
Namun akan timbul pertanyaan, jika tokoh pengusaha sukses seperti Mark Zunberg, Bill Gates, maupun pengusaha lainnya memiliki sikap terbuka untuk belajar? Faktanya mereka memilih drop out di tengah kuliah mereka. Bukankah itu indikasi bahwa pengusaha tidak mau menghabiskan banyak waktu untuk belajar?
Sebenarnya mereka itu belajar, Namun mereka melakukan Drop-Out dari bangku kuliah karena sudah menemukan apa yang mereka inginkan dalam hidup. Daripada menghabiskan waktu dan biaya di bangku kuliah, mereka sudah mulai terjun di bidang usaha pada usia relatif muda.
Perlu Anda ketahui, pengusaha sukses seperti Mark Zunberg pendiri Facebook ataupun Bill Gates pendiri Microsoft memiliki pola pikir yang berbeda dengan sebagian besar orang. Tidak seperti rekan kuliahnya yang cenderung menyerap teori pada bangku kuliah, Mark dan Bill tidak tertarik untuk mencari kebenaran absolut, tetapi lebih melihat peluang untuk langsung mempraktekan apa yang mereka pelajari dan segera menikmati hasilnya.
Di saat para mahasiswa lain begitu terobsesi untuk mendapat ijazah dan nilai yang terbaik, sebagai bukti pengakuan dari kampus bahwa mereka telah lulus jenjang pendidikan tertentu. Para pengusaha teknologi itu (Mark Zunberg dan Bill Gates) merasa tidak perlu mendapatkan pengakuan dari orang lain atas apa yang mereka lakukan. Mereka lebih terarik melihat hasil dari usaha mereka.
Walaupun terkesan seperti anak berandalan, mereka adalah pembelajar yang hebat. Bedanya dengan para brandal kampus ataupun preman sekolah lainnya yang sering bolos. Bill dan Mark itu tetap konsisten untuk mewujudkan impiannya, mereka rela berputar otak dan tidak mudah bosan dengan apa yang mereka kerjakan. Tentu itu berbeda dengan brandal kampus bukan?
TELADAN : KH. Wahid Hasyim
Nama KH. Abdul Wahid Hasyim tak akan bisa lepas dari bangsa ini. Bukan hanya masyarakat Jombang, kota dimana Pondok Pesantren Tebu Ireng berada. Bukan hanya masyarakat Jawa Timur yang mengenalnya sebagai salah satu tokoh NU kharismatik yang pernah dimiliki. Lebih dari itu, Wahid Hasyim juga sangat dikenal di seluruh penjuru negeri ini. Penyebabnya, karena meski menjadi menteri pada beberapa kabinet sejak diangkat sebagai menteri pada kabinet pertama, namun sikapnya tetap rendah hati dan dekat dengan rakyat.
Wahid Hasyim bukanlah sosok yang gila jabatan. Sewaktu terjadi perombakan kabinet dan namanya tidak tercantum lagi dalam daftar nama anggota kabinet baru, beberapa orang tampak kecewa, terutama kaum Nahdliyyin. Mereka beramai-ramai mendatangi kediaman kyai yang selalu tampil perlente itu dan menumpahkan kekecewaannya.
Tetapi yang terjadi sungguh di luar dugaan. Ketika para pendukungnya datang dengan wajah muram, Wahid Hasyim justru banyak tersenyum dan melempar tawa. "Kami merasa kecewa karena Gus Wahid tidak duduk lagi di kabinet," kata H. Azhari, seorang di antara mereka.
"Tak usah kecewa. Saya toh masih bisa duduk di rumah. Saya mempunyai banyak kursi dan bangku panjang. Tinggal pilih saja," jawab sang kyai sekenanya. Yang hadir pun tertawa. Seperti itulah Wahid Hasyim, yang dekat dengan rakyat dan kaum jelata. Bahkan, untuk urusan makanpun, ayah Gus Dur ini tidak pernah neko-neko. Pesan Rasulullah SAW, "Kami adalah golongan orang-orang yang makan bila merasa lapar dan jika makan pun tidak sampai kenyang," - sepertinya itu dimaknai benar dalam keseharian Wahid Hasyim.
Seorang kyai NU, KH Syaifuddin Zuhri pernah menyertai Wahid Hasyim dalam perjalanan ke Jawa Barat. Ketika itu, Wahid Hasyim sedang berpuasa sunnah. Sesampainya di hotel, tepat dengan waktu makan sahur, KH. Syaifuddin Zuhri pun menyadari bahwa dia lupa menyediakan santapan sahur bagi sang kyai. Yang ada hanya sebutir telur rebus dari sisa santapan sahur malam sebelumnya dan segelas teh bagian KH Syaifuddin Zuhri ketika sore. Tetapi Wahid Hasyim tak peduli. Dia tidak mau menyuruh KH Syaifuddin Zuhri mencarikan makanan lain yang "lebih layak", namun lebih memilih menyantap makanan yang telah tersedia tersebut.
Wahid Hasyim juga dikenal sederhana dan selalu menjalin silaturahim dengan banyak orang. Ketika diangkat menjadi menteri oleh Presiden Soekarno, dia tetap menulis surat-surat yang diketik sendiri kepada teman-temannya, baik yang masih sering berjumpa, apalagi yang sudah jarang bersua. Surat-suratnya biasanya berisi anjuran mempererat tali persaudaraan, paparan perkembangan masyarakat dan menasihatkan cara-cara menghadapi situasi terkini.
Yang mengagumkan, Wahid Hasyim tidak hanya memberi nasehat namun juga melaksanakan. Pernah, dia menerima surat dari orang tidak dikenal. Si pengirim surat mengaku sebagai petani miskin yang diperlakukan tidak adil oleh pamong desanya. Sesuai membaca surat itu, Wahid Hasyim membalas dengan santun dan penuh nasihat. Dan tidak hanya itu, tak disangka-sangka, beberapa waktu kemudian, sang menteri lantas mencari sendiri alamat si pengirim surat di daerah Kediri untuk bersilaturahmi.
Di sanalah Wahid Hasyim menemuinya, dan kemudian membantu petani itu mendapatkan keadilan.
Biografi singkat :
Kiai Haji Abdul Wahid Hasjim ( Wahid Hasjim )
Kiai Haji Abdul Wahid Hasjim adalah pahlawan nasional Indonesia dan menteri negara dalam kabinet pertama Indonesia.
Lahir: 1 Juni 1914, Jawa, Indonesia
Meninggal: 19 April 1953, Kota Cimahi, Indonesia
Anak: Abdurrahman Wahid
TELADAN : Sri Sultan Hamengku Buwono IX
Tak banyak pemimpin bersahaja di negeri ini. Sri Sultan Hamengku Buwono IX, mungkin salah satunya.
![]() |
| Sri Sultan Hamengku Buwono IX |
"Adigang, adigung, adiguna," begitulah pepatah Jawa mengatakan. Artinya kurang lebih: mentang-mentang kaya, mentang-mentang berkuasa, mentang-mentang kuat, dan sebagainya. Pokoknya, semua hal yang berkaitan dengan "mentang-mentang" itu tadi. Dalam keseharian, kita tentu banyak melihat kondisi seperti itu. Para pemimpin yang mumpung berkuasa, akan memanfaatkan jabatannya untuk meraih keuntungan pribadi, dan sebagainya.
Sebagai raja di tanah Jawa, Sri Sultan Hamengku Buwono IX tentu memahami benar pepatah itu. Untuk itu, dia merasa tak elok jika kemudian justru terjebak ke dalamnya.
Andap asor atau tetap merendah tanpa mengurangi wibawa, adalah sikap yang bijak bagi seorang pemimpin. Banyak contoh sikap Sultan yang layak diteladani tentang kesahajaan sebagai pemimpin. Jujur, rendah hati, sederhana, dan tentu saja berintegritas tinggi.
Kala itu, pertengahan 1960-an. Sultan mengendarai sendiri mobilnya ke luar kota, tepatnya Perjalanan ke Pekalongan. Entah mengapa, saat itu Sultan melakukan kesalahan dan melanggar rambu lalu lintas. Seorang polisi yang sedang berjaga memergokinya. Dan, priiiit…. polisi tadi pun menghentikan kendaraan Sultan.
"Selamat pagi!" Brigadir Royadin, polisi tadi, memberi hormat dengan sikap sempurna, ""Selamat pagi, bisa ditunjukan rebuwes," kata Royadin. Rebuwes adalah surat kendaraan saat itu. Ia meminta surat surat mobil berikut surat izin mengemudi kepada Sultan. Ketika itu surat izin mengemudi (SIM ) memang dikenal sebagai rebuwes.
Sultan pun tersenyum dan mengeluarkan rebuwes-nya. Nah, pada saat itulah sang polisi baru sadar kalau pria tersebut adalah Sultan. Brigadir Royadin pun gugup bukan main. Namun hanya sekejap karena tak lama dia pun mencoba memperbaiki sikap wibawanya sebagai polisi.
"Bapak melangar verbodden, tidak boleh lewat sini, ini satu arah!", "Benar…saya yang salah," kata Sultan. Sesaat Sultan melihat ada keragu-raguan di wajah sang polisi. "Buatkan saja saya surat tilang," begitu kata Sultan menegaskan. Begitulah, singkat cerita, sang polisi pun melakukan tilang kepadasultan. Tak ada sikap mentang-mentang berkuasa yang diperlihatkan Sultan saat itu.
Masih banyak lagi contoh kesahajaan Sultan. Di lain waktu, mobil Sultan juga pernah dihentikan seorang ibu penjual sayur. Sang ibu yang tidak mengenal Sultan, meminta tolong sultan mengantarkannya ke Pasar Beringharjo. Sultan menuruti permintaan ibu tadi, dan bahkan tak menolak ketika sang ibu memintanya menurunkan barang dagangan itu sesampainya di tempat.
Setelah karung-karung sayur ditaruh, sang ibu itu bertanya "Berapa ongkosnya, Pak Sopir?"
"Wah, ndak usah Bu," kata Sultan.
"Walaah, Pak Sopir. Kayak ndak butuh uang saja!" ujar ibu tersebut.
"Sudah tidak usah Bu, terima kasih." balas Sultan.
"Lho, kurang tho? Biasanya saya ngasihnya juga segini?" kata Ibu itu.
"Ndak apa- apa Bu, saya cuma membantu," kata Sultan. Tak lama, Sultan pun tersenyum dan pamit bergegas meninggalkan pasar.
Setelah itu, seorang mantri polisi yang sedari tadi mengamati peristiwa tersebut, mendekati ibu pedagang sayur dan menjelaskan siapa sebenarnya sosok laki-laki yang sudah membantunya. Si ibu pun terkejut bukan main dan hendak meminta maaf, namun Sultan sudah berlalu.
Biografi Singkat :
![]() |
| Hamengkubuwana IX |
Sri Sultan Hamengkubuwana IX, lahir di Yogyakarta, Hindia-Belanda, 12 April 1912 – meninggal di Washington, DC, Amerika Serikat, 2 Oktober 1988 pada umur 76 tahun.
Lahir: 12 April 1912, Kota Yogyakarta, Indonesia
Meninggal: 1 Oktober 1988, Universitas George Washington
Pendidikan: Universitas Leiden
Orang tua: Hamengkubuwana VIII
Anak: Hamengkubuwana X
sumber 1: Kisah Brigadir Royadin dan Sultan HB IX ( tribun news )
sumber 2: Biografi Sri Sultan Hamengkubuwana IX (wikipedia )
TELADAN : KH . Saifuddin Zuhri
![]() |
| KH . Saifuddin Zuhri |
Aneh! Bisa jadi, begitulah kesan ketika KH. Saifuddin Zuhri tidak langsung menerima tawaran Presiden Soekarno menjadi Menteri Agama, 17 Februari 1962 silam. Terlebih jika dilihat dari sudut pandang masyarakat sekarang, ketika banyak orang berlomba-lomba mengejar jabatan.
Tetapi seperti itulah Saifuddin, yang sebelumnya menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Seusai Soekarno memintanya menggantikan KH. Wahib Wahab yang mundur sebagai Menteri Agama, Saifuddin justru meminta waktu kepada Presiden. Yang dilakukan Saifuddin kala itu, adalah meminta pendapat terlebih dahulu kepada tokoh teras NU, khususnya KH. Wahab Chasbullah, KH Idham Chalid, dan KH. Wahib Wahab sendiri.
Tidak gila jabatan, sederhana, jujur, dan memegang amanah, begitulah pada akhirnya Saifuddin dalam mengemban amanah. Suatu karakter terpuji, yang memang dimilikinya sejak kecil. Saifuddin juga tidak mengenal aji mumpung. Dia tidak mau memanfaatkan jabatannya, misalnya dengan perbuatan yang memperkaya atau menguntungkan diri sendiri, kelompok, atau keluarga. Lagi-lagi, sungguh jauh bila dibandingkan dengan polah para pejabat negeri ini sekarang.
Pernah suatu ketika, adik iparnya, Mohammad Zainuddin Dahlan mendatangai Departemen Agama. Ketika itu, siapa lagi yang hendak ditemui kalau bukan Saifuddin yang menjadi orang nomor satu di departemen tersebut. Dengan sedikit berbasa-basi, sampailah sang adik pada maksud utamanya. Zainuddin berkata, bahwa dia ingin diberangkatkan ke tanah Suci, untuk menunaikan ibadah haji. Dari mana biayanya? Tentu saja dari Departemen Agama.
Mendengar permintaan tersebut, sontak Saifuddin menolak. Dengan sangat halus dia mengatakan, bahwa tidak mungkin dirinya memberangkatkan kerabatnya sendiri untuk pergi haji. Mungkin memang benar bahwa jika dilihat dari sisi ekonomi dan jasa sang adik dalam perjuangan negeri ini, sebenarnya Departemen Agama memiliki hak untuk memberangkatkan seseorang. Namun kendalanya itu tadi, karena Zainuddin adalah kerabatnya sendiri.
“Satu hal yang menyebabkan saya tidak mungkin membantu melalui haji departemen, karena kamu adalah adikku,” ujar sang menteri.
Begitulah Saifuddin. Selain amanah, dia juga terus hidup sederhana dan menjunjung tinggi kejujuran. Baik sebelum, semasa, dan seusai menjabat sebagai menteri. Faktanya, tak pernah Saifuddin hidup bergelimang kemewahan hingga akhir hayatnya. Bahkan saking sederhananya, sampai-sampai dia rela melakukan pekerjaan halal apapun demi menghidupi keluarga.
Hal itu bisa dilihat pada akhir 1980-an, jauh ketika sang kiai tak lagi menjabat sebagai menteri. Ketika itu, putra-putrinya merasa heran dengan kebiasaan Saifuddin. Setiap habis Shalat Dhuha, sekitar pukul 09.00, dia keluar rumah mengendarai mobilnya sendiri. Ke mana gerangan Saifuddin pergi? Dan untuk urusan apa? Kegiatan ini berjalan cukup lama tanpa satupun anggota keluarganya mengetahui. Sampai suatu hari, salah seorang putranya berhasil memergoki apa yang dikerjakan sang kiai di luar rumah. Bukan kepalang kagetnya, ketika sang putra mengetahui yang dikerjakan oleh ayahnya selama ini.
Rupanya, Saifuddin pergi ke pusat perdagangan Glodok. Tanpa harus merasa jatuh gengsi, dia berdagang beras kecil-kecilan demi menambah keuangan keluarga. Berdagang kecil-kecilan, baginya jauh lebih mulia ketimbang harus mendapatkan harta secara tidak halal dan memanfaatkan jabatan.
Biografi Singkat :
Menteri Agama Republik Indonesia ke-9
Masa jabatan 6 Maret 1962 – 17 Oktober 1967
Didahului oleh K.H. M. Wahib Wahab
Digantikan oleh KH. Muhammad Dahlan
Informasi pribadi
Lahir 1 Oktober 1919
Banyumas, Jawa Tengah, Hindia Belanda
Meninggal, 25 Februari 1986 (umur 66)
TELADAN : SK Trimurti ( Wartawan Tiga Jaman )
Teladan : SK Trimurti
![]() |
| SK Trimurti |
"Tri, tulislah karangan, nanti kami muat dalam majalah Fikiran Ra’jat.” Kata-kata inilah yang menggugah SK Trimurti untuk pertama kali menulis. Kata-kata tersebut diucapkan oleh Bung Karno, tokoh utama pembebasan nasional Indonesia dan sekaligus Presiden Indonesia yang pertama, di tahun 1933.
Sejak saat itulah SK Trimurti mulai menulis di harian Fikir’an Rakjat, dimana Bung Karno menjadi redaktur kepala (Pimred). Sebuah majalah politik yang
berhaluan radikal, nasionlis, anti-kolonialisme, dan anti-imperialisme. Meski hanya sekali menulis di Fikiran Rakyat, namun Trimurti sangat bangga.
Dari sana muncul kepercayaan dirinya, meski akhirnya majalah kaum nasionalis revolusioner itu tidak terbit karena Bung Karno, ditangkap penguasa kolonial.
Sejak itulah, Trimurti mulai berjuang sebagai seorang jurnalis. Perjuangannya kala itu, tentu saja dalam rangka melakukan perlawanan terhadap kolonial
Belanda.
Setelah itu, melalui berbagai tulisannya, Trimurti meneruskan perjuangannya. Antara lain, melalui koran terbitan Surabaya, “Berdjoang”, yang dipimpin seorang pejuang juga, Doel Arnowo. Setelah itu, dia juga mendirikan majalah Bedoeg. Trimurti terinspirasi bedug di masjid, yang dipergunakan untuk memanggil orang Islam menunaikan sholat. Dia pun menginginkan korannya itu bisa membangunkan dan memanggil rakyat untuk berjuang. Dan benar, melalui tulisan-tulisannya, SK Trimurti terus berjuang melawan penjajah.
Keberanian Trimurti bukan tidak berisiko. Melalui karya-karya dan tulisannya, ia bahkan pernah dijebloskan ke dalam penjara oleh Belanda. Bahkan, SK Trimurti yang kemudian menikah dengan Sayuti Melik, melahirkan anak pertamanya dalam penjara Belanda yang kumuh dan sempit kala itu.
Pada masa kemerdekaan, SK Trimurti tak juga berhenti berjuang, meski pada sisi berbeda. Dia sempat diangkat sebagai Menteri Perburuhan dalam Kabinet Amir Syarifuddin, mulai dari 3 Juli 1947 sampai 23 Januari 1948. Awalnya dia menolak, namun berkat bujukan Drs Setiajid, hatinya pun luluh. Sebagai menteri, kala itu SK Trimurti juga terus berjuang untuk meningkatkan taraf hidup para buruh di Tanah Air.
Selepas menjadi menteri di Kabinet Amir Syarifuddin, giliran Soekarno yang menunjuknya menjadi Menteri Sosial. Namun, lagi-lagi SK Trimurti menolak jabatan itu, dan kali ini tak ada yang berhasil membujuknya. Keberanian Trimurti menolak dua kali jabatan menteri, sungguh layak diacungi jempol. Trimurti menunjukkan bahwa dirinya tidak gila jabatan dan kehormatan.
Ir. Setiadi Reksoprojo, yang sama-sama menjadi menteri dengan Trimurti dalam Kabinet Amir Sjarifuddin, mengatakan bahwa SK Trimurti adalah orang yang sangat kritis dan berwawasan jauh ke depan. Hidup beliau, katanya, selalu dihiasi oleh kesederhanaan dan rendah hati. Bahkan, sebenarnya sebagai mantan menteri, Trimurti berhak atas rumah yang layak di kawasan Menteng. Tetapi ia memilih rumah sederhana di Jalan Kramat Lontar. Alasannya waktu itu, karena dia merasa lebih dekat dengan kampung dan ingin tinggal dekat dengan rakyat biasa.
Biografi singkat :
Surastri Karma Trimurti, yang dikenal sebagai 'S. K. Trimuti ', adalah Indonesia n wartawan, penulis dan guru, yang mengambil bagian dalam gerakan kemerdekaan Indonesia terhadap penjajahan oleh Belanda.
Lahir: 11 Mei 1912, Hindia-Belanda
Meninggal: 20 Mei 2008, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia
Pendidikan: Universitas Indonesia
Langganan:
Postingan (Atom)























