Dapatkan motivasi, artikel motivasi, kata bijak, inspirasi, semangat kerja, semangat belajar, dan tips sukses OR
Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan

Cerita : Percakapan seekor unta muda dengan induknya

Percakapan seekor unta muda dengan induknya

Percakapan seekor unta muda dengan induknya.

“Ibu, boleh aku bertanya sesuatu”, sang anak berkata.

“Ya, anakku apakah ada yang mengganggu pikiranmu?”, sang induk menjawab.

“Mengapa kita punya punuk, sementara gajah, rusa tidak?”, sang anak memandang induknya.

“Kita adalah binatang padang gurun, dan punuk ini digunakan untuk menyimpan air. Kita dikenal sebagai hewan yang dapat bertahan tanpa air”, induknya menjelaskan dengan sabar.

“Lalu mengapa kaki kita panjang dan bulat?”, anaknya bertanya lagi.

“Anakku, sudah jelas itu kita gunakan untuk dapat berjalan di padang pasir lebih baik dan lebih cepat dari pada yang lainnya”, induknya berusaha sabar terhadap anaknya.

“OK. Terus mengapa kita punya alis mata yang panjang?”, tanya anaknya lagi.

“Alis ini”, sambil menjilat alis mata anaknya, “kau gunakan untuk melindungi mata dari butiran pasir yang beterbangan di padang gurun”, sang induk mulai kewalahan dengan pertanyaan anaknya. Lalu menjelaskannya sekali lagi.

“Jadi, punuk ini digunakan untuk menyimpan air ketika kita di padang pasir, kaki ini untuk berjalan di atas pasir, dan alis mata ini untuk melindungi mata kita dari butiran pasir….”

“Satu pertanyaan lagi, ibu”, anaknya menyela kata-kata indukknya.

“Ya, anakku!”

“Lalu mengapa kita berada di kebun binatang ini? Apa yang kita lakukan disini? Untuk apa semua yang kita miliki ini, kalau kita tidak berada di padang gurun?”, anaknya menunggu jawaban dari induknya.

===============****===============
Sahabat, Apa yang kita miliki tidak akan banyak manfaatnya kalau memang kita tidak membutuhkannya. Keinginan dan kebutuhan seringkali jauh berbeda. Dahulukan kebutuhan kita. Seringkali kita melewatkan hal-hal yang kita butuhkan, karena kita mengejar hal-hal yang kita inginkan.

Segala keahlian, kemampuan, materi, pengalaman yang kita miliki akan berguna saat kita memang membutuhkannya di tempat kita berada sekarang. Apakah yang Anda miliki sekarang sudah tepat dengan tempat Anda berada sekarang?

Semoga bermanfaat.... SALAM Motivaziuno...!

Jual slondok buat sekolah, Desi selalu Berprestasi

Buat biaya sekolah
Jual slondok buat sekolah

Meski harus jualan slondok (makanan seperti kerupuk khas Yogyakarta) dan bekerja sepulang sekolah, Desi Priharyana tidak pernah merasa mengeluh dan menjadikan rasa letih untuk alasan datang terlambat sekolah. Dari kesaksian Dasiman, Satpam di SMKN 2 Yogyakarta, Desi sama sekali tidak pernah terlambat datang ke sekolah.

Padahal jika dibanding dengan temannya yang berangkat sekolah dengan sepeda motor, seharusnya Desi lebih lambat karena harus mengayuh sepeda dan menempuh perjalanan sejauh 12 kilometer. Namun pada faktanya, jutru banyak teman Desi yang menggunakan motor terlambat datang ke sekolah.

"Setiap 07.45 kita sudah tutup gerbang, dan Desi tidak pernah terlambat, malah temannya yang pake motor banyak yang telat," kata Dasiman.

Selain disiplin waktu yang baik dari Desi, Desi juga dikenal siswa yang cukup rajin dikelas. Bukti kerajinannya itu terlihat dari peringkat Desi di kelas yang masuk sepuluh besar.

"Belajar biasa saja, sekarang rangking 7 di kelas," aku Desi.

Sementara itu, Rosmy salah satu guru yang mengajar Desi merasa selama pelajaran Desi jarang mengalami kesulitan. Meski tidak menjadi idola dalam pelajaran di sekolah, Rosmy mengaku bangga punya murid yang memiliki mental kuat seperti Desi.

Menurut Rosmy, dengan segala keterbatasan yang dimiliki Desi, Rosmy merasa salut melihat Desi bisa tetap mengikuti pelajaran dengan baik.

"Dengan keadaan seperti ini, Desi sudah hebat, beban yang ditanggungnya tidak sekedar belajar, tapi dia bisa tetap fokus," kata Rosmy bangga.

Diluar akademik, Rosmy mengaku salut dengan Desi yang berani berjuang dan memiliki karakter yang kuat dalam setiap tindak-tanduknya.

"Guru-guru selalu memberikan support, dan yang terpenting slondoknya enak," candanya.

Kisah cinta dan cita-cita Desi
Kisah cinta dan cita-cita Desi

Desi ingin menjadi seorang pengusaha yang sukses dibidang kuliner. Dia berniat untuk mengembangkan usahanya berjualan Slondok sehingga dia bisa mendapatkan keuntungan besar. Namun hal tersebut baru akan dilakukannya setelah dia menyelesaikan sekolahnya.

"Kalau sekarang waktunya belum ada, nanti kalau sudah lulus pengen saya kembangkan usaha ini," ujar Desi.

Meski demikian, Desi juga berharap, setelah lulus sekolah dia bisa melanjutkan ke perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Dia mengatakan, jika ada kesempatan untuk melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi dia akan memilih UGM atau UNY sebagai tempatnya belajar.

"Kalau ada kesempatan pengen kuliah di UGM atau di UNY di fakultas Teknik, kalau nggak ya masih bisa buka usaha. Doakan bisa dapat beasiswa di sekolah, biar bisa nabung buat kuliah," harap Desi.

Laiknya anak muda yang sedang bergairah dalam urusan cinta, Desi pun tak mau kalah ketinggalan. Biarpun tidak sekeren anak-anak muda yang menggunakan sepeda motor dan dandanan modis, Desi tetap bisa memikat kekasih hatinya.

Dengan malu-malu Desi bercerita tentang kisah cintanya yang tergolong unik. Kala itu desi tengah mendekati seorang gadis yang merupakan atlet atletik. Saat Desi mengutarakan perasaannya dan meminta sang pujaan hati untuk menjadi pacaranya, Desi diberikan syarat.

"Dulu punya pacar, atlet atletik. Sebelum jadian dikasih syarat. Karena dia atlet dikasih syarat harus bisa kalahin dia lari, kalau bisa kalahin mau jadi pacar," kenang Desi.

Tanpa pikir panjang, Desi pun langsung menyanggupi syarat tersebut. Desi pun meminta waktu dua minggu untuk berlatih lari. Setelah dua minggu dilalui, dengan menggunakan sepedanya, Desi melaju dengan semangat dari Toino tempatnya tinggal menuju Kalasan yang jaraknya sekitar 20 kilo meter.

Sampai disana tanpa basa-basi Desi pun langsung mengajak adu lari. Beruntung, Desi memenangkan perlombaan itu sekaligus memenangkan hati pujaannya.

"Untungnya menang, jadi punya pacar," ungkapnya.

Meski demikian, Desi tidak mau disibukkan hanya untuk urusan pacaran. Desi beranggapan masa mudanya jauh lebih berarti jika digunakan untuk berkarya.


"Pacaran ya positif, tapi ada juga hal lain yang baik untuk menunjang masa depan," jelasnya.


sumber : merdeka.com

Kisah Cinta Sampai Mati : " Tolong Selamatkan Istriku Lebih Dulu "

Pasangan sejati itu, hingga maut menjemput masih bisa menunjukkan kekuatan cinta mereka. Inilah kejadian yang terekam dalam menit-menit penyelamatan pasangan pengantin baru dalam sebuah kecelakaan maut beberapa waktu lalu.
Jamie Soukup Reid dan suaminya Will

Jamie Soukup Reid dan suaminya Will, saat itu sedang naik kendaraan menuju bandara. Pasangan ini sedang berbahagia karena Jamie tengah mengandung seorang bayi.

Namun kendaraan tersebut mendadak tak bisa dikendalikan. Sang sopir, Rodney Koon, tidak bisa menguasai kendaraan yang disetirnya. Akibatnya, mobil itu menabrak pohon dengan kuat dan menimbulkan benturan yang sangat hebat. Membuat mobil ringsek dan pasangan Reid ini mengalami keadaan kritis.

Dalam kondisi yang sangat darurat dan luka parah, saat bantuan paramedis datang, Will masih sempat meminta orang-orang menyelamatkan istrinya terlebih dulu. Sayangnya, Jamie dinyatakan meninggal saat itu juga saat kejadian.

Sementara itu, Will segera dilarikan ke rumah sakit karena luka yang sangat parah. Hingga akhirnya Will menghembuskan nafas terakhirnya, menyusul istri dan calon bayinya yang telah mendahuluinya.

Dalam menit-menit terakhir kehidupannya, Will masih sempat meminta orang-orang mendahulukan istri dan calon anaknya. Dilansir dari Dailymail, keluarga Jamie memang mengakui bahwa Will adalah sosok pria yang sangat baik. Begitu baiknya sampai ia sudah dianggap sebagai anak sendiri sebelum menikah dengan Jamie.

Jamie dan Will adalah guru muda yang menikah 3 bulan yang lalu. Keduanya tengah menanti anak pertama mereka, namun sayang hal itu belum sempat terjadi. Ayah Jamie mengaku bahwa ia sangat kehilangan ketiganya, "Kami kehilangan dua anak dan satu cucu," ujarnya.

Sepertinya Jamie dan Will memang ditakdirkan untuk sehidup semati. Hingga akhir hayat pun mereka masih bersama. Meski meninggal dengan tragis, semoga ketiganya meninggal dengan tenang.

Cinta Sejati : Menempuh Ribuan Kilometer Untuk Menikah Dengan Kekasihnya Yang Lumpuh

Sook Yin dan Li
"Cinta tidak memandang fisik, karena cinta sejati berasal dari hati."
Quotes ini terdengar begitu manis dan membuat setiap orang merindukan cinta yang tulus dan apa adanya. Cinta yang sederhana, tanpa embel-embel syarat dan ribuan alasan. Ternyata cinta sejati dan tidak mengenal keterbatasan, masih ada dan hidup hingga hari ini ladies. Wanita cantik ini rela terbang ribuan kilometer jauhnya untuk menemui kekasihnya dan menikahinya. Sang kekasih menderita lumpuh sejak masih anak-anak, tapi cintanya tidak luntur dan semakin kuat kepadanya.

Gan Sook Yin, perempuan berusia 35 tahun ini mulanya 'bertemu' dengan Li Kang Yu di internet. Mulanya mereka mengobrol melalui chatting dan berlanjut dengan menceritakan kisah hidup masing-masing. Li bercerita tentang kondisi tubuhnya yang menderita lumpuh total sejak anak-anak dan pria berusia 38 tahun ini hanya bisa terbaring di ranjang, karena lumpuh membuat tubuhnya tidak bisa duduk atau berdiri seperti laki-laki normal lainnya.

Sook Yin merasa iba, dan berempati. Dirinya seolah bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi seseorang yang tidak bisa berbuat apapun karena cacat yang diderita. Perempuan berkulit putih ini kagum dengan Li yang optimis melanjutkan hidup. Kekaguman itu perlahan berubah menjadi suka, dan benih-benih cinta bersemi di antara mereka berdua.

24 Juli kemarin, Sook Yin dan Li mendaftarkan pernikahan mereka dan pada 8 Agustus pasangan yang tengah berbahagia ini melangsungkan resepsi pernikahannya. Lihatlah begitu cantik Sook Yin dengan gaun putih, tersenyum bahagia ketika memegang tangan mempelai pria. Sook Yin duduk di samping Li yang terbaring di sisinya, mereka berdua membuka mata kita bahwa cinta pada hakikatnya adalah sederhana. Sudahkah Anda menemukan cinta sejati dan manis seperti Sook Yin dan Li, ladies?

Kisah cinta yang tulus dan sejati : Suami Berjalan Kaki Demi Temukan Ginjal Untuk Istrinya

Bagaimana bila orang yang Anda cintai divonis sakit keras dan umurnya tak akan lama lagi? Pasti Anda akan melakukan apapun agar ia bisa sembuh kembali dan bersama Anda lebih lama.

Sama halnya seperti seorang kakek berusia 78 tahun dari Carolina Selatan yang bernama Larry Swilling ini. Ia memiliki seorang istri berusia 47 tahun bernama Jimmie Sue yang divonis terkena gagal ginjal tahun lalu. Maka di suatu hari di serambi mereka, Larry menggenggam tangan istrinya dan berkata, "Aku akan mendapatkan ginjal untukmu."

Larry tidak hanya menggantungkan nasib istrinya pada pertolongan medis. Pria ini bahkan berjalan menyusuri jalanan sambil mengalungkan papan bertuliskan, 'Dibutuhkan Ginjal'. Tekadnya begitu kuat untuk bisa menyelamatkan sang istri dari penyakit mematikan itu. Apalagi, Sue hanya memiliki satu ginjal di dalam tubuhnya.

Larry tahu bahwa mendapatkan ginjal yang cocok untuk istrinya tidaklah mudah. Sekalipun ada, belum tentu orang tersebut mau memberinya ginjal yang sangat berharga untuk nyawa istrinya itu. Sudah lebih dari setengah tahun Larry mencari ginjal yang tepat untuk istri yang dipanggilnya, 'my heart' itu.

Pria ini memang sangat mencintai istrinya. Ia bahkan berurai air mata saat menjelaskan bahwa bagaimanapun ia akan mengusahakan ginjal untuk istrinya agar bisa sembuh. "Aku memohon-mohon demi sebuah ginjal. Aku akan melakukan apapun, tapi aku membutuhkan ginjal" isaknya. Ia sering mendapatkan telepon dari penjuru dunia seperti Mesir, Swedia dan negara lainnya. Namun sayang, belum ada yang cocok untuk Sue.

Oleh karena itu pria ini memutuskan untuk berjalan kaki di sepanjang kota ia tinggal sambil mengalungkan papan tersebut di dada dan punggungnya. Ia tidak mau melewatkan setiap meter dan setiap orang yang ia temui karena ia tahu dengan tekad yang kuat, harapan kesembuhan untuk sang istri pasti ada.

Dapatkah Anda membayangkan seorang pria yang sudah tua berjalan terengah-engah di bawah terik matahari sambil berpenampilan demikian karena sebegitu cinta dan inginnya dia mendapatkan ginjal bagi istrinya? Sebuah hal yang sulit dilakukan, namun ia tetap melakukannya.

Larry tak peduli orang berkata apa, hanya demi bisa selalu bisa bersama dengan istrinya, "Aku memang lelah, namun aku akan terus melakukan ini." Tak ada yang sia-sia dari apa yang dilakukannya, semua karena didasari oleh cinta yang tulus dan sejati.

Titik Balik: Silakan Menikah dengan Suamiku

Silakan Menikah dengan Suamiku

“Mbak, namaku Anti, ada yang ingin aku bicarakan denganmu, boleh aku datang berkunjung menemuimu?”

Itu suara seorang gadis di ujung telepon, kira-kira 16 tahun yang lalu. Namanya sengaja disamarkan. Ini ditulis dalam rangka mengikuti “festifal” menulis TITIK BALIK. Semata ingin berpartisipasi menginspirasi dunia wanita, agar tidak pernah khawatir bila dihadapkan pada soal-soal yang tidak membahagiakan dalam kehidupan.

Aku lanjutkan kisahku. Kurang lebih, 16 tahun lalu, gadis itu kemudian datang berkunjung ke tempat kost ku. Ia datang dari daerah lain, tempat suamiku bekerja. Dari cerita Anti, aku tahu bahwa ia dan suamiku saling mencintai. Anti bertanya padaku, “apakah aku boleh menikah dengannya?”

Aku diam, hanya menarik nafas panjang. Berupaya mengendalikan perasaanku yang sedang tidak mengerti apa yang sedang menimpaku.

Anti melanjutkan, “Ia bercerita, bahwa dengan mbak, mempunyai seorang anak laki-laki..”

“Ia” yang dimaksudkan Anti adalah suamiku. Aku mengangguk dan berusaha tersenyum, meskipun aku tidak tahu apakah saat itu senyumku memang terlihat seperti senyuman. Aku tidak berkata-kata. Tanganku tergerak untuk mengggapai lemari kecil tempatku menyimpan pakaian. Aku mengeluarkan celana panjang anakku. Aku menunduk supaya berhasil menahan jatuhnya air mataku. Tapi segera kusadar, bahwa tidak baik bicara tanpa menatap wajah orang yang diajak/mengajak bicara.

Aku menarik nafas panjang, menata nafas dan berupaya tenang. Lalu berkata, “Iya..kami punya seorang anak laki-laki. Jika celananya seukuran ini, maka Anti pasti tahu seberapa besar anak kami. Apakah kalian saling mencintai?”

Ia mengangguk dan menegaskan dengan kata-kata bahwa mereka sudah cukup lama menjalin hubungan, saling mencintai dan ingin segera menikah bila aku mengijinkan.

“Begini Anti…, jika kalian memang saling mencintai dan ingin menikah, maka menikahlah. Aku tidak ada masalah. Bagiku, ada ataupun tidak ada dia, sudah tidak ada masalah. Kau lihat kan keadaanku hari ini? Dan ketika saat ini kamu tahu bagaimana ia memperlakukan aku dan anakku, kau pasti bisa menilai dia. Jangan berkata apa-apa. Dengarkan saja hati nuranimu, karena hati nurani bisa menilai, apakah lelaki sepertinya itu baik untukmu. Menikah dengannya jangan karena terpaksa. Kalaupun hari ini kamu sudah tidak perawan gara-gara dia, pikirkan masak-masak tentang rencanamu. Aku tidak sedang berkata sebagai istrinya, namun aku berkata ini karena kamu adalah seorang gadis belia yang masih panjang kehidupannya. Dan kamu harus kuberitahu satu hal. Aku sendiri pun baru diberitahu setelah kami menikah, bahwa dia ternyata adalah seorang duda beranak dua, yang tidak menafkahi dua anaknya yang lain, selain menafkahi dengan doa-doa…”.

Sejak kepulangan Anti dari tempat kost-ku, aku tidak tahu perkembangan hubungan mereka, hingga akhirnya aku tahu bahwa mereka sudah tidak lagi berhubungan. Mantan suamiku sudah hidup bahagia dengan keluarga barunya. Ia menikah dengan kekasih yang lain lagi, bukan Anti.

Aku lupa sejak kapan belajar membiasakan diri dengan kesakitan-kesakitan. Sebab sebelum Anti datang, aku pun sudah diberi pelajaran lain yang mirip-mirip dengan keberadaan Anti. Satu hal yang kujaga adalah bahwa dalam keadaan apapun, imanku tidak boleh hilang. Aku terus menerus berusaha terhubung dengan Tuhan dalam setiap keadaan. Ya! dalam setiap keadaan. Aku sangat percaya bahwa Tuhan sangat baik kepadaku, apapun keadaanku. Aku tidak perlu bercerita kesana kemari tentang kedukaanku dan tentang betapa malang nasib yang kuterima. Aku hanya memilih Tuhan sebagai teman yang paling setia mendengar dan memberi jalan-jalan baru.

Bila aku bersedih, merasa gagal, kecewa dan menderita aku hanya perlu mengambil air wudhu dan berbincang denganNya. Disitulah DIA mengajariku istighfar, sebab aku lupa bersyukur.

Anugerah kebahagiaan yang diberikan Tuhanku, jauh lebih besar jumlahnya dibanding anugerah berupa kesakitan dan kepedihan. Aku mulai belajar menghitung-hitung anugerahNya.

Dalam tiap doa usai shalatku, pikiranku memperhatikan diriku yang cantik dan tetap cantik, aku sehat, aku cukup cerdas kata orang, aku punya pekerjaan dan selalu dicukupkan, aku diberi kesempatan menyelesaikan kuliah dan bahkan kuliah lagi pada jenjang yang lebih tinggi, aku punya anak lelaki yang mengerti , patuh dan menyayangi aku, aku punya keluarga yang sangat menyayangi aku, aku punya beberapa teman dekat yang menyayangi aku, aku punya begitu banyak teman, aku dipercaya Allah bekerja pada sebuah kampus yang sangat aku cintai, orang menyebutku sebagai dosen, aku dipercaya oleh Allah untuk membantu mendidik dan men-sarjanakan ratusan mahasiswa, betapa ini tugas yang sangat mulia, aku dicintai begitu banyak mahasiswa, aku dirindukan kehadiranku setiap hari oleh mereka, aku tempat bersandar bagi anak-anakku yang bermasalah dan membutuhkan pertolongan, aku dirindukan kehadiranku oleh anakku, oleh ibuku, oleh ayahku, kakak-kakakku dan adikku, juga semua kerabatku, aku disayangi oleh para lansia dan anak-anak di kampungku dan dirindukan kehadiranku, aku…aku..masih banyak lagi anugerah yang tidak mampu kuhitung dengan jumlah jari-jariku. Saat aku tak mampu menghitung keberkahan, di situ aku menangis dan istighfar. Aku menangis, istighfar dan sejak itu mulai belajar hidup penuh kesyukuran.

Hingga pada suatu saat, aku kirim pesan kepada mantan suamiku yang sudah mempunyai keluarga baru. Aku menemukannya di FB. Aku merasa perlu mencarinya sebab anakku sudah dewasa dan mempunyai kepentingan untuk mengabarkan sesuatu yang penting kepada ayahnya.

Kutulis kalimat pada chat-ku:

“Salam. Semoga keadaan mas baik dan sehat. Sengaja kukirim ini untuk meminta maaf. Aku minta maaf atas kesalahan yang mungkin kulakukan tapi tidak sempat aku merasa berbuat salah. Aku pasti berkontribusi atas kejadian yang tidak membahagiakan waktu itu. Aku minta maaf… Aku juga ingin mengucapkan terima kasih atas ‘pelajaran-pelajaran indah’ yang telah mas ajarkan padaku. Terima kasih banyak ya…! Pelajaran-pelajaran itu mendewasakanku. Jika ‘pelajaran-pelajaran’ itu tidak mas ajarkan, mungkin aku tidak akan sampai di sini, seperti keadaanku yang sekarang. Salam.”

Ia ternyata membalas pesanku.

“Salam Arie, aku yang seharusnya meminta maaf pada kalian. Kamu perempuan hebat . Hatimu sangat mulia. Aku yakin kamu tangguh dan sanggup menjalani hidupmu dengan baik. Jaga dirimu baik-baik. Aku selalu mendoakanmu. Salam.”

Membaca pesannya, aku meneteskan air mata bahagia. Bukan karena ia memujiku secara berlebihan. Tetapi lebih karena, aku akhirnya sanggup melunasi “hutangku”, membersihkan hati dari segala yang kotor dan menyakiti. Aku, seperti tidak percaya mampu berdamai dengan diri. Juga berdamai dengan sosok yang kunilai sebagai menyakiti, padahal sejatinya ia terikirim untuk mengajarkan pelajaran-pelajaran penting bagi kehidupanku selanjutnya. Aku yankin, dimanapun ia berada, ia pasti mendoakan segala kebaikan untuk aku dan anakku.

Disakiti memang sakit. Tapi kesakitan-kesakitan itu bermakna. Sebab kesakitan-kesakitan itu sesungguhnya membantu kita untuk belajar lebih banyak lagi tentang hal-hal yang tidak biasa. Inilah salah satu faktor mengapa aku sangat tertarik memelajari hal-hal relevan dengan ketidakbahagiaan. Menjadi pemerhati masalah ketidakbahagiaan.

Akhirnya aku mengerti bahwa, pelajaran-pelajaran sepanjang hidup, tidak mungkin diberikan Tuhan melalui para guru kehidupan, jika memang tidak ada relevansinya dengan kehidupan kita selanjutnya. Kesakitan, kepedihan, kedukaan dan penderitaan bukanlah momok yang harus ditakuti, namun anugerah yang harus dipeluk dan dilenturi.

Terima kasih sudah membaca. Terima kasih Allah Yang Maha Kuasa. Terima kasih kepada semua yang menginspirasi. Salam bahagia dan terus berkarya!

PENTING:

Jika boleh memohon, jangan memberi komentar/pertanyaan. Please, khusus untuk tulisan saya yang satu ini saja, ya! Sebab kami semua sudah menjalani hidup baru dan bahagia dengan keadaan masing-masing. Ini dibuat hanya untuk menginspirasi mereka yang mungkin pernah/sedang mengalami keadaan sejenis dengan apa yang saya alami. Untuk menginspirasi yang sedang dicoba/diujii, agar jangan menghitung-hitung kesakitan dan kepedihan, tapi cobalah menghitung anugerah kebahagiaan yang jumlahnya pasti jauh lebih besar (dan bahkan tak mungkin terhitung). Tapinya lagi, untuk VOTE, tetap diterima dengan bahagia.

oleh : Aridha Prassetya
source : kompasiana

Banyak Wanita Menilai Negatif Diri Sendiri

Banyak wanita kurang bisa menerima kondisi yang ada dalam diri mereka. Ini membuat mereka menjadi rendah diri dan cenderung selalu mengaitkan diri sendiri pada suatu pendapat yang negatif. Menurut studi yang dilakukan badan amal Girlguiding, penyebab wanita menjadi tidak puas pada keadaannya adalah asumsi-asumsi yang berkembang di lingkungan.

Contohnya adalah saat ini berkembang stereotip yang mengatakan bahwa wanita berparas cantik lebih bisa diterima oleh banyak kalangan. Atau, wanita yang suka berdandan dengan kosmetik beraneka rupa dianggap sebagai cerminan wanita modern. Lebih memprihatikan lagi, muncul stereotip jika wanita gemuk cenderung kurang laku di mata pria. Berbagai stereotip yang ada tersebut menjadikan wanita minder dan menyesali punya fisik seperti saat ini.

Hal tersebut diperparah oleh tayangan iklan atau promosi dari berbagai produk wanita. Banyak gadis akhirnya tertarik membeli suatu produk berbekal stereotip yang muncul di sekitarnya. Mereka rela menghabiskan yang banyak demi memenuhi tuntutan untuk menjadi sempurna di mata orang lain.

Hanya saja kabar buruknya,anggapan salah tentang wanita tersebut juga telah menimbulkan penyalahgunaan. Sebagian wanita sengaja lebih terbuka untuk urusan seksual agar diterima dalam pergaulan dengan banyak pria. Konon wanita binal jauh lebih bisa diterima oleh pria dibanding wanita kalem. Dari sinilah menyikapi diri secara salah menjadi wanita dibully oleh banyak pihak, termasuk urusan pelecehan seksual.

Cara paling baik adalah menerima kondisi diri sendiri dengan sudut pandang positif. Setiap wanita akan punya sisi keunggulannya sendiri. Jadi tidak perlu pusing memikirkan asumsi-asumsi negatif yang berkembang di lingkungan.


sumber : Girlguiding

Kisah nyata : JANGAN BENCI AKU MAMA...

Dua puluh tahun yang lalu aku melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Hasan, suamiku, memberinya namaErik. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Aku berniat memberikannya kepada orang lain saja atau dititipkan di panti asuhan agar tidak membuat malu keluarga kelak.

Namun suamiku mencegah niat buruk itu. Akhirnya dengan terpaksa kubesarkan juga. Di tahun kedua setelah Erik dilahirkan, akupun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Kuberi nama Angel. Aku sangat menyayangi Angel, demikian juga suamiku. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan & membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.

Namun tidak demikian halnya dengan Erik. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Suamiku sebenarnya sudah berkali-kali berniat membelikannya, namun aku selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Suamiku selalu menuruti perkataanku.

Saat usia Angel 2 tahun, Suamiku meninggal dunia. Erik sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya aku mengambil sebuah tindakan yang akan membuatku menyesal seumur hidup. Aku pergi meninggalkan kampung kelahiranku bersama Angel. Erik yang sedang tertidur lelap kutinggalkan begitu saja.

Kemudian aku memilih tinggal di sebuah rumah kecil setelah tanah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun………. telah berlalu sejak kejadian itu.

Kini Aku telah menikah kembali dengan Beni, seorang pria dewasa yang mapan. Usia pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Beni, sifat-sifat burukku yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang.

Angel kini telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkannya di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Erik dan tidak ada lagi yang mengingatnya. Sampai suatu malam. Malam di mana aku bermimpi tentang seorang anak. Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali. Ia melihat ke arahku. Sambil tersenyum ia berkata, “Tante, Tante kenal mama caya? caya lindu cekali cama Mama!”

Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun aku menahannya,

“Tunggu…, sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?”

“Nama caya Elik, Tante.”

“Erik? Erik… Ya Tuhan! Kau benar-benar Erik?”

Aku langsung tersentak bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpaku saat itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu, seperti sebuah film yang sedang diputar di kepala. Baru sekarang aku menyadari betapa jahatnya perbuatanku dulu. Rasanya seperti mau mati saja saat itu.

Ya, sepertinya saya memang harus mati…, mati…, mati… Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Erik melintas kembali di pikiranku. Ya Erik, Mama akan menjemputmu Erik…sabar ya nak….”

Sore itu aku memarkir mobil biruku di samping sebuah gubuk, dan Beni suamiku dengan pandangan heran menatapku dari samping. “Maryam, apa yang sebenarnya terjadi?”

“Oh, suamiku, kau pasti akan membenciku setelah kuceritakan hal yang telah kulakukan dulu.” tetapi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak.

Ternyata Tuhan sungguh baik kepadaku. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangisku reda, aku pun keluar dari mobil diikuti oleh suami dari belakang. Mataku menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter didepan. Aku mulai teringat betapa gubuk itu pernah kutempati beberapa tahun lamanya dan Erik….. Erik……

Aku meninggalkan Erik di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih aku pun berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali… Tidak terlihat sesuatu apa pun! Perlahan mataku mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu.

Namun aku tidak menemukan siapa pun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Aku mengambil seraya mengamatinya dengan seksama… Mataku mulai berkaca-kaca, aku mengenali betul potongan kain tersebut, itu bekas baju butut yang dulu dikenakan Erik sehari-hari, baju butut yang kadang aku sendiri jijik mencucinya……

Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, aku pun keluar dari ruangan itu… Air mataku mengalir dengan deras. Saat itu aku hanya diam saja. Sesaat kemudian aku dan suami mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, tiba – tiba aku melihat seseorang di belakang mobil kami. Aku sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor.

Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali aku tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.

“Heii…! Siapa kamu?! Mau apa kau ke sini?!”

Dengan memberanikan diri, aku pun bertanya, “Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Erik yang dulu tinggal di sini?”

Tiba – tiba Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Erik terus menunggu ibunya seraya memanggil, ‘Mamaaa…, Mamaaa!’

Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan & mengajaknya tinggal bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Erik meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu…..”

Saya pun membaca tulisan di kertas itu…

“Mama, mengapa Mama tidak pernah kembali lagi…? Mama benci ya sama Erik? Ma…., biarlah Erik yang pergi saja, tapi Mama harus berjanji ya, kalau Mama tidak akan benci lagi sama Eric. Udah dulu ya Ma, Erik sayaaaang sama Mama, ……”

Aku menjerit histeris membaca surat itu. “Bu, tolong katakan… katakan di mana ia sekarang? Aku berjanji akan meyayanginya sekarang! Aku tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!” Suamiku memeluk tubuhku yang bergetar sangat keras.

“Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Erik telah meninggalkan dunia. Ia meninggal persis di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mama-nya datang, Mama-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana …

Ia hanya berharap dapat melihat Mamanya dari belakang gubuk ini… Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya disana. Nyonya, dosa Anda sungguh tidak terampuni!”

Aku kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.

Berlakulah adil kepada setiap anak-anak kita, jangan membeda-bedakan memperlakukan mereka, baik dalam memberikan hadiah, melakukan disiplin (hukuman). Berikan porsi kasih yang sama, agar tidak ada anak yang merasa dibenci mama papanya. 

Orang-orang dianggap miskin harta yang berangkat Haji ( Semua Bisa Karena Allah dan Niat )

Orang-orang miskin yang berangkat ibadah haji ke Tanah Suci agaknya bukan hanya ada dalam sinetron seperti "Mak Ijah Pengen ke Mekkah" atau "Tukang Bubur Naik Haji".

Di Jawa Timur pada musim haji 2013 ada tukang becak, juru parkir, pemulung, pedagang rongsokan, loper koran,  yang menunaikan ibadah haji.

Cara yang ditempuh orang-orang miskin untuk bisa bertandang "Rumah Allah" (Baitullah) di Masjidilharam atau ke "Rumah Nabi" di "Roudloh" (Masjid Nabawi) itulah yang menarik direnungkan.

Abdullah bin Saiful Hadi (57), bapak dua anak serta tiga cucu asal Kabupaten Jember, Jawa Timur, yang berangkat bersama Kloter 62/Surabaya pada tanggal 8 Oktober 2013.

Abdullah yang hanya lulusan SD itu bisa mewujudkan niatnya menyempurnakan Rukun Islam yang kelima dalam kurun waktu hampir 26 tahun.

Ketika masih menjadi siswa, setiap kali pulang sekolah Abdullah mencari "rupiah" dengan menjadi pengayuh becak. 

Dia sejak 1987 selalu menyisihkan uangnya hasil jerih payahnya sebagai pengayuh becak dan kuli panggul di Pasar Mangli Jember untuk mewujudkan keinginannya ke Tanah Suci itu.

Setiap hari uang yang disisihkan Abdullah dalam tabungannya hanya sekitar Rp10.000 hingga Rp20.000, kecuali hari Minggu karena toko-toko yang ada libur.

Dengan kesabaran dan ketekunannya, Abdullah mendaftarkan dirinya ke bank untuk mendapatkan nomor porsi pada tahun 2009 kendati sejumlah rekannya sering mengolok-olok dirinya.

"Penghasilan sebagai tukang becak hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, saya bersama almarhumah istri tetap menyisakan uang receh sisa dari belanja kebutuhan keluarga untuk ditabung," paparnya.

Saat itu, hanya tersisa sekitar Rp17 juta karena sering diambil untuk kebutuhan yang mendadak, termasuk menikahkan anaknya.

Untuk bisa mendapat porsi haji pada tahun itu harus tersedia dana Rp20 juta, maka akhirnya ditambahi tabungan milik istrinya Rp3 juta sehingga mencukupi.

Guna memenuhi kekurangan biaya haji diikhtiarkan dengan mengikuti arisan di kampungnya, yaitu Dusun Klanceng, Kecamatan Ajung, Jember.

"Saya sangat bersyukur akhirnya bisa berangkat haji. Di depan Kakbah, saya doakan almarhumah istri yang telah meninggal dunia pada tahun 2011, serta memohon rezeki lancar dan barokah serta haji yang mabrur," tuturnya.

Menabung Sejak 2008
Cerita yang tak jauh berbeda juga dialami Djumain, seorang juru parkir motor di pertokoan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, yang tergabung dalam Kloter 44 yang berangkat ke Tanah Suci pada tanggal 2 Oktober 2013.

Dengan meneteskan air mata seolah tak percaya, dia menceritakan tentang bagaimana mewujudkan niatnya untuk bisa menunaikan Rukun Islam yang kelima.

Keseharian dirinya sebagai seorang juru parkir motor tentu sangatlah sulit dibayangkan bisa berangkat haji walaupun dibantu istrinya, Sulismani, yang menerima pesanan kue-kue.

"Akan tetapi, Allah berkehendak lain, tiba-tiba saya tergerak untuk selalu menyisihkan penghasilan saya yang sekitar Rp700 ribu setiap bulan untuk sebagian dimasukkan tabungan haji sejak 2008," ucap penderita polio sejak kecil itu.

Selang setahun, dengan bantuan saudara-saudaranya, dia pun langsung mendaftarkan diri untuk bisa mendapatkan nomor porsi berangkat haji, sampai pada saat pelunasan pun mampu terpenuhi walaupun cukup bersusah payah untuk semua itu.

Padahal, pada tahun 2011, Djumain yang bapak dari empat anak itu mengalami kecelakaan saat mengendarai motor akibat tertabrak mobil. Dia pun tidak sadarkan diri dan siuman saat sudah berada di RSSA Malang.

"Kaki dan tangan saya patah dan kaki kanan saya harus dipen serta tangan kiri dengan perawatan selama 20 hari. Alhamdulillah, saya tetap bisa berangkat bersama istri walaupun harus menggunakan tongkat penyangga untuk berjalan," tukasnya.

Di Mekah, dia berdoa untuk rumah tangga yang sakinah mawadah wa rohmah, rezekinya lancar dan barokah, dan pendidikan anak yang masih kuliah lancar serta ilmunya bermanfaat bagi keluarga dan negara.

Ikhtiar yang tidak jauh berbeda juga dilakukan seorang waria asal Jember, Jawa Timur, Sutika bin Marwapi (42), yang berangkat menunaikan ibadah haji pada tahun 2012.

Waria asal Desa Cangkring Baru, Kecamatan Jenggawah, Jember yang berprofesi sebagai pedagang di Pasar Jenggawah itu mengaku dirinya berasal dari keluarga miskin, lalu dirinya merantau ke Bali untuk bekerja.

"Di Bali, pikiran saya terbuka untuk berdagang dan saya mengumpulkan uang untuk menunaikan ibadah haji agar saya tidak malu di hadapan keluarga, lalu saya mendaftarkan haji pada tahun 2008 dan akhirnya ditakdirkan berangkat pada hari Senin (15/10/2012)," ujarnya.

Takdir yang membanggakan dirinya itu membuatnya untuk bersemangat mengingatkan kaumnya (waria) untuk tetap menjalankan ibadah secara maksimal, termasuk beribadah haji.

"Saya mengajak teman-teman waria yang belum punya uang untuk umroh," papar waria yang sempat kesulitan mendaftar haji sebagai wanita sesuai perasaan hatinya hingga akhirnya ke Tanah Suci dengan identitas sebagai laki-laki.

Pemulung Kariyati binti Halil (69) tergabung dalam Kloter 42/Probolinggo.

Janda empat anak dan 11 cucu asal Desa Pondok Wuluh, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, Jatim itu berjuang  mewujudkan niatnya ke Tanah Suci kurang lebih 20 tahun. 

Selama itu, dia berupaya menyisihkan penghasilannya dari memungut barang-barang bekas.

Nenek Karyati adalah pemulung yang setiap hari mengumpulkan gelas plastik bekas air mineral, kardus, dan kertas yang dipungutnya dari beberapa tempat sampah di Wuluh, Leces, probolinggo.

Pekerjaan itu terkadang dilakoni hampir seharian, yaitu pagi siang sore dan malam dan hasilnya pun sekitar Rp20 ribuan, meski terkadang ada orang yang berbelas kasihan dengan memberinya uang antara Rp100 ribu.

Recehan demi recehan dikumpulkan Kariyati dan ditabungkan ke bank sampai puluhan tahun hingga akhirnya terkumpul dana cukup untuk mendaftarkan dirinya guna mendapatkan porsi berangkat haji.

Sisanya, dia belikan sapi untuk persiapan pelunasan, bahkan pekerjaan sebagai pemulung masih dilakoni hingga beberapa saat menjelang keberangkatannya ke Tanah Suci.

"Selama mengikuti manasik haji, Kariyati juga masih selalu membawa peralatan sebagai pemulung, bahkan gelas bekas air mineral dan kardus bekas snack setelah manasik pun masih dipungut satu per satu," tutur ketua rombongan 7, Hadi.

Idem dito, perjuangan yang cukup berat dan panjang juga dilakukan Kusdi Jainem beserta istrinya, Sutini, yang tergabung dalam Kloter 30 asal Magetan.

Selama kurang lebih hampir 10 tahun lalu, Kusdi dengan modal pas-pasan memulai usaha sebagai pedagang rongsokan berupa besi-besi yang tidak layak pakai atau sudah dibuang.

Sebagai pedagang rongsokan, dia menerima rongsokan itu dari para pengepul barang rongsokan dari desa ke desa, lalu barang rongsokan itu dipilah-pilah dan selanjutnya disetorkan ke pengepul besi langganannya.

Nah, hasil dari itu dikumpulkan sediki demi sedikit, lalu dia belikan hewan ternak berupa sapi yang masih kecil, kemudian dipelihara.

Setelah sapi itu besar, lalu dijual untuk dibelikan lagi sapi ukuran sedang tetapi jumlahnya dua ekor, kemudian dipelihara lagi hingga besar dan layak jual dengan harga tinggi.

Begitu seterusnya hingga akhirnya Kusdi beserta istri mampu mendaftarkan dirinya untuk berangkat haji, bahkan pelunasan biaya haji pun dipenuhi dengan terus menjalankan usaha rongsokan dan memelihara sapi itu.

Tantangan juga datang dari warga sekitar. "Kan kerjanya hanya sebagai pedagang rongsokan saja, kok bisa berangkat haji?" begitu olok-olok tetangganya.

Namun, setelah dia mampu membuktikan bisa melunasi biaya haji, Kusdi dan Sutini pun berbalik menjadi inspirasi bagi warga sekitarnya hingga ada delapan orang tetangga yang juga turut mendaftar berangkat haji.

"Saya sengaja tidak menyimpan atau menabung uang hasil usaha ke bank karena kalau disimpan di bank tidak akan mendapatkan hasil sebesar hasil dari berternak sapi sehingga saya tidak akan mungkin bisa berangkat haji sekarang (2013)," ucap Kusdi.

Loper koran
Adalah warga Dusun Juwet, Kelurahan Glagahan, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Mohammad Anwar yang bisa mewujudkan cita-citanya ke Tanah Suci berkat ketekunan dan kesungguhannya sebagai loper koran.

Bapak tiga orang anak dan empat cucu itu sehari-hari menjadi loper koran sejak 1992 dengan sekitar 60 pelanggan.

Setiap bulan, dia menyisihkan penghasilannya sebesar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu untuk ditabung. Cara itu dilakukan setelah mendapat saran dari seorang kiai di kampungnya.

"Sekitar lima tahun lalu, saya mampu membeli sepeda motor Supra Fit, tetapi Kiai Haris Munawir (pengurus MWC NU Perak) memberi saran nek awakmu pengin lungo kaji, dolen sepedamu (kalau kamu ingin berangkat haji, jual saja sepeda motormu)," ungkap Anwar.

Tentu, saran Kiai Haris Munawir itu memicu perdebatan yang cukup panjang antara dirinya dan sang kiai. 

Namun, sang kiai mampu memberi motivasi hingga akhirnya dirinya merelakan motornya dijual untuk segera mendaftarkan haji ke bank.

Setelah mendapatkan nomor porsi, Anwar bersama ketiga anaknya yang semuanya menjadi guru di Jombang itu pun menabung untuk bisa melunasi biaya hajinya pada tahun 2013.

"Alhamdulillah, saya akhirnya bisa melunasinya, malah ada kelebihan sekitar satu jutaan yang bisa jadi uang saku, selain living cost dari pemerintah," tukas anggota Kloter 12/Jombang itu.

Agaknya "orang miskin pergi haji" itu bukan fakta yang kecil sebab Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi/Debarkasi Surabaya mencatat mayoritas haji asal Jawa Timur dari kalangan miskin.

Sekretaris PPIH Embarkasi/Debarkasi Surabaya H.M. Asyhuri di Surabaya mengemukakan bahwa haji asal Jatim pada tahun 2013 berjumlah 28.448 orang, antara lian meliputi Selanjutnya, petani sebanyak 5.118 orang atau 17,99 persen, PNS sebanyak 4.685 orang (16,47 persen), pedagang 2.231 orang (7,84 persen), dan pelajar 519 orang (1,82 persen).


sumber : http://www.antaranews.com/

Bumi Kiamat Pada 26 Agustus 2032, Prediksi Astronom

Bumi diramal kiamat, kita kerap mendengar prediksi tersebut. Hingga hari ini, belum ada ramalan yang terbukti jitu. Terkini, para astronom dari Crimean Astrophy­sical Observatory di Ukraina menyebut jika bumi akan kiamat pada 26 Agustus 2032. Apa alasan mereka?

Dikisahkan Daily Mail, para ahli astronomi itu telah mendeteksi sebuah meteor yang miliki kekuatan setara 2.500 hulu ledak nuklir. Meteor itu cukup besar dengan diameter 400 meter. Diprediksi, meteor ini akan menghantam bumi dalam kurun waktu 19 tahun mendatang.

Belum selesai sampai di situ. Dampak yang ditimbulkan jika benturan ini terjadi, 160.934 kilometer persegi permukaan bumi akan hancur. Alhasil cukup sulit bagi bumi untuk tetap bertahan utuh pada tahun 2023. Meteor itu sendiri disinyalir salah satu dari dua asteroid berbahaya.

Asteroid yang bernama 2013 TV135 ini bilamana menghamtam bumi akan timbulkan ledakan yang setara dengan 2.500 megaton. Rudal Minute Man II AS yang membawa hulu ledak nuklir saja, sebagai perbandingan hanya miliki kekuatan kurang dari 1 megaton.

Para ilmuwan memperkirakan jika peluang bagi umat manusia untuk selamat sangatlah kecil yakni 1:63.000. Sedangkan Badan Nasional Antariksa AS atau NASA mengkategorikan jenis asteroid ini sebagai objek berbahaya. Negara lain seperti Spanyol, Italia, dan Rusia juga mengamini keberadaan 2013 TV135.

Pada tahun 2014 nanti posisi 2013 TV135 akan sangat dekat dengan bumi. Pada tahun tersebut ilmuwan akan mempelajari lebih lanjut dan mencari tahu orbit serta potensi lokasi benturan akan terjadi.

5 Kisah Nyata: Masih Banyak Orang Baik di Dunia Ini

Di dunia yang sangat kacau, rasanya hati nurani sudah banyak yang mati. Lihat saja berbagai kasus kejahatan yang selalu terjadi setiap hari. Apakah sudah tidak ada lagi manusia yang peduli dengan sesamanya? Namun di antara banyaknya kasus kejahatan, perang dan tindakan yang meremukkan hati, masih banyak orang-orang baik hati.

Kebaikan hati tidak hanya milik orang kaya yang bisa menabur uangnya untuk orang tidak mampu. Kisah-kisah ini menceritakan kebaikan hati banyak orang, mulai dari anak-anak hingga orang tua, mulai dari pengendara mobil mewah hingga pengemis. Ini adalah bukti bahwa setiap manusia sesungguhnya dibekali hati yang mulia.

Dari kebaikan-kebaikan kecil, kita bisa hidup untuk rasa damai yang lebih besar. Sesungguhnya kebaikan hati manusia adalah perpanjangan rasa cinta Tuhan untuk seluruh umatnya. Silakan baca kisah-kisah nyata ini agar kita termotivasi untuk selalu murah hati dan bersedia membantu sesama.

1. Supir Membantu Orang Tua Menyeberang Jalan
Mungkin kisah ini terlihat sangat remeh, apa hebatnya membantu orang lain menyeberang jalan? Tapi kembalikan pada diri Anda, saat Anda terburu-buru dan melihat orang yang sudah renta akan menyeberang jalan, bersediakah Anda turun dari kendaraan dan membantunya? Pria dalam ini bersedia.

Sebuah kamera dashboard mobil di Rusia menangkap momen yang sangat langka, terutama di masa kini, saat orang lain lebih peduli mengejar waktunya dibanding membantu orang lain. Terlihat seorang wanita tua tampak kesulitan menyeberang jalan yang sangat ramai.



Nenek itu menyeberang dengan tertatih-tatih, sementara itu mobil-mobil tetap lewat di depan dan belakangnya sang nenek. Tidak ada yang peduli dengan keselamatan nenek ini. Namun seorang pria tiba-tiba menghentikan mobilnya di tengah jalan. Dia keluar dari mobil, lalu membantu nenek itu menyeberang hingga ujung jalan.

Kebaikan hati kecil yang sangat mengharukan. Jika Anda menemukan kejadian yang sama, ingatlah kakek dan nenek Anda. Tidak membutuhkan waktu lebih dari 1 menit untuk menebar kebaikan.

2. Anak Kecil Jualan Lemon Untuk Membantu Tetangga

Siapa bilang anak kecil hanya bisa menangis dan bermanja-manja minta dibelikan mainan. Belajarlah dari kebaikan hati anak laki-laki ini. Usianya baru 8 tahun namun dia sangat cerdas ketika membantu tetangganya yang sedang kesusahan.

Nama anak ini adalah Johnny Karlinchak. Pada bulan Juni 2012, rumah tetangga Johnny hancur karena tertimpa pohon akibat badai. Anak kecil ini langsung berinisiatif membantu dengan menyerahkan uang tabungannya. Namun uang itu jelas tidak cukup, sehingga Johnny berjualan lemonade (minuman rasa lemon) demi tetangganya.

Akhirnya bantuan demi bantuan datang. Uang terkumpul dan dapat digunakan untuk membantu tetangga Johnny. Saat anak ini ditanya mengapa dia mau membantu hingga harus berjualan, Johnny mengatakan bahwa saat kakaknya meninggal karena kecelakaan mobil, banyak orang membantunya. Sehingga kejadian itu memotivasi Johnny untuk melakukan kebaikan yang sama.

Anak kecil yang baik, semoga kebaikan hatinya tetap utuh hingga dewasa.

3. Kebaikan Hati Untuk Anak Penderita Gangguan Ginjal

Kebaikan hati bisa menular, itulah yang dialami Alexis Blackburn. Anak perempuan cantik berusia 5 tahun ini membagi kebahagiaan untuk anak-anak lain yang juga sakit. Saat berusia 3 tahun, Alexis menderita gangguan ginjal yang membuatnya harus dirawat di rumah sakit untuk transfusi darah. Alexis sering kehilangan nafsu makan dan diinfus.

Dalam keterbatasan fisik, Alexis yang harus menjalani operasi usus. Ayahnya memposting kondisi Alexis melalui jejaring sosial Reddit. Dari sana, banyak orang memberikan semangat untuk Alexis. Setelah operasi, Alexis kebanjiran kartu ucapan agar dia lebih semangat menjalani perawatan. Dia jua mendapat beberapa boneka kayu.

Dari banyaknya perhatian untuk Alexis, gadis kecil ini mengucapkan terima kasih dengan senyum manis. Dari Alexis, pengguna Reddit jadi tahu bahwa banyak anak lain yang bernasib sama dengan Alexis. Sehingga satu persatu anak-anak itu juga menerima dukungan dan bantuan dari pengguna Reddit yang lain.

Menyenangkan bukan, kebaikan yang saling menular bisa memberi harapan dan semangat untuk sembuh.

4. Pasangan Hebat Mengadopsi Anjing Buta

Sesungguhnya, semua makhluk hidup adalah ciptaan Tuhan yang bisa saling memberi kasih sayang. Pasangan bernama Eldad dan Audrey ini menemukan anjing yang sangat malang setahun yang lalu. Mereka menemukan anjing yang buta dan sangat kotor di tumpukan sampah Los Angeles. Anjing itu sepertinya tidak disukai dan dibuang.

Karena kasihan dengan nasib anjing kecil itu, Eldad dan istrinya membawa pulang anjing tersebut. Akhirnya anjing itu diberi nama Fiona, dia dibersihkan dan dimandikan. Pasangan ini tidak keberatan mengeluarkan banyak uang untuk mengoperasi mata Fiona. Jumlahnya tidak sedikit, sekitar Rp 40 juta. Akhirnya Fiona bisa melihat, walau hanya sebelah mata, karena mata yang satu lagi sudah rusak sangat parah.

Sekarang, kondisi Fiona sudah lebih baik. Pasangan Eldad dan Audrey berharap agar kisah ini bisa menjadi inspirasi banyak orang untuk lebih peduli pada hewan, terutama hewan-hewan yang dibuang dan diterlantarkan. Tidak hanya Fiona yang diselamatkan Eldad dan Audrey, mereka juga membantu hewan-hewan lain agar bisa hidup lebih baik.

5. Pengemis Kembalikan Cincin Berlian Yang Jatuh

Pria tua ini sungguh baik hati, namanya Billy Ray Harris. Banyak orang meremehkannya karena dia seorang pengemis dan tidak punya tempat tinggal. Sehari-hari, Billy mengemis di pinggir jalan. Namun lihatlah kebaikan hatinya. Saat menemukan sebuah cincin yang sangat mewah di dalam gelas tempat mengumpulkan uang, pria ini tidak mengambil cincin tersebut.

Billy mengaku panik ketika menemukan cincin entah milik siapa ada di dalam gelas miliknya. Dia berkeinginan mengembalikan cincin itu. Billy merasa bahwa cincin itu pasti barang yang spesial, melebihi harganya. Pria ini menunggu setiap hari di jalan yang sama, menunggu sang pemilik cincin mengambil benda itu.

Ternyata benar saja, beberapa hari kemudian, seorang wanita bernama Sarah bertanya apakah Billy melihat cincin yang jatuh. Ternyata cincin itu adalah cincin milik Sarah yang ikut jatuh saat dia memberi koin untuk Billy.

Sarah sangat tersentuh dengan kejujuran Billy. Jika mau, Billy bisa saja menjual cincin itu untuk kebutuhan hidupnya, namun tenyata tidak. Akhirnya Sarah dan suaminya menggalang dana dari seluruh dunia untuk kebaikan hati Billy. Kisah ini menyentuh hati banyak orang, dan Billy menuai buah manis kebaikan hatinya. Uang yang terkumpul sejumlah sekitar Rp 1,2 miliar diserahkan untuk Billy.

***

Tentunya masih ada banyak lagi kisah kebaikan didunia ini, itu hanyalah sebagian kecil kisah, Semoga kisah-kisah ini menjadi inspirasi bagi kita semua. Sedikit kebaikan, sekecil apapun, akan meninggalkan bekas yang manis. Baik untuk Anda, maupun orang yang Anda bantu.

source : vemale.com

Indah Ditempuh, Jika Bisa Menikmatinya

Apa yang Anda rasakan jika rutinitas Anda yang nyaman tiba-tiba terganggu oleh sesuatu yang tidak Anda harapkan? Biasanya kesal sekali kan. Semakin besar gangguannya, semakin kesal kita rasanya. Dan karena kesal itu, sesuatu yang biasanya kita jalani biasa-biasa saja menjadi sangat menyebalkan. Mood kita tiba-tiba saja hilang. Seolah-olah, sesuatu telah direnggut dari tangan kita. Padahal kenyataannya, kekesalan yang kita umbar itu sama sekali tidak menjadikan keadaan lebih baik kan? Bahkan sebaliknya, malah membuat efeknya menjadi lebih menyakitkan. Kalau sudah demikian, mana mungkin kita bisa menikmatinya kan?

Ada sebuah jalur yang biasa saya tempuh. Meski dijalan itu ada lubang disana-sini. Ketika malam itu saya kembali melintas disitu, ada sekelompok pekerja sedang memasang papan-papan yang membagi jalan menjadi dua bagian. ‘Wah, akan dicor nih.’ Begitu saya berpikir. Besok saya harus berangkat lebih pagi untuk mengurangi dampak macetnya. Dan benar saja. Pagi-pagi sekali jalanan sudah macet. Dua mobil molen sedang mengucurkan adukan semen diruas jalan itu. Saya sudah paham sejak semalam sehingga meski macetnya tidak kepalang tanggung, tidak terlalu tertarik untuk menggerutu.

Segala sesuatunya menjadi terasa lebih ringan jika kita tahu atau paham terlebih dahulu. Coba saja perhatikan bahwa kekesalan-kekesalan Anda terhadap orang lain atau situasi tertentu lebih banyak timbul karena Anda tidak memahami situasinya. Begitu paham, Anda langsung bilang begini;”Oooh, jadi begitu toh ceritanya. Lain kali ngomong dong, jangan diam begitu. Saya kan nggak ngerti kalau kamu nggak ngomong….” Setelah bilang begitu, Anda memahami dan memakluminya. Dan Anda pun tak kesal lagi. Pelajaran pertama; “Pahamilah situasinya, maka kita tidak tertarik lagi untuk mengeluhkannya.”

Orang-orang yang tidak tahu apa yang sedang terjadi didepan pada bertanya;”Ada apa sih Mas, kok macet banget?” Menurut Anda, bagus nggak jika orang bertanya begitu? Bergantung. Saya perhatikan, ada 2 jenis orang yang menggunakan kalimat itu. Pertama, orang yang bertanya untuk sekedar melampiaskan kekesalan. Sebenarnya orang ini nggak butuh jawaban. Daripada mingkem, dia memilih bicara saja. Kedua, orang yang bertanya karena benar-benar ingin tahu ada apa didepan sehingga macetnya sedemikian berat.

Dikantor-kantor juga banyak kan orang yang bicara. Sepertinya mereka bertanya. Padahal sebenarnya mereka mempertanyakan. Orang yang bertanya itu jelas butuh jawaban. Sedangkan orang yang mempertanyakan mengharapkan agar orang yang ditanya atau pihak yang disindirnya melakukan apa yang dia inginkan. Hati-hati jika Anda punya sifat ‘mempertanyakan’. Karena sifat itu tidak membuat kita lebih tercerahkan. Kita nggak bakal jadi lebih pintar dengan sikap mempertanyakan itu, karena sikap mempertanyakan bukan datang dari rasa ingin tahu. Melainkan dari penyangkalan terhadap sesuatu. Pelajaran kedua; “Bertanyalah untuk mendapatkan jawaban, bukan untuk mempertanyakan suatu keadaan.”

Selagi mengantri panjang itu, seorang pengendara mobil persis dibelakang saya membunyikan klakson. Pertama cuman sekali. ‘Tin’ begitu bunyinya. Berikutnya bunyinya sudah menjadi dua kali, ‘tintin’. Lalu dibunyikannya lagi klaksonnya. “Tin Tin Tiiiiiiiiiiiiiin!” Nah, sekarang orang itu sudah emosi. Menurut pendapat Anda, bagaimana tanggapan para pengendara lain yang mendengar klakson kekesalan itu?

Anda keliru jika mengira pengendara lain akan ikut-ikutan memencet klakson. Itu para pengemudi motor pada nyereng. Tahu kenapa? Karena ulah tukang klakson itu menyakiti telinga mereka. Dia sih enak, ada didalam mobil sehingga nggak panas kuping oleh bunyi klaksonnya. Orang yang diluar? Perhatikan ketika kita sedang menghadapi situasi buruk. Lalu kita uring-uringan. Maksud kita sih protes pada pengambil keputusan. Tapi ternyata tindakan kita itu berdampak buruk kepada orang lain. Pelajaran ketiga;”Ulah menyebalkan yang kita lakukan, tidak mengundang simpati orang lain.”

Beberapa pengendara mulai memutar arah. Mereka balik lagi meskipun sudah cukup banyak waktu dan bensin yang terbuang. Beberapa diantaranya membuka pintu jendela. Mengacungkan jempol untuk meminta jalan kepada pengendara lain. Setelah itu mereka melemparkan senyum. Pengendara lain yang memberi ruang untuk berputar itu pun tersenyum. Atau mengangkat tangan tanda tabik. Atau sekedar, menganggukkan kepala. Atau minimal, mereka merasa senang karena antrian menjadi berkurang.

Perhatikanlah bahwa tidak ada orang lain yang memaksa kita untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Kita merdeka untuk mengambil pilihan. Tetapi ketika pilihan itu dilakukan dengan penuh simpatik, orang lain membalas kita dengan respek. Banyak orang yang berputar sambil bersungut-sungut. Meski pengendara dibelakangnya senang karena antrian berkurang, tak seorang pun berselera melihat raut wajahnya yang bikin enek. Beda dengan orang yang mengacungkan jempol. Lalu memutar balik sambil tetap menjaga pembawaan dirinya tetap baik. Orang menaruh hormat kepadanya, bukan karena mengurangi antrian. Melainkan karena sikapnya telah ikut menyejukkan keadaan. Pelajaran keempat; “Jika mesti mengambil jalan yang berlawanan, lakukanlah dengan sikap yang tetap elegan.”

Setelah sekitar 20 menit mengantri. Kini tiba giliran saya. Ruas jalan yang mengalami perbaikan itu kira-kira sepanjang 100 meteran. Selain menyempit. Jalanan pun dihiasi dengan batang-batang besi yang mencuat. Namun semua orang yang melintas dijalan itu sekarang merasa lega. Karena sebentar lagi akan terbebas dari kemacetan yang menyiksa. Dan benar. Selepas ruas yang diperbaiki itu, jalanan kosong melompong. Tak ada penghalang apapun. Pelajaran kelima;”Keindahan yang sesungguhnya tidak terletak diawal. Melainkan di bagian akhir perjuangan kita.”

Perhatikanlah. Disetiap ujung perjuangan kita, selalu ada keindahan. Meski sulit menempuhnya, namun ada hadiah yang menyenangkan diakhirnya. Kita boleh saja berputar balik, jika yakin akan keindahan lain yang sepadan dengan yang kita tinggalkan. Dan kita juga boleh untuk terus konsisten dengan jalur yang sudah kita tempuh. Tidak jadi soal mana saja pilihan yang kita ambil. Selama kita bisa menikmati pilihan itu, maka kita bisa menjalaninya dengan indah. Persis seperti yang Tuhan firmankan dalam surah 94 (Al-Insyirah) ayat 5; “Maka sesungguhnya, dalam setiap kesulitan itu terdapat kemudahan.” Lalu diulangiNya sekali lagi firman itu dalam ayat ke-6; “Sesungguhnya dalam setiap kesulitan itu terdapat kemudahan….”

Jika dalam setiap kesulitan yang kita hadapi ada kemudahan, apa yang perlu kita lakukan sahabat? Menemukan kemudahan itu ya? Keadaan ini mungkin sangat sulit. Tapi dalam kesulitan itu ada kemudahan. Dimana letak kemudahan itu jika demikian? Sederhana saja sahabat. Kemudahan itu ada pada kesediaan kita untuk menikmati perjalanan sulit itu. Tanpa menggerutu. Tanpa mengumpat. Tanpa mengusik kepentingan orang lain. Maka mari kita nikmati kesulitan yang tengah kita hadapi ini dengan penerimaan yang tulus, dan sikap yang tetap baik. Sehingga hati, jiwa dan emosi kita tetap terjaga baik. Meski secara fisik kita tengah menjalani tantangan yang sulit. Insya Allah, kesulitan ini akan indah untuk ditempuh. Selama kita menikmatinya dengan penerimaan yang utuh.

Catatan Kaki:
Keadaan ini mungkin memang sulit. Akan semakin sulit lagi jika kita membiarkan dorongan-dorngan negatif mendominasi perasaan kita. Dan akan menjadi terasa lebih ringan, jika jiwa tetap tenang dalam menghadapinya. Sehingga kita, akan menemukan rasa nikmatnya.


DEKA – Dadang Kadarusman – 1 Oktober 2013
Author, Trainer, and Professional Public Speaker

Biar Dulu Kini Dan Nanti Tetep Asyik

“Segala sesuatu baik-baik saja…” kita selalu merasa demikian kan ketika berada pada situasi tanpa riak gelombang yang menyebalkan. Ya, saat ini sih semua baik-baik saja. Tapi apakah akan selamanya baik-baik saja? Nggak ada yang tahu. Klaim kita itu terikat pada sebuah kata kunci, yaitu; ‘sekarang’. Nanti? Yo, emboh. Makanya, apa yang saat kita kita anggap cukup, belum tentu akan tetap cukup nanti. Ilmu kita. Kemampuan kita. Keterampilan kita. Kegigihan kita. Sekarang cukup. Tapi bagaimana dengan tuntutan situasi dimasa yang akan datang?

Nenek kami tinggal di salah satu komplek pemukiman. Ketika komplek itu dibangun beberapa puluh tahun yang lalu, suasananya enak sekali. Jalanan di depan rumah lebar dan bagus. Maklum, rumah itu ada di jalur utama keluar masuk kendaraan. Saluran air tertata rapi. Saat itu, kami merasa semuanya baik-baik saja. Lama kelamaan jalan itu mulai rusak. Bolong disana sini seiring dengan meningkatkan arus lalu lintas. Apalagi sekarang komplek semakin diperluas kebelekang. Sehingga kendaraan semakin banyak yang lewat.

Ditambal pun hanya bisa tahan sebentar. Setelah itu, bolong lagi menyisakan lubang kubangan di musim hujan, dan menerbangkan debu dimusim kemarau. Apa yang dulu baik-baik saja, sekarang sudah tidak lagi.
Perhatikanlah perjalanan karir Anda. Adakah hal-hal yang dulu Anda rasakan baik-baik saja namun sekarang sudah tidak lagi? Saya? Iya. Misalnya ketika menjual produk yang hanya satu-satunya dipasaran. Maklum, perusahaan tempat saya bekerja dulu sangat kuat risetnya. Namanya nggak ada competitor, ya pelanggan mau tidak mau beli-beli juga. Bekerja dengan standar waktu itu sudah oke banget salesnya. Tapi ketika perusahaan lain menemukan produk substitusi, nah. Mateng deh. Cara kerja kemarin itu, sudah nggak bisa diandalkan lagi.

Baru-baru ini, jalan didepan rumah nenek dicor hingga 20 senti. Tidak ada yang berubah dengan rumah yang nenek tinggali. Tetapi, segala sesuatu yang ada disekitarnyalah yang berubah. Seperti kita dikantor juga begitu. Kita memang tidak mengurangi kualitas pekerjaan dan cara kita bekerja pun tetap dijaga seperti dulu. Tetapi, lingkungan kerja kita berubah. Mungkin iklim usaha juga berubah. Persaingan berubah. Segala sesuatunya disekitar kita sudah berubah. Inilah yang menyebabkan apa yang kita lakukan dengan baik seperti dulu itu tidak lagi cukup baik dimasa mendatang. Jangankan masa mendatang, sekarang pun sudah kerasa gejala-gejalanya kan?

Sekarang jalan didepan rumah nenek sudah bagus dan tidak ada lagi yang bolong-bolong. Kami semuanya senang. Tapi. Ada tapinya. Sekarang letak jalan itu lebih tinggi dari halaman rumah nenek. Walhasil, air hujan dari jalan tumpah menyerbu rumah. Nah loh. Kondisinya sudah berbalik 180 derajat. Sebelumnya, hal itu tidak pernah terjadi. Karena posisi halaman dan rumah nenek lebih tinggi dari jalan itu. Namun sejak dicor, badan jalan naik sehingga ketinggiannya melampaui halaman rumah.

Sama seperti kondisi kita dikantor. Kita sudah baik. Dan kita tetap baik. Tidak masalah apa-apa dengan kita. Karena kita memang orang baik. Tetapi, tuntutan kerja di perusahaan kita mungkin berubah. Standar-standarnya mungkin berubah. Pola kerjanya yang mungkin berubah. Atau apa saja, sehingga kualifikasi yang dibutuhkannya sekarang sudah naik sedemikian tinggi sehingga melampaui standar kualitas dan kebaikan-kebaikan pribadi yang kita miliki. Itulah yang menjadi penyebab, mengapa dengan tetap mempertahankan kualitas pribadi yang sudah baik itu kita masih bisa kebanting oleh keadaan.

Bukan rumah nenek kami yang mblesek ke posisi yang lebih rendah. Bukan kualitas pribadi kita yang menurun. Rumah nenek tetap setinggi sebelumnya. Kualitas pribadi kita tetap sebaik sebelumnya. Tapi jalan didepan rumah nenek itu naik. Dan tuntutan lingkungan kerja kita itu naik. Sehingga sekarang halaman rumah nenek yang sudah tinggi itu tidak cukup tinggi untuk mengimbangi tinggi jalan yang baru. Sehingga sekarang kualitas pribadi kita yang sudah baik itu tidak cukup baik untuk mengimbangi tuntutan dunia kerja yang baru.
Bukan rumah nenek yang salah. Bukan kualitas dan kemampuan kita ini yang salah. Rumah nenek sudah baik kok. Kita juga sudah baik kok. Masalah muncul ketika lingkungan kita berubah, sedangkan kita tidak ikut berubah. Kami boleh saja tidak peduli dengan kenyataan bahwa jalan sudah menjadi lebih tinggi dari halaman rumah. Resikonya ya paling kalau hujan, air akan membanjiri halaman lalu masuk kedalam rumah. Kita juga boleh saja tidak peduli dengan tuntutan kerja yang sudah menjadi lebih tinggi dari kemampuan dan kerampilan yang kita miliki. Resikonya, ya paling kita akan kalang kabut dengan pekerjaan dan penugasan yang kita sudah tidak sanggup lagi menanganinya.

Om kami kemudian mengusulkan untuk mencari solusinya. Ada beberapa alternatif yang bisa diambil. Salah satunya antara lain adalah meninggikan letak halaman rumah nenek kami sehingga kembali berada di atas badan jalan. Logis sekali. Jika letak halaman sudah kembali lebih tinggi dari jalan, maka air yang yang tertumpah dari jalan itu masih bisa dibendung dengan baik. Mungkin sama logisnya jika kita menaikkan lagi standar kualitas pribadi kita. Menaikkan kualitas kerja kita. Menaikkan keterampilan kita. Menaikkan kemampuan yang selama ini kita miliki hingga kembali berada diatas tuntutan pekerjaan yang baru itu. Maka bertambahnya tuntutan pekerjaan itu akan selalu bisa kita hadapi dengan baik.

“Atuh cape banget Kang Dadang kalau kita mesti reaktif seperti itu mah! Masa setiap kali tuntutan kerja bertambah kita mesti naikin kualitas pribadi kita terus menerus. Memangnya umur kita ini hanya untuk ngikutin keinginan perusahaan?” Boleh jika Anda berpikir demikian. Memang cape kok kalau hanya mengikuti pergerakan perusahaan. Kita bisa terombang-ambing kesana kemari. Jadi gimana solusinya dong?
Begini. Anda, lupakan deh soal semakin bertambahnya tuntutan kerja. Pekerjaan mau tambah susah. Kompetisi mau semakin sengit. Lupakan semua itu. Lalu fokuslah kepada usaha Anda untuk terus dan terus dan teruuuuussss untuk mengasah diri. Bukan karena dipaksa oleh keadaan. Melainkan karena Anda menyukai dan menikmati proses untuk terus bertumbuh dan berkembang. Nggak berhenti berkembang meskipun lingkungan kerja Anda nggak berubah. Nggak putus bertumbuh meski pekerjaan kita nggak menuntut lebih banyak dari biasanya. Teruslah bertumbuh. Maka, Anda tidak akan diombang-ambing oleh keadaan.

Selain bisa menikmati prosesnya, Anda juga selalu bisa mengatasi semua tantangannya dengan ringan. Dan Anda, sekarang menjadi tuan bagi karir Anda sendiri. Bukan lagi seperti budak yang didikte oleh situasi. Kalau kita sudah menjadi tuannya, pastinya kita akan dengan senang hati menjalaninya kan? Beda banget dengan keadaan ketika kita masih diperbudak oleh tuntutan yang semakin bertambah itu. Memang kita mesti begitu jika kepengen tetep asyik. Bagaimanapun situasinya, Anda akan asyik-asyik aja kaleeee.

Bukan Anda yang berkembang karena keadaaan yang memaksa. Melainkan lingkungan kerja Andalah yang akan berkembang karena Anda yang membawanya ke tingkatan yang lebih tinggi. Dan sahabatku – jika bisa demikian – maka Anda adalah leader de facto di perusahaan itu. Entah Anda punya jabatan disana, atau tidak. Kepada orang seperti Andalah masa depan sebuah perusahaan layak untuk dipercayakan. Dan karenanya pula, sekarang Anda benar-benar menjadi asset penting bagi perusahaan. Sehingga layak mendapatkan penghargaan yang lebih tinggi dibandingkan kebanyakan karyawan lainnya. Insya Allah. Aamiin….

Catatan Kaki:
Buat orang-orang yang secara konsisten mengembangkan diri, nggak ada kekhawatiran jika suatu saat pekerjaannya menuntut lebih banyak. Atau persaingannya semakin rumit dan bertambah sengit. Soalnya, ilmu dan kemampuan mereka sudah lebih dahulu melampaui semua tuntutan itu.


DEKA – Dadang Kadarusman – 30 September 2013
Author, Trainer, and Professional Public Speaker